- Harga cabai merah keriting di pasar tradisional Palembang melonjak hingga Rp70.000 per kilogram akibat gagal panen petani daerah.
- Lonjakan harga tersebut menurunkan volume penjualan pedagang secara drastis serta memaksa konsumen mengurangi jumlah pembelian harian.
- Dinas Perdagangan Kota Palembang memperketat pengawasan pasar guna mencegah penimbunan barang dan spekulasi harga di tingkat pedagang.
Data monitoring Dinas Perdagangan OKI memberikan gambaran menarik. Pada 29 September 2026, harga cabai merah keriting di Pasar Kayuagung tercatat Rp48.000 per kilogram. Sehari sebelumnya Rp45.000. Pada awal September, harga komoditas yang sama di pasar tersebut bahkan sempat berada di kisaran Rp40.000–Rp45.000 per kilogram.
Sementara di Palembang, pedagang pada 30 September melaporkan harga cabai merah keriting mencapai Rp70.000 per kilogram.
Tentu, kedua angka tersebut tidak bisa dianggap sebagai selisih keuntungan pedagang karena merupakan harga pada pasar dan rantai transaksi yang berbeda.
Tetapi perbedaan itu menunjukkan ada ruang harga yang perlu dilihat lebih jauh: berapa biaya yang muncul sejak cabai keluar dari sentra produksi hingga berada di lapak pedagang Palembang?
Pertanyaan ini menjadi penting karena sebelumnya Ruzuan menyebut rantai distribusi cabai cukup panjang. Cabai melewati petani, pengepul, pasar induk dan pedagang sebelum sampai kepada konsumen.
Semakin panjang rantainya, semakin banyak titik transaksi yang berpotensi memengaruhi harga akhir.
Dari Rp45 Ribu Menjadi Rp70 Ribu
Bagi konsumen, perubahan tersebut cukup besar.Jika harga sebelumnya Rp45.000 per kilogram dan kini Rp70.000, maka kenaikannya mencapai sekitar 55,6 persen.
Untuk keluarga yang membeli satu kilogram, tambahan pengeluaran memang hanya Rp25.000. Tetapi bagi rumah tangga yang berbelanja banyak kebutuhan sekaligus, kenaikan berbagai komoditas pangan dapat membuat anggaran belanja semakin ketat.
Baca Juga: Pegawai SPPG Hendak Kerja Dini Hari, Dibegal di Jembatan Musi VI Palembang
Dampaknya bahkan merambat ke pedagang. Cabai adalah komoditas yang mudah rusak. Ketika harga tinggi membuat pembeli mengurangi belanja, pedagang tidak bisa begitu saja menambah stok karena ada risiko barang tidak habis dan kualitasnya menurun.
Tika di Pasar 10 Ulu sudah merasakan dampaknya. Penjualan yang sebelumnya mencapai 40–50 kilogram per hari kini tinggal sekitar 15 kilogram.
Jadi, harga mahal tidak otomatis membuat pedagang lebih untung. Jika volume penjualan jatuh terlalu dalam, omzet justru dapat ikut tertekan.
Kondisi inilah yang membuat Dinas Perdagangan Palembang meningkatkan monitoring pasar. Pengawasan ditujukan untuk memastikan tidak ada pedagang yang menaikkan harga secara sepihak atau menimbun barang ketika pasokan sedang terbatas. Pemerintah juga mengingatkan pedagang agar tidak memanfaatkan kondisi tersebut untuk mengambil keuntungan berlebihan.
Tetapi pengawasan harga di hilir hanya menyelesaikan sebagian persoalan. Jika produksi di sentra belum pulih dan pasokan dari luar daerah masih terbatas, tekanan harga dapat kembali muncul.
Karena itu, persoalan cabai Palembang sebenarnya berada di dua ujung sekaligus: petani membutuhkan produksi dan harga yang menguntungkan, sementara konsumen membutuhkan harga yang terjangkau.
Berita Terkait
-
Pegawai SPPG Hendak Kerja Dini Hari, Dibegal di Jembatan Musi VI Palembang
-
Kabut Asap Mengepung Sungai Musi, Mereka Tetap Bekerja demi Penghasilan
-
Hotspot Sumsel Turun 63 Persen, Mengapa Asap Palembang Masih Pekat?
-
Di Balik Parkir Liar Palembang: Ada Bos, Setoran, hingga Klaim Ormas Pernah Masuk
-
Spesial HUT ke-81 KAI, Pelanggan Cukup Bayar 81 Persen untuk Naik KA Sindang Marga
Terpopuler
- Sosok Arnold Aristoteles, Mantan Jenderal yang Dimarahi Menteri PU Dody Hanggodo
- Apakah Kulkas Harus Dimatikan saat Membersihkan Bunga Es? Begini Cara yang Benar
- 12 Pilihan Mesin Cuci Langsung Kering Tanpa Jemur
- Angka Hoki Shio untuk Menarik Rezeki dan Keberuntungan Finansial
- Timnas Indonesia vs Everbody: Panen Cibiran dari Negara Se-Asia Tenggara
Pilihan
-
Masinis Argo Bromo Anggrek Jadi Tersangka Kecelakaan Kereta di Bekasi
-
Jejak Aparat pada Kematian Pedagang Cermin saat Demo 27 Agustus 2026
-
Hasil Rapat Haji di Istana, Masa Tunggu Jadi 14 Tahun
-
Hasil Investigasi di Lapas Cibinong: Kulkas Berisi Miras hingga Perabotan Mewah Milik Kasi Kamtib
-
Bayi Dua Hari Ditinggalkan dalam Kardus, Tangisnya Bongkar Misteri di Depan Rumah Warga
Terkini
-
BRI dan GarudaMiles Tawarkan Ekstra 27.000 Miles Bagi Nasabah Infinite Prioritas
-
Kemarau Panjang, Air Bersih Siswa Sekolah Rakyat Empat Lawang Disuplai 2 Mobil Tangki
-
16 Korporasi Disidik Kasus Karhutla Sumsel, Mengapa Identitasnya Belum Dibuka ke Publik?
-
Bank Sumsel Babel Perkuat Kepedulian Kesehatan Lewat CSR Operasi Mata
-
Karhutla TNBS Jambi Tinggal 2 Kilometer dari Habitat Harimau, Api Belum Berhasil Dipadamkan