- Masyarakat Musi di Sumatera Selatan memanfaatkan Jongot sebagai ruang hidup untuk menjaga ketahanan pangan, ketersediaan air, serta tanaman obat.
- Praktik tradisional Jongot dilakukan dengan merawat keberagaman hayati di sekitar kawasan perairan untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga sehari-hari.
- Keberadaan Jongot terancam karena generasi muda kurang memahami nilai sejarah dan fungsi ekologis yang diwariskan oleh para leluhur.
SuaraSumsel.id - Sebelum masyarakat mengenal istilah ketahanan pangan, konservasi lingkungan, atau perubahan iklim, orang-orang Musi di Sumatera Selatan telah memiliki cara sendiri untuk menjaga hubungan dengan alam.
Cara hidup itu dikenal dengan nama Jongot. Bagi sebagian orang, Jongot mungkin terdengar seperti nama sebuah hutan atau kebun tua. Namun bagi masyarakat Musi, maknanya jauh lebih dalam.
Jongot bukan sekadar tempat tumbuhnya pohon-pohon buah. Ia adalah ruang hidup yang menyimpan sumber pangan keluarga, menjaga ketersediaan air, menjadi tempat belajar tentang tanaman obat, sekaligus menyimpan ingatan tentang leluhur yang pernah membangun kehidupan di kawasan perairan Sumatera Selatan.
Kini, ketika bentang alam terus berubah dan semakin sedikit generasi muda mengenalnya, Jongot menghadapi tantangan yang tidak pernah dibayangkan para pendahulunya: kehilangan pewaris yang memahami maknanya.
Berawal dari Kehidupan Lahan Basah
Untuk memahami Jongot, masyarakat harus terlebih dahulu memahami bagaimana orang Musi hidup pada masa lalu. Jauh sebelum jalan raya menghubungkan desa-desa, sungai merupakan urat nadi kehidupan.
Perahu menjadi alat transportasi utama. Pemukiman tumbuh di dekat sungai, rawa, dan sumber air.
Di sekitar kawasan itulah masyarakat menanam berbagai jenis pohon yang dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.
Pohon buah ditanam untuk sumber pangan. Tanaman tertentu dipelihara untuk obat. Pohon besar dibiarkan tumbuh karena memiliki fungsi penting bagi lingkungan sekitar.
Baca Juga: Film Jongot Merekam Cara Orang Musi Menjaga Pangan, Air, dan Ingatan Leluhur
Dari waktu ke waktu, kawasan yang terus dirawat itu berkembang menjadi Jongot.
Menurut Ibrahim, salah satu pewaris Jongot di Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI), hampir seluruh bagian tanaman di dalam Jongot memiliki manfaat. "Mulai dari buah, batang sampai akar semuanya bisa dimanfaatkan," ujarnya.
Karena itu, Jongot tidak pernah dipandang sebagai sekadar lahan kosong. Ia merupakan bagian dari kehidupan keluarga.
Ketika Pangan Tumbuh di Halaman Sendiri
Di masa lalu, masyarakat tidak bergantung sepenuhnya pada pasar. Mereka memiliki Jongot. Saat musim buah tiba, keluarga dapat menikmati hasil dari pohon yang ditanam puluhan tahun sebelumnya.
Durian, petai, kemang, tempuarai, aren, bambangan, hingga berbagai buah lokal lain tumbuh berdampingan dalam satu kawasan.
Tidak ada pola monokultur. Tidak ada satu komoditas yang mendominasi. Yang ada adalah keberagaman.
Tony, pewaris generasi keempat Jongot di PALI, masih merasakan manfaat tersebut hingga sekarang.
Di lahan sekitar setengah hektare yang diwariskan keluarganya, tumbuh puluhan jenis tanaman dengan ratusan batang pohon. Saat musim panen datang, hasilnya dinikmati bersama keluarga.
Sebagian dibagikan kepada kerabat. Jika masih tersisa, sebagian dijual. "Buahnya dimakan bersama keluarga. Kalau ada lebih baru dijual," katanya.
Di tengah kekhawatiran dunia terhadap ancaman krisis pangan akibat perubahan iklim, praktik seperti ini menunjukkan bahwa masyarakat lokal sebenarnya telah lama memiliki sistem ketahanan pangan yang dibangun dari hubungan mereka dengan alam.
Menjaga Air Tanpa Menyebutnya Konservasi
Masyarakat Musi masa lalu mungkin tidak mengenal istilah konservasi. Mereka tidak berbicara tentang restorasi ekosistem atau jasa lingkungan.
Namun cara mereka membangun Jongot menunjukkan pemahaman yang kuat tentang pentingnya menjaga keseimbangan alam.
Sebagian besar Jongot berada di dekat sumber air. Pepohonan besar dibiarkan tumbuh. Vegetasi yang beragam membantu menjaga kelembapan tanah dan mengurangi kerusakan lingkungan.
Tanpa disadari, praktik itu ikut menjaga ketersediaan air yang menjadi sumber kehidupan masyarakat.
Hari ini, ketika banyak daerah menghadapi tekanan lingkungan akibat perubahan bentang alam, Jongot menjadi pengingat bahwa masyarakat lokal telah lama memiliki pengetahuan tentang bagaimana menjaga ruang hidup mereka.
Apotek Hidup yang Tumbuh di Bawah Pepohonan
Bagi masyarakat Musi, Jongot juga merupakan tempat menyimpan pengetahuan yang tidak diajarkan di sekolah. Di dalamnya tumbuh berbagai tanaman yang digunakan sebagai obat tradisional.
Tony masih mengingat pelajaran yang diwariskan orang tuanya. Akar serekat digunakan untuk mengatasi diare.
