- BRIN mengonfirmasi fenomena bola api di langit Lampung merupakan sampah antariksa berupa sisa roket yang memasuki atmosfer.
- Objek tersebut terbakar akibat gesekan udara dengan suhu tinggi sehingga memancarkan cahaya terang di langit malam.
- Sebagian besar sampah antariksa terbakar habis sebelum mencapai Bumi sehingga risiko jatuhnya objek ke daratan sangatlah kecil.
SuaraSumsel.id - Apa yang sebenarnya melintas di langit Lampung hingga terlihat seperti bola api raksasa? Di tengah spekulasi liar, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memastikan fenomena itu bukan meteor, melainkan sampah antariksa. Penjelasan ini langsung memicu rasa penasaran: benarkah ada “sampah” yang beredar di luar angkasa dan bisa jatuh ke Bumi?
Fenomena yang viral tersebut terjadi saat sebuah objek masuk ke atmosfer dengan kecepatan tinggi. Gesekan dengan udara membuatnya memanas, terbakar, lalu berpijar terang seperti bola api yang melintas panjang di langit. Bagi masyarakat awam, tampilannya memang sangat mirip meteor. Namun, secara ilmiah, keduanya berbeda.
Sampah antariksa merupakan benda buatan manusia yang sudah tidak berfungsi lagi di luar angkasa. Objek ini bisa berupa satelit mati, sisa roket, hingga pecahan kecil dari wahana yang pernah diluncurkan. Jumlahnya terus bertambah seiring meningkatnya aktivitas peluncuran satelit di seluruh dunia.
Dalam kasus di Lampung, BRIN menyebut objek tersebut merupakan bagian dari roket luar angkasa yang kembali masuk ke atmosfer Bumi.
Saat proses itu terjadi, suhu meningkat drastis hingga ribuan derajat, menyebabkan benda tersebut terbakar dan pecah. Efek visual inilah yang kemudian terlihat sebagai cahaya terang dan dramatis di langit malam.
Meski terdengar mengkhawatirkan, sebagian besar sampah antariksa sebenarnya akan habis terbakar sebelum mencapai permukaan Bumi. Risiko jatuh ke daratan memang ada, tetapi sangat kecil dan jarang terjadi. Karena itu, fenomena seperti di Lampung lebih sering menjadi tontonan langka daripada ancaman nyata.
Indonesia sendiri termasuk wilayah yang cukup sering menyaksikan fenomena semacam ini. Letaknya di sekitar garis khatulistiwa membuat banyak jalur orbit satelit melintasi wilayah udara Nusantara, sehingga peluang melihat benda masuk atmosfer menjadi lebih besar.
Fenomena bola api di Lampung menjadi pengingat bahwa aktivitas manusia kini tidak hanya meninggalkan jejak di Bumi, tetapi juga di luar angkasa.
Sampah antariksa adalah konsekuensi nyata dari perkembangan teknologi modern dan sesekali, “sampah dari langit” itu kembali, menciptakan pemandangan spektakuler sekaligus membuka mata banyak orang.
Baca Juga: Cuaca Panas Lahat Bikin Makeup Luntur? Ini 5 Bedak Tabur yang Terbukti Tahan Seharian
Tag
Berita Terkait
-
Penumpang Kereta di Sumsel Naik 15 Persen, Tembus 296 Ribu, Ini Penyebabnya
-
Nasabah Setia Bank Sumsel Babel Lubuklinggau Dapat Kejutan Mobil Toyota Rush
-
Rp8,68 Miliar untuk Rumah Dinas DPRD Sumsel di 2026, Apa Pertimbangan di Baliknya?
-
Awal Bulan, Momentum Tepat Upgrade Lemari dengan Promo Spesial Bank Sumsel Babel
-
ASN Sumsel WFH Tiap Jumat, Enak atau Justru Jadi Ujian Disiplin?
Terpopuler
- Kinerja Tim Komunikasi Buruk, Prabowo Diingatkan Segera Reshuffle Seskab Teddy hingga Kapolri
- Ruben Onsu Jadi Tersangka Kasus Dugaan Penipuan, Bakal Dipanggil Polisi Minggu Depan
- 20 Kode Redeem FF Aktif 20 Agustus 2026: Klaim Item Langka dan Bundle Spesial
- Lawan Pernyataan Eki Pitung, Pemuda Kaum Betawi Percaya dengan Warga Pati yang Demo 27 Agustus
- Anggaran Bencana Tak Ditemukan, Istana Malah Beli Merpati Rp305 Juta untuk Perayaan HUT ke-81 RI
Pilihan
-
KPK Tangkap Rektor Unsoed Akhmad Sodiq Terkait Dugaan Suap Penerimaan Mahasiswa Baru
-
Geger Sekaten Solo: Keributan Pecah, Adu Dorong hingga Ada yang Dipukul di Bangsal Pagongan
-
Terputus Komunikasi Pasca Gempa, Mahasiswa NTT di Jogja Bergantung Bantuan Warga untuk Bertahan
-
Polwan Ditarik Mundur, Aksi BEM UI di Menara UOB Berujung Saling Dorong dengan Aparat
-
Gaji Manajer Kopdes Merah Putih Rp7,8 Juta per Bulan Viral, Benarkah Batal Rp16 Juta?
Terkini
-
Dari Panggung KKI 2026, Belasan UMKM Sumsel Membidik Pasar Nasional hingga Ekspor
-
Karhutla Sumsel Belum Terkendali, 8 Lokasi Masih Terbakar, Air Makin Menipis
-
Bayi 3 Bulan di OKU Terbaring di ICU, 11 Hari Setelah Diduga Dianiaya Ayah Kandung
-
Jangan Takut Gagal, Kisah Reski Menembus Pendidikan Tinggi Lewat BIDIKSIBA PTBA
-
Wajah Lain Krisis Karhutla: Anak Terpapar Asap, Perempuan Lebih Berat Merasakan Beban