- Para seniman Sumatera Selatan dan Jambi menyuarakan kritik terhadap kebakaran hutan melalui karya seni.
- Karya seni tersebut dipamerkan di ruang publik untuk menggambarkan dampak buruk pencemaran udara lingkungan masyarakat.
- Pada Minggu (11/10/2026), kualitas udara Palembang mencapai tingkat berbahaya akibat konsentrasi PM2.5 yang tinggi.
Pebri berharap karyanya dapat mendorong kesadaran masyarakat agar bencana asap tidak terus berulang. Melalui ruang publik, pesan tersebut diharapkan menjangkau orang-orang yang mungkin tidak mengikuti diskusi lingkungan, tetapi merasakan langsung dampak kabut asap.
Karya seni dengan demikian tidak hanya berfungsi sebagai ekspresi estetik. Ia juga menjadi medium untuk menyampaikan kritik, membuka percakapan, dan mengingatkan masyarakat tentang persoalan yang belum terselesaikan.
Kritik para seniman muncul ketika persoalan kualitas udara masih menjadi perhatian di Sumatera Selatan.
Pada Minggu (11/10/2026), konsentrasi PM2.5 di sejumlah stasiun pemantauan Palembang dilaporkan mencapai 497,9 mikrogram per meter kubik. Angka tersebut masuk kategori berbahaya dan menunjukkan tingginya konsentrasi partikel halus di lokasi serta waktu pengukuran tersebut.
PM2.5 merupakan partikel polutan berukuran sangat kecil yang dapat masuk jauh ke dalam sistem pernapasan. Paparan dalam konsentrasi tinggi berisiko menimbulkan gangguan kesehatan, terutama bagi kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, serta orang dengan penyakit pernapasan dan jantung.
Karena itu, kabut asap tidak cukup dipandang sebagai persoalan lingkungan yang mengganggu aktivitas sementara. Kualitas udara berkaitan langsung dengan kesehatan masyarakat dan hak warga untuk memperoleh lingkungan yang aman.
Meski demikian, angka pengukuran pada stasiun dan waktu tertentu tidak otomatis menggambarkan kondisi seluruh wilayah Palembang sepanjang hari. Data kualitas udara perlu dibaca dengan memperhatikan lokasi, waktu, dan sumber pemantauannya.
Ketika seni menjadi suara bagi lingkungan
Fotografi perempuan bermasker, lukisan Presiden 2045, hingga satire yang memadukan tari Tanggai memperlihatkan cara seniman menerjemahkan krisis lingkungan ke dalam bahasa visual dan budaya.
Baca Juga: Sumsel United Hajar Persiku 5-1, M Nasuha Justru Soroti Kekurangan Tim
Masing-masing karya membawa pendekatan berbeda, tetapi bertemu pada satu persoalan: karhutla bukan hanya tentang hutan yang terbakar. Dampaknya merambat ke kesehatan, kehidupan sosial, identitas budaya, dan masa depan masyarakat.
Ketika kabut asap membuat warga kesulitan bernapas, seni menghadirkan ruang untuk menyampaikan keresahan yang tidak selalu tertampung dalam angka statistik. Karya-karya tersebut juga mengingatkan bahwa persoalan lingkungan membutuhkan perhatian lebih dari sekadar respons saat kebakaran terjadi.
Di tengah krisis yang berulang, kritik melalui seni menjadi pengingat bahwa masyarakat tidak hanya membutuhkan udara bersih hari ini. Mereka juga membutuhkan kepastian bahwa kerusakan serupa tidak terus diwariskan kepada generasi berikutnya.
Tag
Berita Terkait
-
Sumsel United Hajar Persiku 5-1, M Nasuha Justru Soroti Kekurangan Tim
-
Kabut Asap Palembang Belum Mereda, PM2.5 Tembus 497,9 dan Udara Berbahaya
-
Kabut Asap Sumsel Ganggu Penerbangan, Jarak Pandang Bandara Palembang 500 Meter
-
POSPERA Sumsel Dukung Kapolda Baru Sikat Oligarki Karhutla, Desak Prabowo Tata Ulang HGU
-
Kabut Asap Kepung Palembang: Jarak Pandang Sisa 500 Meter, 15 Penerbangan Lumpuh
Terpopuler
- Survei: 55 Persen Pemilih Prabowo Tidak Akan Memilihnya Kembali pada Pilpres 2029
- Selundupkan 1.689 Burung Liar ke Jakarta, Bus Sinar Jaya Dicegat di Pelabuhan Bakauheni
- KPU Bisa Tindaklanjuti Putusan MK dengan Menyatakan Syarat Pendidikan Gibran di Pilpres 2024 Tak Sah
- Rekonsiliasi Politik, Anies Baswedan Jadi Menteri Prabowo?
- Pelembap Viva Hijau vs Kuning, Apa Bedanya? Ini Manfaat Keduanya untuk Wajah
Pilihan
-
Inilah 5 Menteri yang Kinerjanya Paling Buruk Menurut Survei CELIOS
-
Polri Gerebek Sarang Narkoba Kampung Boncos dan Ambon! Operasi Masih Berlangsung
-
Prabowo Mau Ganti Panglima TNI dan Jaksa Agung Pekan Ini, Tapi...
-
Polisi Dalami Dugaan Pemalsuan Suket Pendidikan Gibran
-
PDI Perjuangan: Gibran Lebih Baik Mundur dari Wapres
Terkini
-
ISPA di Sumsel Tembus 52.483 Kasus, September Jadi yang Terburuk dan Kian Mengkhawatirkan
-
Indeks Udara Palembang Masih Berbahaya, Ribuan Titik Panas Masih Terdeteksi di Sumsel
-
8 Anak Diduga Jadi Korban Pembina Pramuka di Palembang, Kasus Terungkap Setelah 5 Tahun
-
Ratu Dewa Bilang Enjoy saat Kabut Asap, Publik Bandingkan dengan Sikap Leonardo DiCaprio
-
Dari Tari Tanggai hingga Lukisan Presiden 2045, Seniman Suarakan Kritik Karhutla