Tasmalinda
Senin, 17 Agustus 2026 | 19:24 WIB
antusias para peserta perahu bidar di Sungai Musi Palembang
Baca 10 detik
  • Ribuan warga memadati Kampung Kapitan, Palembang, untuk menyaksikan Festival Perahu Bidar pada Senin, 17 Agustus 2026.
  • Perpindahan lokasi dari Benteng Kuto Besak ke Kampung Kapitan dilakukan karena kawasan sebelumnya sedang menjalani perbaikan.
  • Antusiasme tinggi masyarakat terlihat dari warga yang rela berdesakan di dermaga dan perahu ketek.

SuaraSumsel.id - Festival Perahu Bidar dalam rangka peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia kembali membuktikan diri sebagai salah satu tradisi yang paling dinantikan masyarakat Palembang. Ribuan warga memadati tepian Sungai Musi, Senin (17/8/2026), untuk menyaksikan perlombaan perahu yang telah menjadi bagian dari identitas budaya Kota Pempek.

Sejak siang, kawasan Kampung Kapitan di 7 Ulu, Palembang, dipenuhi masyarakat dari berbagai daerah. Tidak hanya memenuhi area di sekitar lokasi perlombaan, warga juga memadati dermaga, menaiki perahu ketek, hingga berdiri berdesakan di atas jembatan demi mendapatkan posisi terbaik untuk menyaksikan jalannya perlombaan.

Yasmin, warga KM 12 Palembang, mengaku tetap datang meski harus menghadapi kemacetan akibat membludaknya jumlah pengunjung. Menurutnya, Festival Perahu Bidar merupakan tradisi yang selalu ditunggu setiap perayaan Hari Kemerdekaan.

"Biasanya di BKB, tempatnya lebih luas, tapi kita tetap datang karena kapan lagi nonton acara yang adanya setahun sekali ini," kata Yasmin.

Festival Perahu Bidar tahun ini memang menghadirkan suasana yang berbeda. Jika sebelumnya perlombaan selalu digelar di kawasan Pelataran Benteng Kuto Besak (BKB), tahun ini lokasi dipindahkan ke Kampung Kapitan karena kawasan BKB masih menjalani proses perbaikan.

Perubahan lokasi tersebut justru menghadirkan pengalaman baru bagi masyarakat. Kampung Kapitan yang berada di kawasan padat penduduk dan berdekatan dengan pasar tradisional mendadak berubah menjadi pusat keramaian.

Arus kendaraan di sekitar lokasi juga terlihat tersendat. Kendaraan roda dua dan roda empat tampak memenuhi ruas jalan menuju kawasan 7 Ulu.

Keterbatasan ruang tidak mengurangi antusiasme masyarakat. Sebagian warga memilih memadati Dermaga 7 Ulu, sementara yang lain memanfaatkan tepian sungai di sekitar panggung utama.

Pemandangan paling menarik terlihat di atas Sungai Musi. Puluhan perahu ketek dipenuhi penonton yang ingin menyaksikan perlombaan dari jarak lebih dekat.

Baca Juga: LRT Sumsel Cuma Rp1.000 saat HUT RI, Cek Jadwal Tambahan Perjalanannya

Tidak hanya itu, jembatan dermaga di kawasan Kampung Kapitan juga berubah menjadi tribun dadakan. Warga rela berdiri berdesakan demi melihat langsung perahu-perahu bidar yang melesat membelah Sungai Musi.

Fenomena tersebut menunjukkan bahwa Festival Perahu Bidar bukan sekadar perlombaan tradisional. Di tengah perkembangan zaman, tradisi yang telah diwariskan secara turun-temurun itu masih mampu menarik perhatian masyarakat.

Festival ini juga menjadi ruang berkumpul bagi warga dari berbagai kalangan. Anak-anak, remaja, hingga orang tua larut dalam kemeriahan perayaan Hari Kemerdekaan di tepi Sungai Musi.

Perpindahan lokasi dari Benteng Kuto Besak ke Kampung Kapitan ternyata tidak mengurangi daya tarik festival. Sebaliknya, kawasan 7 Ulu justru menjadi saksi bagaimana tradisi khas Palembang tetap hidup dan dicintai masyarakat.

Dari tepian sungai, dermaga, perahu ketek, hingga jembatan, warga rela mencari tempat terbaik untuk menyaksikan salah satu tradisi paling ikonik di Kota Palembang.

Load More