- BMKG mendeteksi 3.734 titik panas di Sumatera hingga Rabu (30/9/2026), dengan Sumatera Selatan terbanyak sejumlah 2.639 titik.
- Ribuan titik panas tersebut merupakan indikator anomali suhu dari satelit dan belum tentu otomatis menjadi lokasi kebakaran.
- Dampak asap kebakaran meluas lintas wilayah hingga Riau, menyebabkan udara kabur serta menurunkan jarak pandang masyarakat.
Dalam beberapa pekan terakhir, Sumsel berulang kali muncul sebagai wilayah dengan jumlah hotspot tinggi.
Pada 20 September, misalnya, Kementerian Kehutanan mencatat 285 hotspot high confidence di Sumsel. Saat itu Sumsel menjadi salah satu wilayah prioritas pengendalian karhutla karena peningkatan aktivitas panas.
Sebelumnya, pada 23 September, BMKG Pekanbaru juga mencatat 459 hotspot di Sumsel dari total 813 hotspot di Sumatera. Hotspot di Sumsel telah berulang kali berada pada level tinggi sepanjang September.
Asap Tidak Mengenal Batas Administrasi
Dampak karhutla juga tidak berhenti di wilayah tempat titik panas terdeteksi. Pada Rabu (30/9), BMKG mencatat kondisi udara di sejumlah wilayah Riau berpotensi kabur akibat asap. Jarak pandang di Pekanbaru tercatat sekitar 3 kilometer, sedangkan Rengat dan Pelalawan sekitar 5 kilometer dengan kondisi disertai asap.
Kepala Daops Manggala Agni Sumatera VI/Siak Ihsan Abdillah mengatakan sejumlah personel bahkan diperbantukan untuk menangani karhutla di Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), Sumsel.
Kondisi di lokasi disebut cukup serius dengan kepulan asap tebal dan area terdampak yang meluas. Pergerakan asap juga dipengaruhi arah angin.
Dalam kondisi tertentu, asap dari wilayah yang terbakar dapat bergerak melintasi kabupaten bahkan provinsi. Karena itu, jumlah hotspot di satu wilayah pada akhirnya dapat menjadi persoalan bagi daerah lain.
Dari Sumsel, Asap Bergerak ke Mana?
Baca Juga: 16 Korporasi Disidik Kasus Karhutla Sumsel, Mengapa Identitasnya Belum Dibuka ke Publik?
Data BMKG menunjukkan pada Rabu pagi asap terdeteksi di sejumlah wilayah Sumatera, termasuk Sumsel, Jambi, Riau, Kepulauan Riau, Sumatera Barat, Bengkulu dan Bangka Belitung. Di Riau, arah pergerakan angin membuat masyarakat kembali menghadapi potensi udara kabur dan penurunan jarak pandang.
Kondisi ini menjelaskan mengapa persoalan karhutla tidak cukup dibaca dari jumlah titik panas di satu provinsi. Hotspot bisa meningkat tanpa seluruhnya menjadi kebakaran besar. Sebaliknya, satu kawasan kebakaran dapat menghasilkan dampak asap yang luas meskipun jumlah hotspotnya tidak terlihat ekstrem.
Bagi pemerintah, angka 2.639 menjadi dasar untuk meningkatkan pemantauan dan menentukan lokasi yang perlu diverifikasi. Bagi masyarakat, persoalannya berbeda.
Yang dirasakan bukan angka di peta satelit, melainkan udara yang berubah, jarak pandang yang menurun, aktivitas yang terganggu, hingga risiko kesehatan akibat paparan asap.
Karena itu, setelah angka 2.639 muncul, ada pertanyaan yang lebih penting:
Tag
Berita Terkait
-
16 Korporasi Disidik Kasus Karhutla Sumsel, Mengapa Identitasnya Belum Dibuka ke Publik?
-
Bank Sumsel Babel Perkuat Kepedulian Kesehatan Lewat CSR Operasi Mata
-
Banpres Karhutla Rp100 Miliar Sudah Turun, Apa yang Sudah Berubah di Sumsel?
-
Kabut Asap Mengepung Sungai Musi, Mereka Tetap Bekerja demi Penghasilan
-
Hotspot Sumsel Turun 63 Persen, Mengapa Asap Palembang Masih Pekat?
Terpopuler
- Sosok Arnold Aristoteles, Mantan Jenderal yang Dimarahi Menteri PU Dody Hanggodo
- Apakah Kulkas Harus Dimatikan saat Membersihkan Bunga Es? Begini Cara yang Benar
- 5482 Korban Keracunan MBG, Viral Ucapan Wapres Gibran: Bawa Bekal dari Rumah, MBG Jangan Dimakan
- 12 Pilihan Mesin Cuci Langsung Kering Tanpa Jemur
- Angka Hoki Shio untuk Menarik Rezeki dan Keberuntungan Finansial
Pilihan
-
Masinis Argo Bromo Anggrek Jadi Tersangka Kecelakaan Kereta di Bekasi
-
Jejak Aparat pada Kematian Pedagang Cermin saat Demo 27 Agustus 2026
-
Hasil Rapat Haji di Istana, Masa Tunggu Jadi 14 Tahun
-
Hasil Investigasi di Lapas Cibinong: Kulkas Berisi Miras hingga Perabotan Mewah Milik Kasi Kamtib
-
Bayi Dua Hari Ditinggalkan dalam Kardus, Tangisnya Bongkar Misteri di Depan Rumah Warga
Terkini
-
Ruang Bersama Indonesia Pertama di Palembang, Kilang Plaju Dukung Pemberdayaan Masyarakat
-
Sumsel Dikepung 2.639 Titik Panas Hari Ini, Apa yang Sebenarnya Sedang Terjadi?
-
Harga Cabai Merah Palembang Rp70 Ribu per Kilogram, Stok Aman tapi Kenapa Tetap Mahal?
-
BRI dan GarudaMiles Tawarkan Ekstra 27.000 Miles Bagi Nasabah Infinite Prioritas
-
Kemarau Panjang, Air Bersih Siswa Sekolah Rakyat Empat Lawang Disuplai 2 Mobil Tangki