- Kampung Perigi di tepian Sungai Musi, Palembang, merupakan kawasan bersejarah yang melestarikan warisan budaya, kuliner, dan tradisi lokal.
- Kawasan ini mempertahankan tradisi minum kopi serta kuliner khas yang mencerminkan akulturasi budaya dari berbagai bangsa masa lampau.
- Kampung Perigi kini menjadi destinasi wisata budaya yang melindungi profesi perajin aluminium tradisional terakhir dari ancaman kepunahan zaman.
SuaraSumsel.id - Di tengah pesatnya perkembangan Kota Palembang, masih ada satu kampung tua yang menyimpan jejak sejarah, budaya, dan tradisi kuliner yang telah bertahan selama ratusan tahun. Kampung Perigi, yang berada di tepian Sungai Musi, bukan hanya menjadi saksi perjalanan panjang Palembang sebagai kota perdagangan, tetapi juga menyimpan cerita tentang budaya minum kopi, aneka roti tradisional, hingga keterampilan membuat peralatan rumah tangga yang kini hampir punah.
Bagi wisatawan yang ingin mengenal sisi lain Palembang selain Jembatan Ampera dan pempek, Kampung Perigi menawarkan pengalaman berbeda. Di kampung inilah berbagai tradisi lama masih hidup melalui cerita warga, kuliner, dan aktivitas masyarakat yang diwariskan lintas generasi.
Di Mana Kampung Perigi?
Kampung Perigi merupakan salah satu kawasan permukiman tua di Palembang yang berada di kawasan tepian Sungai Musi. Lokasinya menyimpan banyak jejak sejarah kehidupan masyarakat sungai yang sejak dahulu menjadi urat nadi perdagangan dan peradaban di Palembang.
Kampung ini kini dikenal sebagai salah satu lokasi penyelenggaraan kegiatan budaya yang memperkenalkan kembali warisan kuliner dan tradisi masyarakat Palembang kepada generasi muda.
Palembang merupakan salah satu kota tertua di Indonesia dengan usia lebih dari 1.300 tahun. Selama berabad-abad, kota ini menjadi tempat bertemunya berbagai bangsa dari Tiongkok, India, Arab, hingga Persia yang datang untuk berdagang. Interaksi tersebut melahirkan akulturasi budaya yang masih dapat ditemukan hingga sekarang, termasuk dalam tradisi minum kopi dan kebiasaan menikmati roti serta kue-kue tradisional.
Sejarawan Palembang sekaligus pelopor berdirinya Museum Sultan Mahmud Badaruddin II, RM Ali Hanafiah, menjelaskan bahwa tradisi minum kopi masyarakat Palembang tidak dapat dipisahkan dari keberagaman budaya yang tumbuh sejak masa Kesultanan Palembang Darussalam.
"Macam-macam roti dan kue selalu menemani ritual minum kopi orang Palembang. Kekayaan kuliner itu mencerminkan keragaman budaya yang berkembang di kota ini," ungkapnya dalam rangkaian kegiatan budaya Masak Tepi Sungai 2026.
Tradisi tersebut masih dapat ditemukan di Kampung Perigi, tempat warga terus menjaga kebiasaan yang telah berlangsung selama beberapa generasi.
Baca Juga: Korban Terus Bertambah, Dugaan Penipuan Rp1,4 Miliar yang Seret Ibu Bhayangkari Bikin Heboh
Budaya Kopi Palembang yang Dipengaruhi Arab, India, dan Persia
Kopi bukan sekadar minuman bagi masyarakat Palembang. Di balik secangkir kopi tersimpan cerita panjang tentang perjalanan budaya dan perdagangan.
Pelaku usaha kopi sekaligus warga Kampung Arab Al-Munawwar, Abu Bakar Syukri, menjelaskan bahwa masyarakat di wilayah hulu Sumatera Selatan mengenal kopi dengan istilah "kawe". Kata tersebut diduga berasal dari kata "qahwah" dalam bahasa Arab, yang menunjukkan adanya hubungan erat antara masyarakat Palembang dan para pedagang Arab sejak masa lampau.
Pengaruh India juga memberi warna tersendiri dalam budaya kopi Palembang. Fotografer dan pegiat budaya Obay Minoral menceritakan bahwa toko-toko kopi yang dikelola komunitas peranakan India pernah menjadi tempat berkumpul yang sangat populer di Palembang. Salah satu warisan kuliner yang masih bertahan hingga kini adalah martabak telur yang disajikan dengan kuah kari.
"Toko kopi dulu bukan sekadar tempat minum kopi, tetapi ruang pertemuan berbagai kelompok masyarakat," ujarnya.
Keberadaan budaya kopi yang dipengaruhi berbagai bangsa inilah yang membuat tradisi kopi Palembang berbeda dibandingkan daerah lain di Indonesia.
Tag
Berita Terkait
-
Korban Terus Bertambah, Dugaan Penipuan Rp1,4 Miliar yang Seret Ibu Bhayangkari Bikin Heboh
-
Terbang ke Kuala Lumpur Kini Lebih Mudah, AirAsia Tambah Penerbangan dari Palembang
-
Ditenun Per Benang, Dirawat Dua Generasi: Ketika Tenun Blongsong Menolak Dilupakan
-
KAI Tambah Kereta Eksekutif KA Sindang Marga Akomodir Libur Tahun Baru Islam 1448 H
-
Sudah Berjam-jam Bertahan, Mahasiswa Terus Berorasi soal BBM hingga MBG di DPRD
Terpopuler
- Pelatih FC Twente Usir Mees Hilgers: Saya Tak Berharap Dia Kembali ke Klub!
- PIP Termin II 2026 Kapan Cair? Ini Jadwal Lengkap dan Cara Ceknya agar Dana Tidak Hangus!
- 4 Shio yang Menarik Keberuntungan Hari Ini 5 Agustus 2026: Segalanya Berjalan Lancar
- 4 Shio Beruntung Hari Ini 4 Agustus 2026: Macan hingga Babi Berpeluang Dapat Kabar Baik
- Link Resmi Pandang.istanapresiden.go.id buat Daftar Upacara Bendera HUT RI di Istana Negara
Pilihan
-
Bocoran Reshuffle Kabinet Agustus: Norman Joesoef Bakal Dilantik Jadi Wamenhan RI
-
Aktris Sali Irsalina Dianiaya Pacar di Fatmawati, Mata Lebam Hingga Diselamatkan Polantas
-
Dipilih Lewat Seleksi Ketat, Bank Dunia Kembali Tunjuk Sri Mulyani Duduki Jabatan Strategis
-
Pagar Besi di Mal-mal, Benarkah untuk Antisipasi Plot Kerusuhan Agustus?
-
Desa Kecil, Mimpi Mendunia: Ketika Kolaborasi Mengubah Wajah Kemiren
Terkini
-
Bank Sumsel Babel Raih Apresiasi Hari Anak Nasional, Tegaskan Komitmen Bangun Generasi Emas
-
Bank Sumsel Babel Perkuat Peran Dukung 100.000 Sultan Muda, Perluas Inklusi Keuangan Sumsel
-
Bank Sumsel Babel Perkuat Kemitraan Strategis dengan Pemkab Lahat, Dukung Akselerasi Ekonomi Daerah
-
Jelang HUT RI, Pertamina Hulu Rokan Zona 4 Tambah Produksi Minyak 1.400 BOPD dari Tiga Sumur Baru
-
Misteri Penusukan di 16 Ilir Palembang, Pria Banyuasin Alami Luka di Kepala hingga Bahu