- Pemerintah Kota Palembang akan meluncurkan Car Free Day perdana di kawasan Jembatan Ampera pada Minggu, 14 Juni 2026.
- Kegiatan ini bertujuan menyediakan ruang publik untuk berolahraga, berekreasi, serta mendorong gaya hidup sehat bagi seluruh masyarakat.
- Berbagai instansi terkait telah menyiapkan teknis acara, termasuk hiburan seni dan pengaturan keamanan demi kenyamanan warga yang hadir.
SuaraSumsel.id - Pagi di kawasan Jembatan Ampera selama ini identik dengan lalu lalang kendaraan, aktivitas perdagangan, dan wisatawan yang menikmati panorama Sungai Musi. Namun mulai Minggu, 14 Juni 2026, wajah kawasan ikonik Kota Palembang itu akan sedikit berbeda. Pemerintah Kota Palembang akan meluncurkan Car Free Day (CFD) perdana di Jembatan Ampera, membuka ruang bagi masyarakat untuk berjalan kaki, berolahraga, bersepeda, hingga menikmati berbagai pertunjukan budaya tanpa dominasi kendaraan bermotor.
Peluncuran CFD yang dijadwalkan berlangsung mulai pukul 05.30 WIB hingga 08.00 WIB itu bukan sekadar agenda seremonial pemerintah. Lebih dari itu, banyak pihak menaruh harapan agar kawasan Ampera dapat berkembang menjadi ruang publik baru yang hidup, nyaman, dan menjadi tempat berkumpul warga dari berbagai kalangan.
Harapan tersebut bukan tanpa alasan. Di berbagai kota besar Indonesia, Car Free Day telah berkembang jauh melampaui fungsi awalnya sebagai upaya mengurangi emisi kendaraan. CFD kini menjadi ruang interaksi sosial, tempat tumbuhnya komunitas, panggung seni budaya, hingga penggerak ekonomi bagi pelaku usaha kecil.
Pertanyaannya, mampukah Palembang menghadirkan fungsi yang sama?
Menjelang peluncuran perdana, Pemerintah Kota Palembang terus mematangkan berbagai persiapan. Kamis (11/6/2026), rapat final digelar di Ruang Rapat Parameswara dan dipimpin langsung oleh Asisten II Bidang Perekonomian dan Pembangunan Setda Kota Palembang, Isnaini Madani.
Rapat tersebut melibatkan berbagai organisasi perangkat daerah dan instansi terkait, mulai dari Dinas Perhubungan, Satpol PP, Dinas Pariwisata, Dinas Kebudayaan, Dirlantas Polda Sumatera Selatan hingga Satlantas Polrestabes Palembang.
Pembahasan tidak hanya menyangkut acara seremonial peluncuran, tetapi juga aspek teknis yang akan menentukan kenyamanan masyarakat saat berada di lokasi. Pengaturan lalu lintas, pengamanan kawasan, kebersihan lingkungan, kesiapan layanan kesehatan hingga pengelolaan keramaian menjadi perhatian utama.
Menurut Isnaini, peluncuran CFD merupakan momentum penting bagi Kota Palembang dan masyarakat yang selama ini membutuhkan ruang aktivitas bersama.
"Karena ini merupakan momen penting bagi kita semua khususnya Kota Palembang dan masyarakat Kota Palembang," kata Isnaini.
Baca Juga: Prima Salam Dirawat di RSPAD, Ratu Dewa Buka Suara soal Isu Rehabilitasi Narkoba
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa pemerintah tidak hanya melihat CFD sebagai kegiatan olahraga mingguan, tetapi juga sebagai bagian dari upaya menghadirkan ruang publik yang lebih inklusif.
Mengapa Ampera Dipilih?
Pemilihan kawasan bawah Jembatan Ampera bukan keputusan yang kebetulan. Ampera selama puluhan tahun telah menjadi simbol Palembang dan Sumatera Selatan. Hampir setiap wisatawan yang datang ke kota ini menjadikan Ampera sebagai tujuan utama.
Lokasinya juga berada di jantung kota dan terhubung dengan berbagai titik penting, mulai dari Benteng Kuto Besak, tepian Sungai Musi, pusat kuliner khas Palembang hingga kawasan perdagangan.
Keunggulan itu membuat Ampera memiliki daya tarik yang sulit ditandingi lokasi lain. Ketika jalanan dibuka untuk pejalan kaki dan pesepeda, masyarakat tidak hanya mendapatkan ruang untuk berolahraga, tetapi juga kesempatan menikmati wajah kota dari sudut yang berbeda.
Banyak kota besar berhasil membangun identitas ruang publik melalui kawasan ikoniknya. Jakarta memiliki CFD Sudirman-Thamrin, Bandung dengan Dago dan Asia Afrika, sementara Yogyakarta memanfaatkan kawasan Malioboro sebagai ruang interaksi warga dan wisatawan. Palembang kini mencoba menghadirkan pengalaman serupa melalui kawasan Ampera.
Berita Terkait
-
Prima Salam Dirawat di RSPAD, Ratu Dewa Buka Suara soal Isu Rehabilitasi Narkoba
-
CFD Palembang Kian Ramai Setiap Pekan, Benarkah Masih Nyaman untuk Olahraga?
-
10 Titik CCTV Palembang yang Paling Sering Dipantau Warga, Ampera Nomor 1
-
CFD Palembang Makin Ramai dengan Flying Fox Gratis, Tapi Benarkah Sudah Kurangi Polusi?
-
CFD Ampera Palembang Minggu III Membludak, Warga Protes Jalan Ditutup Sampai Jam 9 dan Parkir Mahal
Terpopuler
- 5 Kulkas 1 Pintu Anti Bunga Es dan Hemat Listrik, Harga Mulai Rp1 Jutaan
- Tok! Panja DPR Sepakati RUU Polri: Usia Pensiun Bintara 59 Tahun, Perwira 60 Tahun
- Resmi! Chatib Basri Dapat Jabatan Baru Hari Ini
- Anaknya Terlibat di Program MBG, Wamenaker Afriansyah Noor Beri Penjelasan Usai Namanya Terseret
- Beda Cushion Wardah Colorfit Hijau dan Krem: Intip Harga, Kandungan, dan Manfaatnya
Pilihan
-
PTBA Kembangkan 500 Itik Petelur di Muara Enim, Hasilkan 200 Telur Omega per Hari
-
Raffi Ahmad Terseret Kasus Suap Impor, Padahal Cuma Basa-basi Titip Barang ke PT Blueray
-
Haji Bolot Dikabarkan Terkena Serangan Jantung, Posisi Masih di Rumah Sakit
-
Derita Masyarakat RI Bertambah Kini Harga Pertamax Naik, Apa yang Harus Dilakukan?
-
Anaknya Terlibat di Program MBG, Wamenaker Afriansyah Noor Beri Penjelasan Usai Namanya Terseret
Terkini
-
Mengapa Edison Kembali Jadi Tersangka? Ini Perbedaan Dua Kasus yang Menjerat Bupati Muara Enim
-
Sumarni Resmi Jadi Plt Bupati Muara Enim, Bisakah Langsung Ganti Pejabat?
-
Pansus DPRD Ungkap 212 Ribu Hektare Lahan Hutan Diduga Dikuasai Ilegal di Sumsel
-
PTBA Kembangkan 500 Itik Petelur di Muara Enim, Hasilkan 200 Telur Omega per Hari
-
CFD Perdana Hadir di Ampera 14 Juni, Mampukah Menjadi Ruang Publik Baru Warga Palembang?