Tasmalinda
Minggu, 26 April 2026 | 16:11 WIB
ilustrasi pijat totok sirih pada bayi
Baca 10 detik
  • Video terapi Totok Sirih di Palembang viral karena menyebabkan bayi menangis keras dan memicu perdebatan mengenai keamanannya.
  • Metode Totok Sirih belum teruji secara klinis dan berisiko menimbulkan cedera fisik serta trauma pada bayi.
  • IDAI Sumsel mengimbau orang tua agar berkonsultasi dengan dokter untuk penanganan kesehatan bayi dibandingkan menggunakan terapi alternatif.

SuaraSumsel.id - Istilah “Totok Sirih” mendadak ramai diperbincangkan publik setelah viralnya video seorang bayi menangis keras saat menjalani terapi tersebut di Palembang.

Video itu memicu perdebatan luas di media sosial. Sebagian masyarakat menilai terapi tersebut sebagai bentuk pengobatan alternatif, sementara lainnya mempertanyakan keamanan tindakan fisik pada bayi.

Lalu, sebenarnya apa itu Totok Sirih?

Secara umum, “totok” dikenal sebagai metode terapi tradisional dengan memberikan tekanan pada titik-titik tertentu di tubuh. Sementara “sirih” diduga merujuk pada penggunaan daun sirih atau penamaan tertentu dalam metode terapi yang ditawarkan.

Namun hingga kini, belum ada penjelasan medis resmi yang menyebut “Totok Sirih” sebagai metode pengobatan bayi yang teruji secara klinis.

Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Cabang Sumatera Selatan menegaskan bahwa pijat bayi bukan untuk mengobati penyakit bayi, melainkan untuk membantu stimulasi tumbuh kembang jika dilakukan dengan benar.

Melalui edukasi yang dibagikan IDAI Sumsel, pijat bayi bermanfaat untuk:

  • Membuat bayi tidur lebih nyenyak
  • Membantu bayi lebih rileks
  • Membantu kenaikan berat badan
  • Mendukung sistem pencernaan dan sirkulasi darah
    Manfaat tersebut bisa diperoleh melalui sentuhan, gerakan, suara, dan komunikasi yang lembut serta tepat.

IDAI Sumsel juga membagikan tahapan pijat bayi yang benar.

Mulai dari memastikan ruangan hangat dan tenang, tangan bersih dengan kuku pendek, menggunakan minyak khusus bayi, hingga memastikan bayi dalam kondisi sadar dan nyaman.

Baca Juga: Usai Video Totok Sirih Bayi Viral di Palembang, IDAI Soroti Risiko Nyeri dan Trauma

Tekanan saat memijat harus lembut dan tidak memaksa.

“Tujuannya buat bayi nyaman. Bukan takut, nyeri, atau terpaksa,” demikian bunyi edukasi IDAI Sumsel.
Di sisi lain, dokter mengingatkan bahwa tindakan terapi fisik berlebihan pada bayi justru dapat menimbulkan risiko.

Mulai dari nyeri, trauma, cedera jaringan lunak, hingga gangguan pada tulang atau sendi yang masih berkembang.

Ketua IDAI Sumsel, dr. Julius Anzar, sebelumnya juga mengingatkan bahwa ketika bayi menangis keras saat dipijat, itu bisa menjadi tanda bayi sedang tidak nyaman.

Sebelum memijat, orang tua harus memastikan bayi:

  1. tenang
  2. tidak demam atau sakit
  3. tidak baru menyusu atau makan
  4. tidak lapar atau mengantuk

Jika bayi belum nyaman, lebih baik menunda pijatan.

Load More