Akar seletup dimanfaatkan untuk pengobatan tradisional cacar. Mecung hutan digunakan untuk membantu mengatasi malaria dan demam. Sementara rumput bulu dikenal sebagai ramuan untuk meredakan batuk.
Pengetahuan itu tidak tertulis dalam buku.
Ia hidup melalui cerita, pengalaman, dan hubungan langsung dengan alam. Karena itu, ketika satu Jongot hilang, yang hilang bukan hanya tumbuhan.
Yang ikut hilang adalah pengetahuan yang hidup di dalamnya.
Mengapa Jongot Jarang Dijual?
Bagi sebagian keluarga, Jongot bukan aset yang mudah diperjualbelikan. Tony mengaku kawasan Jongot keluarganya pernah ditawar hingga ratusan juta rupiah.
Namun tawaran itu ditolak. "Ada yang pernah menawar sampai ratusan juta rupiah, tetapi kami tidak tertarik menjualnya. Kami ingin anak cucu nanti tetap bisa menikmati hasilnya," ujarnya.
Di dalam banyak Jongot terdapat makam keluarga yang menjadi penanda sejarah keturunan. Ada pula pohon-pohon yang ditanam oleh orang tua dan kakek mereka puluhan tahun lalu.
Karena itu, mempertahankan Jongot bukan hanya soal menjaga lahan. Tetapi juga menjaga hubungan dengan masa lalu.
Makin Terancam
Alih fungsi lahan menjadi kebun sawit dan karet memang membuat jumlah Jongot terus berkurang. Namun bagi para pewarisnya, salah satu ancaman justru datang dari sisi lain. Ancaman itu adalah hilangnya generasi penerus. Tony mengaku sedih melihat semakin banyak anak muda yang tidak lagi mengenal Jongot.
Mereka tumbuh jauh dari pengetahuan tentang tanaman obat, buah-buahan lokal, dan sejarah yang selama ini hidup di dalam kawasan tersebut.
Jika kondisi itu terus berlangsung, suatu hari nanti mungkin masih ada Jongot yang berdiri. Namun tidak ada lagi orang yang memahami maknanya. "Bisa saja nanti Jongot masih ada, tetapi orang yang memahami maknanya sudah tidak ada," katanya.
Menjaga Masa Depan dengan Merawat Ingatan
Di tengah berbagai krisis lingkungan yang dihadapi dunia saat ini, Jongot menawarkan pelajaran yang sederhana namun penting. Bahwa menjaga alam tidak selalu dimulai dari kebijakan besar.
Kadang-kadang ia dimulai dari keluarga yang tetap merawat pohon yang ditanam leluhurnya.
Dari masyarakat yang masih menyimpan pengetahuan tentang tanaman obat. Dari orang-orang yang memilih mempertahankan ruang hidupnya meski pernah ditawar dengan nilai yang tinggi.
Karena pada akhirnya, Jongot bukan sekadar kumpulan pohon. Ia adalah cara orang Musi menjaga pangan, merawat air, mewariskan pengetahuan, dan mengingat dari mana mereka berasal.
Dan selama masih ada yang memahami makna itu, Jongot tidak hanya akan bertahan sebagai bentang alam. Ia akan tetap hidup sebagai bagian dari identitas masyarakat Musi.
Berita Terkait
-
Film Jongot Merekam Cara Orang Musi Menjaga Pangan, Air, dan Ingatan Leluhur
-
Film 'Jongot' Angkat Kearifan Suku Musi dalam Menjaga Hutan dan Alam
-
Haru dari Hutan Sumsel: Bayi Gajah Betina Lahir Sehat, Mama Ronika Setia Mendampingi
-
Surat Terbuka untuk Gubernur Sumsel: Hutan Kian Tertekan, Warga Desak Penguatan Mitigasi
-
Saat Hutan Menyusut, Perajin Rotan Bertahan dengan Bahagia: Perlawanan Sunyi dari Desa
Terpopuler
- 4 HP realme dengan Chipset Snapdragon dan RAM 8 GB Termurah Juni 2026
- HP Rp1,5 Jutaan yang Bagus Merek Apa? Ini 5 Rekomendasi Terbaik David GadgetIn
- 5 Kulkas 1 Pintu Anti Bunga Es dan Hemat Listrik, Harga Mulai Rp1 Jutaan
- Tok! Panja DPR Sepakati RUU Polri: Usia Pensiun Bintara 59 Tahun, Perwira 60 Tahun
- Resmi! Chatib Basri Dapat Jabatan Baru Hari Ini
Pilihan
-
Anaknya Terlibat di Program MBG, Wamenaker Afriansyah Noor Beri Penjelasan Usai Namanya Terseret
-
Namanya Terseret Isu Dugaan Korupsi BGN, Yahya Golkar: Semua Anggota Komisi IX DPR Tak Terlibat!
-
Perhatian! Harga Pertamax Naik Jadi Rp 16.250/Liter
-
Susunan Pemain Timnas Indonesia vs Mozambik di FIFA Matchday Malam Ini
-
Menkes Budi Gunadi Sadikin Susul Chatib Basri dan Luhut ke Istana
Terkini
-
Apa Itu Jongot? Cara Orang Musi Menjaga Pangan, Air, dan Ingatan Leluhur di Sumsel
-
Program MBG Bermasalah? Sejumlah Dapur di Sumsel Ternyata Berhenti Sementara
-
Film Jongot Merekam Cara Orang Musi Menjaga Pangan, Air, dan Ingatan Leluhur
-
Mengenal Muhamad Suryadi, Nahkoda Baru Bank Sumsel Babel
-
Prima Salam Dirawat di RSPAD, Ratu Dewa Buka Suara soal Isu Rehabilitasi Narkoba