- Para seniman Sumatera Selatan dan Jambi menyuarakan kritik terhadap kebakaran hutan melalui karya seni.
- Karya seni tersebut dipamerkan di ruang publik untuk menggambarkan dampak buruk pencemaran udara lingkungan masyarakat.
- Pada Minggu (11/10/2026), kualitas udara Palembang mencapai tingkat berbahaya akibat konsentrasi PM2.5 yang tinggi.
SuaraSumsel.id - Ketika kabut asap menyelimuti Sumatera Selatan dan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) terus menjadi persoalan, seniman memilih cara berbeda untuk menyuarakan keresahan. Melalui fotografi, lukisan, hingga simbol budaya, mereka menggambarkan kerusakan lingkungan yang mengancam kesehatan masyarakat sekaligus meninggalkan pertanyaan tentang masa depan.
Salah satu karya yang menarik perhatian memadukan tari Tanggai, seni tradisional Palembang yang identik dengan penyambutan tamu, dengan kritik terhadap pembakaran hutan dan lahan. Dalam karya satir tersebut, simbol keramahan budaya justru dihadapkan pada persoalan ekologis yang menyisakan asap, kerusakan hutan, dan penderitaan warga.
Karya itu menghadirkan pesan yang berlawanan dengan makna penyambutan dalam tradisi Tanggai. Di tengah krisis karhutla, tidak ada kemeriahan yang pantas dirayakan ketika masyarakat masih harus menghirup udara tercemar dan menghadapi dampak kebakaran.
Kritik tersebut disampaikan melalui rangkaian puisi yang menyoroti kuasa, ekspansi lahan korporasi, dan kerusakan lingkungan. Asap digambarkan bukan sekadar gangguan jarak pandang, melainkan ancaman yang membuat warga sesak dan kehilangan rasa aman.
Karya ini diinisiasi bersama sejumlah pihak, sebagai bagian dari upaya menyuarakan persoalan lingkungan melalui medium seni.
Perempuan bermasker di tengah hutan terbakar
Kritik terhadap karhutla juga disampaikan seniman asal Jambi, Ichalago Chaniago, melalui karya fotografi yang menampilkan perempuan mengenakan busana adat Jambi dan masker di tengah lanskap hutan yang hangus terbakar.
Perpaduan busana tradisional dan masker menghadirkan kontras yang kuat. Busana adat merepresentasikan identitas budaya, sedangkan masker menjadi simbol kehidupan masyarakat yang harus beradaptasi dengan udara tercemar.
Lanskap hutan yang terbakar mempertegas pesan tersebut. Kerusakan lingkungan tidak hanya menghilangkan tutupan vegetasi, tetapi juga menghadirkan ancaman terhadap kehidupan masyarakat yang tinggal di sekitarnya.
Baca Juga: Sumsel United Hajar Persiku 5-1, M Nasuha Justru Soroti Kekurangan Tim
Melalui karya itu, Ichalago menggambarkan keresahan warga yang harus menjalani aktivitas sehari-hari di tengah kabut asap. Situasi tersebut memperlihatkan bagaimana krisis lingkungan dapat menyentuh berbagai aspek kehidupan, mulai dari kesehatan hingga ruang sosial dan kebudayaan.
Fotografi menjadi medium untuk membawa persoalan yang sering disampaikan melalui angka dan laporan ke dalam gambaran visual yang lebih dekat dengan pengalaman manusia.
Lukisan Presiden 2045 dipasang di 10 titik ruang publik
Sementara itu, seniman Palembang, Pebri Yansyah, menyampaikan kritik melalui lukisan bertajuk Presiden 2045. Karya yang dibuat pada 2023 tersebut menampilkan sosok menyerupai presiden mengenakan jas dan masker.
Lukisan itu dipasang di 10 titik ruang publik. Kehadirannya membawa refleksi mengenai kebijakan publik, kerusakan ekologis, dan masa depan yang akan dihadapi masyarakat.
Masker dalam lukisan tersebut menjadi simbol yang menghubungkan persoalan lingkungan hari ini dengan bayangan masa depan. Ketika polusi udara masih menjadi ancaman, pertanyaan mengenai kualitas lingkungan pada 2045 menjadi semakin relevan.
Tag
Berita Terkait
-
Sumsel United Hajar Persiku 5-1, M Nasuha Justru Soroti Kekurangan Tim
-
Kabut Asap Palembang Belum Mereda, PM2.5 Tembus 497,9 dan Udara Berbahaya
-
Kabut Asap Sumsel Ganggu Penerbangan, Jarak Pandang Bandara Palembang 500 Meter
-
POSPERA Sumsel Dukung Kapolda Baru Sikat Oligarki Karhutla, Desak Prabowo Tata Ulang HGU
-
Kabut Asap Kepung Palembang: Jarak Pandang Sisa 500 Meter, 15 Penerbangan Lumpuh
Terpopuler
- Survei: 55 Persen Pemilih Prabowo Tidak Akan Memilihnya Kembali pada Pilpres 2029
- Selundupkan 1.689 Burung Liar ke Jakarta, Bus Sinar Jaya Dicegat di Pelabuhan Bakauheni
- KPU Bisa Tindaklanjuti Putusan MK dengan Menyatakan Syarat Pendidikan Gibran di Pilpres 2024 Tak Sah
- Rekonsiliasi Politik, Anies Baswedan Jadi Menteri Prabowo?
- Pelembap Viva Hijau vs Kuning, Apa Bedanya? Ini Manfaat Keduanya untuk Wajah
Pilihan
-
Inilah 5 Menteri yang Kinerjanya Paling Buruk Menurut Survei CELIOS
-
Polri Gerebek Sarang Narkoba Kampung Boncos dan Ambon! Operasi Masih Berlangsung
-
Prabowo Mau Ganti Panglima TNI dan Jaksa Agung Pekan Ini, Tapi...
-
Polisi Dalami Dugaan Pemalsuan Suket Pendidikan Gibran
-
PDI Perjuangan: Gibran Lebih Baik Mundur dari Wapres
Terkini
-
Dari Tari Tanggai hingga Lukisan Presiden 2045, Seniman Suarakan Kritik Karhutla
-
Niat Menolong Rekan, Dua Penggali Sumur di Muara Enim Tewas Diduga Terpapar Gas Beracun
-
Dugaan Perundungan di Asrama Telkom University Viral, 2 Mahasiswa Dijatuhi Sanksi
-
Sumsel United Hajar Persiku 5-1, M Nasuha Justru Soroti Kekurangan Tim
-
Kebakaran di Bangka Selatan, 600 Rumah Terdampak dan 2.400 Warga Jadi Korban