Tasmalinda
Minggu, 10 Mei 2026 | 18:40 WIB
ilustrasi narkoba sabu yang dijual satu keluarga di Jambi.
Baca 10 detik
  • Satresnarkoba Polres Kerinci menangkap enam tersangka narkoba yang terbagi dalam empat kasus berbeda di wilayah Kabupaten Kerinci.
  • Aparat mengungkap keterlibatan hubungan darah seperti ayah-anak dan kakak-beradik dalam sindikat peredaran sabu sistem tempel tersebut.
  • Para tersangka menggunakan transaksi digital untuk beroperasi dan kini terancam hukuman berat berdasarkan Undang-Undang Narkotika yang berlaku.

SuaraSumsel.id - Polisi mengungkap fakta mengejutkan dalam kasus peredaran narkoba di Kabupaten Kerinci. Bisnis sabu yang dibongkar aparat ternyata tidak hanya melibatkan satu pelaku, tetapi menyeret hubungan keluarga mulai dari ayah dan anak hingga kakak beradik.

Pengungkapan itu langsung menjadi sorotan warga karena para pelaku yang diamankan masih memiliki hubungan darah dan diduga saling membantu menjalankan bisnis haram tersebut.

Dalam operasi yang dilakukan Satresnarkoba Polres Kerinci, polisi mengungkap empat kasus berbeda dengan total enam tersangka. Dari jumlah itu, terdapat pasangan bapak-anak serta saudara kandung yang ikut diamankan.

Kasus yang paling menyita perhatian adalah keterlibatan seorang ayah berinisial YR (46) yang diduga membantu anak kandungnya, MA (27), mengedarkan sabu.

Polisi menyebut MA berperan sebagai kurir tempel untuk jaringan narkoba. Sementara sang ayah diduga ikut membantu meletakkan paket sabu di titik tertentu sesuai arahan bandar.

“Hubungan keluarga membuat mereka lebih mudah saling percaya,” ujar sumber kepolisian.

Tidak hanya itu, polisi sebelumnya juga menangkap kakak beradik berinisial FR (26) dan JZ (30) di Desa Talang Lindung. Keduanya diduga terlibat dalam transaksi sabu menggunakan sistem “tempel”.

Dalam sistem tersebut, paket narkoba diletakkan di lokasi tertentu lalu diambil pembeli berdasarkan petunjuk titik GPS. Cara ini dinilai sengaja dipakai untuk menghindari pertemuan langsung antara penjual dan pembeli.

Fenomena keluarga terlibat jaringan narkoba membuat warga sekitar ikut terkejut. Banyak yang tidak menyangka hubungan darah justru dipakai untuk menjalankan bisnis ilegal.

Baca Juga: Isak Tangis Pecah di Pemakaman Myta, Dokter Muda Diduga 3 Bulan Tanpa Libur di RSUD KH Daud Arif

“Biasanya keluarga saling menjaga, ini malah sama-sama masuk narkoba,” ujar warga.

Kasus ini dinilai menjadi alarm serius karena narkoba kini tidak lagi hanya menyeret individu, tetapi mulai masuk ke lingkaran keluarga.

Dalam banyak kasus, faktor ekonomi dan pengaruh lingkungan terdekat disebut menjadi alasan anggota keluarga akhirnya ikut terjerumus.

Awalnya mungkin hanya membantu atau ikut mengetahui aktivitas keluarga, tetapi lama-kelamaan ikut terlibat dalam jaringan.

Selain itu, hubungan keluarga dianggap lebih aman bagi jaringan narkoba karena kecil kemungkinan saling membocorkan.

“Kalau sesama keluarga biasanya lebih dipercaya,” kata sumber kepolisian.

Load More