Tasmalinda
Minggu, 05 April 2026 | 23:49 WIB
ilustrasi inflasi Sumatera Selatan. [Suara.com/Alfian Winanto]
Baca 10 detik
  • Inflasi Sumatera Selatan pada Maret 2026 melandai ke angka 3,09 persen secara tahunan akibat koreksi harga komoditas tertentu.
  • Pemerintah daerah dan Bank Indonesia berhasil menekan inflasi melalui operasi pasar murah serta subsidi distribusi bahan pokok.
  • TPID Sumatera Selatan terus waspada terhadap potensi gangguan cuaca dan tekanan harga komoditas pangan bagi masyarakat luas.

SuaraSumsel.id - Laju harga di Sumatera Selatan memasuki fase yang lebih moderat. Setelah sempat menguat, inflasi kini bergerak melandai, mencerminkan pergeseran tekanan harga yang mulai terkendali secara bertahap.

Pada Maret 2026, inflasi Sumsel tercatat sebesar 0,29 persen secara bulanan (mtm), menurun dibandingkan Februari yang mencapai 0,58 persen. Secara tahunan, inflasi juga melandai ke level 3,09 persen (yoy), turun dari sebelumnya 4,36 persen.

Angka tersebut bahkan berada di bawah inflasi nasional yang tercatat sebesar 3,48 persen (yoy), menurun dari 4,76 persen. Penurunan ini dipengaruhi oleh koreksi harga emas serta adanya subsidi pada ongkos angkutan umum dan tarif jalan tol.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sumatera Selatan, Bambang Pramono, menjelaskan bahwa tren penurunan inflasi ini menunjukkan efektivitas berbagai langkah pengendalian yang dilakukan bersama pemerintah daerah.

“Inflasi yang lebih rendah mencerminkan terjaganya keseimbangan antara pasokan dan permintaan, serta efektivitas kebijakan stabilisasi yang telah dilakukan,” ujarnya.

Meski demikian, dinamika harga di tingkat konsumsi masih menunjukkan tekanan. Secara bulanan, inflasi tetap didorong oleh kenaikan sejumlah komoditas utama seperti daging ayam ras, bensin, telur ayam ras, hingga tarif angkutan antarkota dan kendaraan travel.

Kenaikan harga komoditas pangan, terutama daging ayam dan telur, dipicu oleh meningkatnya permintaan masyarakat. Di sisi lain, penyesuaian tarif transportasi turut berkontribusi terhadap pergerakan harga, seiring kebijakan pelaku usaha dalam merespons tingginya mobilitas.

Bambang menambahkan, ke depan tekanan harga masih perlu diwaspadai, terutama pada fase normalisasi tarif dan biaya jasa.

“Ke depan, kami terus memperkuat sinergi pengendalian inflasi agar tekanan harga tetap dapat dikelola, termasuk melalui penguatan distribusi dan ketersediaan pasokan,” katanya.

Baca Juga: Hari Fitri, Uang Baru Berpindah Tangan, Berbagi Tetap Hidup, Meski Keadaan Tak Selalu Ringan

Faktor cuaca juga menjadi perhatian. Memasuki periode pancaroba, curah hujan dengan karakteristik lokal berpotensi mengganggu produksi dan distribusi pangan. Karena itu, ketersediaan pasokan komoditas strategis seperti telur, daging ayam, bawang, dan cabai perlu terus dijaga.

Di sisi lain, harga emas diperkirakan tetap berada pada level tinggi, seiring meningkatnya ketidakpastian global yang turut memengaruhi pasar.

Untuk menjaga keseimbangan harga, Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Sumatera Selatan memperkuat berbagai langkah pengendalian. Hingga akhir Maret 2026, telah dilaksanakan 145 kegiatan operasi pasar murah di berbagai wilayah, serta puluhan inspeksi pasar guna memastikan harga tetap sesuai ketentuan dan stok tersedia.

Upaya stabilisasi juga dilakukan melalui subsidi harga dan subsidi ongkos angkut. Sepanjang periode tersebut, fasilitasi distribusi komoditas pangan dilakukan puluhan kali dengan total puluhan ton bahan pokok, guna memastikan ketersediaan dan keterjangkauan harga bagi masyarakat.

Koordinasi lintas instansi terus diperkuat melalui berbagai forum, termasuk komunikasi kebijakan kepada masyarakat. Di tingkat daerah, program Gerakan Sumsel Mandiri Pangan (GSMP) juga terus digencarkan sebagai bagian dari upaya memperkuat ketahanan pangan.

Ke depan, Bank Indonesia bersama pemerintah daerah berkomitmen menjaga inflasi tetap dalam sasaran, sekaligus memperkuat sektor pangan dan mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih inklusif dan berkelanjutan.

Load More