- Uji coba Car Free Day di Palembang memicu kemacetan parah akibat penutupan akses utama Jembatan Ampera bagi warga.
- Warga meminta pemerintah kota mengevaluasi kebijakan penutupan akses jalan agar tidak mengganggu aktivitas mobilitas masyarakat sehari-hari.
- Pemerintah kota memutuskan menunda kegiatan CFD untuk memperbaiki pengaturan lalu lintas dan operasional petugas di lapangan.
SuaraSumsel.id - Polemik Car Free Day (CFD) di Palembang terus bergulir. Uji coba yang semula diharapkan menjadi ruang publik bagi warga justru memicu kemacetan panjang, terutama setelah Jembatan Ampera ikut ditutup.
Di tengah keluhan tersebut, suara warga sebenarnya tidak sepenuhnya menolak CFD. Mereka hanya meminta satu hal yang dianggap krusial: jangan sampai kebijakan ini justru menyulitkan aktivitas sehari-hari.
Penutupan Jembatan Ampera saat uji coba CFD langsung berdampak luas. Arus kendaraan yang biasanya menjadi penghubung utama Ilir dan Ulu terpaksa dialihkan, menyebabkan penumpukan di berbagai jalur alternatif.
Andi Saputra (34), warga Seberang Ulu, mengaku perjalanan yang biasanya singkat berubah menjadi berlipat ganda.
“Biasanya 15 menit, kemarin hampir satu jam. Kami tidak menolak CFD, tapi jangan sampai akses utama ditutup total,” ujarnya.
Hal serupa dirasakan Rina Marlina (29), karyawan swasta yang setiap hari melintasi kawasan tersebut. Ia menilai jalur alternatif tidak siap menampung lonjakan kendaraan.
“Semua dialihkan ke jalan lain, akhirnya macet di mana-mana,” katanya.
Menanggapi kondisi tersebut, Ratu Dewa mengakui bahwa pelaksanaan uji coba CFD masih jauh dari ideal dan membutuhkan evaluasi menyeluruh.
“Uji coba akan kembali dilakukan dengan sejumlah perbaikan, terutama terkait pengaturan lalu lintas dan penempatan petugas di lapangan,” ujarnya kepada awak media, Senin (13/4/2026).
Baca Juga: CFD Palembang Bikin Macet Parah, Rencana Launching Akhirnya Ditunda
Ia menegaskan, CFD tidak dibatalkan, melainkan hanya ditunda untuk disempurnakan. Pemerintah kota, kata dia, akan memperbaiki berbagai aspek teknis sebelum uji coba kembali dilakukan.
“CFD tetap kita lanjutkan. Tapi kita evaluasi dulu, terutama soal lalu lintas dan penempatan petugas,” tegasnya.
Di lapangan, warga berharap evaluasi tersebut benar-benar menyentuh persoalan utama. Bagi mereka, Jembatan Ampera adalah titik yang tidak bisa diperlakukan seperti ruas jalan biasa.
Penutupan total dinilai terlalu berisiko karena jembatan ini menjadi urat nadi pergerakan kota. Ketika akses ini terganggu, dampaknya langsung terasa ke berbagai wilayah.
“CFD itu bagus, tapi harus disesuaikan dengan kondisi Palembang. Jangan sampai orang yang mau kerja malah terjebak macet,” kata Andi.
CFD sejatinya merupakan simbol kota yang ingin lebih sehat dan ramah bagi warganya. Namun di Palembang, penerapannya menghadapi tantangan tersendiri.
Berita Terkait
-
5 Mitos Pulau Kemaro yang Masih Dipercaya Warga, dari Cinta Tragis hingga Pantangan Misterius
-
Viral di Sitinjau Lauik, Siapa Arteria Dahlan? Dari Politisi PDIP ke Komisaris PT Pusri
-
Cara Menyimpan Songket Mahal agar Tak Dimakan Ngengat, Rahasia Benang Emas Tetap Berkilau
-
Lakuer Palembang: Kerajinan Kayu Berlapis Emas yang Dulu dari Istana, Kini Diburu Kolektor Dunia
-
WFH untuk Hemat BBM, Transportasi Publik Palembang Belum Sepenuhnya Menjadi Jawaban
Terpopuler
- Cara Membersihkan Bunga Es Tanpa Mematikan Kulkas, Aman dan Mudah Dilakukan
- 3 Shio yang Menarik Keberuntungan Sepanjang September 2026, Hoki Sebulan Penuh
- 3 HP Infinix Mirip iPhone 17 Pro Max, Tampil Mewah ala Flagship
- Mitchell Baker Cetak 3 Gol dari 4 Laga Bakal Dipanggil John Herdman di FIFA ASEAN Cup 2026?
- Persib Bandung vs Seoul FC dan Melbourne Victory, Mariano Peralta Kirim Psywar
Pilihan
-
BREAKING NEWS! Kebakaran Hebat Terjadi di TPA Putri Cempo Solo
-
Ujian Berat MBG: Ketika Nasi, Tempe, dan Telur Berujung Keracunan Massal di Pesantren Sidoarjo
-
516 Korban Keracunan, Bupati Sidoarjo Ultimatum BGN Soal Perizinan: Ini Harus Tegas!
-
Kabar Gembira! Mulai 2027 Guru PPPK Paruh Waktu Resmi Diangkat Jadi Penuh Waktu
-
KPK Geledah Perusahaan Tambang Terkait Kasus Pajak Banjarmasin, Nama Adaro Ikut Terseret
Terkini
-
Ratu Dewa Mendadak Lantik Sekda Palembang, Ada Apa dengan Aprizal Hasyim?
-
Sidang Smart Board Chromebook Ungkap Proyek Rp21,21 Miliar Muara Enim Diduga Sudah Diatur
-
Berawal dari Jakarta, Kronologi Kasus Smart Board Chromebook yang Berujung OTT Bupati Muara Enim
-
Nama Bupati Edison Disebut di Sidang Smart Board, JPU Ungkap Dugaan Aliran Rp3,36 Miliar
-
Warga Dibayar Rp150 Ribu Padamkan Karhutla, Seberapa Efektif Strategi Baru Herman Deru?