Tasmalinda
Kamis, 28 Mei 2026 | 16:09 WIB
Gerakan Sumsel Mandiri Pangan yang diinisiasikan sejak 2021 [ANTARA]
Baca 10 detik
  • Program Gerakan Sumsel Mandiri Pangan (GSMP) di Sumatera Selatan sukses meningkatkan ketahanan pangan keluarga sejak tahun 2021.
  • Program tersebut perlu didukung Koperasi Merah Putih untuk memperbaiki rantai distribusi, pembiayaan, dan pemasaran hasil panen rakyat.
  • Integrasi GSMP dengan koperasi bertujuan menciptakan stabilitas ekonomi daerah serta meningkatkan kesejahteraan petani dan pelaku usaha kecil.

Jika GSMP adalah gerakan menanam, maka koperasi harus menjadi gerakan menguatkan ekonomi hasil panen.

Dalam konteks Sumatera Selatan, gagasan ini sangat relevan. Provinsi ini memiliki potensi pangan yang besar, mulai dari hortikultura, perkebunan, hingga perikanan. Namun potensi tersebut sering kali belum memberikan nilai ekonomi maksimal bagi masyarakat kecil karena lemahnya rantai distribusi dan pengolahan.

Banyak petani masih menjual hasil panen dalam bentuk mentah dengan nilai tambah rendah. Sementara keuntungan terbesar justru dinikmati rantai distribusi di atas mereka. Ketika kondisi ini terus berlangsung, ketahanan pangan hanya akan menghasilkan stabilitas sesaat tanpa benar-benar meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Karena itu, ketahanan pangan harus dipahami bukan hanya sebagai soal produksi, tetapi juga sebagai pembangunan ekosistem ekonomi rakyat.

Koperasi Merah Putih dapat menjadi penghubung penting antara produksi pangan komunitas dengan transformasi ekonomi daerah.

Bayangkan jika hasil panen GSMP tidak lagi dijual sendiri-sendiri, tetapi dihimpun melalui koperasi yang memiliki akses distribusi lebih luas. Cabai, bawang, sayuran, hingga produk olahan pangan lokal dapat dipasarkan secara kolektif dengan daya tawar yang lebih kuat.

Koperasi juga dapat menjadi pusat pembiayaan mikro bagi kelompok pangan komunitas. Selama ini banyak gerakan pangan rakyat berhenti bukan karena masyarakat malas menanam, tetapi karena modal dan akses pasar tidak berkelanjutan.

Di sisi lain, koperasi juga bisa menjadi ruang lahirnya ekonomi pangan modern berbasis digital. Distribusi hasil panen, pencatatan produksi, hingga pemasaran daring dapat dilakukan secara kolektif. Ini penting agar ketahanan pangan tidak tertinggal dalam transformasi ekonomi digital.

Lebih jauh lagi, integrasi GSMP dan koperasi dapat memperkuat pengendalian inflasi daerah.

Baca Juga: Panen Padi Kalium Humat Jadi Bukti Hilirisasi Batubara Menguatkan Ketahanan Pangan

Selama ini pengendalian inflasi sering dilakukan melalui operasi pasar atau intervensi jangka pendek. Padahal akar masalahnya adalah lemahnya stabilitas pasokan dan distribusi pangan lokal.

Jika produksi masyarakat terorganisasi melalui koperasi, maka pemerintah daerah dan Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) akan lebih mudah memetakan pasokan, menjaga distribusi, dan mengantisipasi gejolak harga.

Dengan kata lain, koperasi bukan hanya instrumen ekonomi rakyat, tetapi juga bagian penting dari strategi menjaga stabilitas ekonomi daerah.

Inilah mengapa ketahanan pangan Sumatera Selatan tidak boleh berhenti pada gerakan simbolik menanam di pekarangan. Gerakan ini harus tumbuh menjadi arsitektur ekonomi baru yang berbasis komunitas.

Keberhasilan GSMP menunjukkan bahwa masyarakat sebenarnya memiliki kemampuan untuk bertahan dan berproduksi jika diberi ruang, pendampingan, dan dukungan kebijakan yang tepat. Yang dibutuhkan sekarang adalah bagaimana memastikan gerakan tersebut tidak kehilangan arah setelah panen.

Koperasi Merah Putih dapat menjadi jawaban untuk memastikan hasil panen rakyat tidak berjalan sendiri-sendiri.

Load More