Tasmalinda
Kamis, 01 Oktober 2026 | 19:45 WIB
Bahlil jadi Menko hilirisasi baru, bagaimana nasib proyek batu bara di Sumsel?
Baca 10 detik
  • Presiden Prabowo Subianto melantik Bahlil Lahadalia sebagai Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi pada 1 Oktober 2026.
  • Proyek hilirisasi DME di Tanjung Enim mengolah batu bara untuk mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor LPG.
  • Proyek gasifikasi batu bara Tanjung Enim tersebut telah melaksanakan peletakan batu pertama atau groundbreaking pada 29 April 2026.

SuaraSumsel.id - Ada satu proyek besar di Sumatera Selatan yang menarik untuk kembali dilihat setelah Bahlil Lahadalia mendapat jabatan baru di pemerintahan. Proyek itu bukan tambang batu bara biasa, melainkan rencana mengubah batu bara Tanjung Enim menjadi bahan bakar alternatif pengganti sebagian LPG impor.

Presiden Prabowo Subianto resmi melantik Bahlil Lahadalia sebagai Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi, Kamis (1/10/2026). Bahlil tetap merangkap sebagai Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM). Pengangkatan tersebut ditetapkan melalui Keputusan Presiden Nomor 104P Tahun 2026 yang ditandatangani pada 30 September 2026.

Pelantikan ini menjadi penting bagi Sumsel karena salah satu proyek hilirisasi yang masuk agenda pemerintah berada di Tanjung Enim, Kabupaten Muara Enim, yakni proyek pengolahan batu bara menjadi dimethyl ether atau DME.

Lalu pertanyaannya, setelah Bahlil memegang langsung koordinasi hilirisasi dan transisi energi, bagaimana kelanjutan proyek batu bara di Sumsel tersebut?

Bahlil kini memegang dua posisi sekaligus

Dalam laporan ANTARA, Bahlil dilantik untuk memimpin Kemenko Hilirisasi dan Transisi Energi sekaligus tetap menjabat Menteri ESDM. Jabatan baru tersebut merupakan bagian dari perubahan struktur pemerintahan di bawah Presiden Prabowo.

Usai pelantikan, Bahlil mengatakan kementerian koordinator baru itu diarahkan untuk mempercepat eksekusi target hilirisasi dan transisi energi yang menjadi bagian dari agenda pemerintahan Prabowo.

Menurut Bahlil, dirinya akan menjalankan dua amanah tersebut untuk mengejar target hilirisasi dan transisi energi. Artinya, tugas Bahlil tidak lagi hanya berada pada urusan sektor energi dan sumber daya mineral. Ia juga mendapatkan mandat koordinasi lintas kementerian untuk mendorong agar proyek hilirisasi bergerak dari tahap perencanaan menuju pelaksanaan.

Di Sumsel, salah satu proyek yang akan berada dalam radar tersebut adalah coal-to-DME Tanjung Enim.

Baca Juga: Hari Pertambangan dan Energi, PTBA Perkuat Pasokan dan Hilirisasi untuk Kemandirian Energi

Batu bara Tanjung Enim mau diubah jadi apa?

Proyek DME Tanjung Enim dirancang untuk mengolah batu bara melalui proses gasifikasi hingga menghasilkan dimethyl ether. PT Bukit Asam Tbk atau PTBA menjadi salah satu aktor utama dalam proyek tersebut. Rancangannya menggunakan sekitar 7 juta ton batu bara per tahun untuk menghasilkan sekitar 1,4 juta ton DME per tahun.

DME kemudian diarahkan sebagai salah satu alternatif untuk mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap LPG impor.

Pemerintah sendiri memasukkan proyek DME Tanjung Enim dalam proyek hilirisasi nasional tahap II. Proyek tersebut menjalani groundbreaking pada 29 April 2026 bersama sejumlah proyek hilirisasi lainnya. Kementerian ESDM menyebut proyek DME menjadi salah satu langkah untuk mendukung substitusi impor LPG, yang sekitar 80 persen kebutuhannya masih dipenuhi dari impor.

Jadi, batu bara yang selama ini identik dengan aktivitas tambang di Tanjung Enim diarahkan masuk ke rantai industri yang berbeda.

Bukan lagi sekadar ditambang dan dijual, tetapi diolah menjadi produk lain sebelum digunakan. Di sinilah perjalanan proyek DME menjadi menarik. Groundbreaking pada April 2026 memang menandai dimulainya proyek secara simbolis. Namun, pekerjaan teknis dan bisnis setelahnya masih panjang.

Load More