- PLTMH Pelakat berkapasitas 40 kilowatt pernah menerangi rumah warga sebelum listrik PLN masuk ke desa.
- Kini warga berharap turbin kembali berfungsi untuk mendukung Rumah Kopi dan menggerakkan ekonomi desa.
- Kawasan hutan desa seluas sekitar 1.900 hektare menjadi bagian penting dalam menjaga sumber air bagi PLTMH.
Rumah Kopi menjadi salah satu alasan warga berharap PLTMH kembali berfungsi. Bangunan tersebut merupakan aset desa yang digunakan untuk mengolah kopi robusta lokal. Selain tempat produksi, Rumah Kopi juga berfungsi sebagai rumah singgah. Di dalamnya terdapat mesin roasting dan penggiling kopi dengan kebutuhan daya cukup besar, sekitar 4.500 watt.
Ketika PLTMH masih beroperasi, energi dari turbin ikut menopang kegiatan produksi. Kini, keterbatasan daya membuat aktivitas pengolahan kopi tersendat.
Bagi masyarakat, menghidupkan kembali PLTMH berarti membuka kembali peluang untuk meningkatkan produksi dan mengembangkan kegiatan ekonomi desa.
Air yang dahulu digunakan untuk menerangi rumah warga kini diharapkan kembali mengambil peran, kali ini untuk menggerakkan mesin produksi.
Harapan tersebut tidak bisa dilepaskan dari kondisi sumber air. PLTMH hanya dapat bekerja jika aliran air yang menggerakkan turbin tetap tersedia.
Pelakat memiliki kawasan hutan desa sekitar 1.900 hektar yang ditetapkan melalui SK pada 22 Juni 2016.
Field Organizer Hutan Kita Institute (HaKI), Menik Setyowati mengatakan keberlanjutan energi berbasis air berkaitan dengan bagaimana masyarakat menjaga sumber daya alam di sekitarnya.
Di Pelakat, turbin membutuhkan air. Rumah Kopi membutuhkan listrik dan masyarakat membutuhkan keduanya untuk mengembangkan kegiatan ekonomi desa. Kawasan hutan desa menjadi bagian dari bentang alam yang perlu dijaga agar keanekaragaman hayati dan sumber air tetap tersedia.
Menghidupkan kembali PLTMH, dengan demikian, bukan semata memperbaiki turbin yang berhenti berputar. Ada harapan agar energi yang pernah menerangi rumah-rumah warga itu kembali memberi tenaga bagi usaha yang tumbuh dari desa.
Baca Juga: Karhutla Sumsel: 43 Orang Ditahan, 16 Korporasi Disidik, Tapi Hotspot Masih Muncul
Di Pelakat, air pernah membawa terang ke rumah-rumah. Kini masyarakat berharap aliran yang sama kembali menggerakkan kopi agar energi itu tetap tersedia, hutan dan sumber air yang menopangnya harus tetap dijaga.
Tag
Berita Terkait
-
Saat Air Menjadi Energi, Hutan Menjaga Nyala di Kawasan Panas Bumi Rantau Dedap
-
Kopi Semendo Mendadak Viral di Jakarta, Ini Alasan Banyak Orang Ketagihan
-
Masjid Agung Palembang Mulai Hasilkan Listrik Sendiri, Dampaknya Tak Sekadar Hemat Jutaan Rupiah
-
Dari Tanah Subur Sumsel, Kopi Robusta Siap Tembus Pasar Internasional
-
Cerita Haru di Balik Hadirnya PLTMH Pertamina di Muara Enim
Terpopuler
- 3 Moisturizer Kolagen untuk Kulit Keriput Usia 45 ke Atas, Bikin Wajah Kencang Sesuai Review
- Guruh Soekarnoputra Sakit Apa? Wafat di Usia 73 Tahun usai Dirawat Intensif
- Transjakarta Resmi Hapus 3 Rute Bus Penghubung Rusun, Warga Diminta Pakai Rute Alternatif
- 5 Novel Sejarah untuk Menelusuri Jejak G30S/PKI, Jangan Lupakan Masa Lalu!
Pilihan
-
Bayi Dua Hari Ditinggalkan dalam Kardus, Tangisnya Bongkar Misteri di Depan Rumah Warga
-
Tanpa Pengacara, WNI Didakwa Edarkan 25 Kg Heroin: Terancam Hukuman Mati di Malaysia
-
Dramatis! Ubed Persembahkan Medali Emas Asian Games 2026 untuk Indonesia
-
Massa Buruh Mulai Padati Thamrin, Andi Gani Pimpin Langsung Aksi Tuntut Keadilan RUU Ketenagakerjaan
-
Bawa Kentongan Hingga Kenakan Topi Caping, Massa Hari Tani Nasional Mulai Padati Depan Gedung DPR
Terkini
-
Ketika Turbin Kembali Diharapkan Berputar, Rumah Kopi Pelakat Menunggu Energi dari Air
-
Spesial HUT ke-81 KAI, Pelanggan Cukup Bayar 81 Persen untuk Naik KA Sindang Marga
-
Karhutla Sumsel: 43 Orang Ditahan, 16 Korporasi Disidik, Tapi Hotspot Masih Muncul
-
Banpres Karhutla Rp100 Miliar Sudah Turun, Kenapa Asap Masih Kepung Palembang?
-
Saat Air Menjadi Energi, Hutan Menjaga Nyala di Kawasan Panas Bumi Rantau Dedap