Tasmalinda
Minggu, 03 Mei 2026 | 22:59 WIB
stand UMKM di acara Super Grand Prize Tabungan Pesirah Bank Sumsel Babel
Baca 10 detik
  • Siti Rahma dan pelaku UMKM lainnya meraih lonjakan penjualan signifikan saat acara Super Grand Prize Tabungan Pesirah di Stadion Gelora Jakabaring.
  • Event yang berlangsung pada 2 Mei 2026 tersebut menjadi katalis utama bagi perputaran ekonomi lokal dan peningkatan aktivitas perdagangan mikro.
  • Penggunaan sistem pembayaran non-tunai melalui QRIS dan BSB Mobile berhasil mempercepat transaksi serta memperluas digitalisasi bagi para pelaku usaha kecil.

SuaraSumsel.id - Aroma somay yang mengepul dari stan Siti Rahma (38) bukan sekadar menggoda selera, ia menjadi penanda bagaimana denyut ekonomi lokal bekerja di tengah perayaan Super Grand Prize Tabungan Pesirah Bank Sumsel Babel. Di sela riuh panggung dan lalu-lalang pengunjung di Stadion Gelora Jakabaring, Sabtu, 2 Mei 2026, terdapat arus lain yang tak kalah penting yakni transaksi yang bergerak cepat, pelaku usaha yang beradaptasi, dan kebiasaan baru yang mulai terbentuk.

Bagi Siti, momentum ini menghadirkan lonjakan pendapatan yang tidak biasa. “Pembeli tidak putus dari siang sampai malam. Penjualan bisa naik,” akunya.

Kehadiran belasan ribu pengunjung menciptakan lonjakan permintaan yang langsung diserap oleh UMKM binaan Bank Sumsel Babel. Deretan stan kuliner, dari makanan tradisional hingga kreasi kuliner menjadi simpul aktivitas ekonomi yang hidup, memperlihatkan bagaimana event berskala besar mampu menjadi katalis perputaran uang di level mikro.

Pergerakan ekonomi tersebut semakin terasa melalui perubahan cara transaksi yang berlangsung di lapangan. Pertukaran uang tunai nyaris tak terlihat, digantikan oleh QRIS dan BSB Mobile yang membuat proses jual beli lebih ringkas, cepat, dan efisien.

Dalam momen ini, digitalisasi tidak lagi sekadar jargon, melainkan hadir sebagai pengalaman nyata yang perlahan membentuk kebiasaan baru di tengah masyarakat.

“Sekarang banyak yang bayar pakai QRIS. Lebih cepat dan tidak perlu repot uang kembalian,” kata Siti.

Bagi pelaku UMKM lain seperti Andi (41), penjual kopi khas Sumatera Selatan, perubahan ini bukan hanya soal kenyamanan, tetapi juga peningkatan kapasitas usaha. “Di sini hampir semua pakai QRIS. Kami jadi lebih percaya diri pakai sistem digital,” ujarnya.

Kepercayaan diri tersebut menjadi indikator penting. Digitalisasi, yang kerap dianggap sebagai tantangan bagi pelaku usaha kecil, justru mulai dipersepsikan sebagai alat yang mempermudah dan memperluas peluang. Di titik inilah, inklusi keuangan bergerak dari konsep menjadi praktik.

PPS Direktur Utama Bank Sumsel Babel, Marzuki, melihat pendekatan berbasis pengalaman ini sebagai kunci dalam mempercepat adopsi teknologi keuangan. “UMKM tidak hanya berjualan, tetapi juga ikut tumbuh dalam ekosistem digital yang semakin inklusif,” katanya.

Baca Juga: Merayakan Super Grand Prize, Bank Sumsel Babel Perkuat Kepercayaan dan Loyalitas Nasabah

Apa yang terjadi di arena ini mencerminkan dinamika yang lebih luas: pergeseran perilaku masyarakat dari transaksi tunai ke non-tunai yang berlangsung secara organik. Ketika teknologi diperkenalkan melalui pengalaman yang relevan dan menguntungkan, resistensi berkurang, dan adaptasi terjadi secara alami.

Di tengah penampilan Ungu dan Lady Rara yang memeriahkan suasana, geliat UMKM justru menjadi narasi yang lebih substansial. Ia menunjukkan bahwa di balik perayaan dan hadiah, terdapat proses yang lebih dalam yakni pembentukan ekosistem ekonomi yang terhubung antara teknologi, pelaku usaha, dan masyarakat.

Momen Super Grand Prize, dalam konteks ini, tidak hanya menjadi simbol apresiasi, tetapi juga ruang akselerasi, di mana kepercayaan, digitalisasi, dan ekonomi lokal bertemu dan bergerak bersama menuju pola yang lebih modern dan berkelanjutan.

Load More