- Gugatan mengenai perbedaan ejaan "Sumatera" dan "Sumatra" diajukan ke MK oleh Duta Bahasa Sumsel.
- Mahkamah Konstitusi memutuskan tidak menerima gugatan karena pemohon tidak memiliki kedudukan hukum.
- Inkonsistensi penulisan antara KBBI ("Sumatra") dan undang-undang ("Sumatera") tetap belum menemukan titik terang.
SuaraSumsel.id - Perdebatan soal “Sumatera” atau “Sumatra” bukanlah perkara sederhana, meski kerap muncul dalam percakapan sehari-hari. Di balik perbedaan satu huruf itu tersimpan persoalan yang menyentuh bahasa, identitas, hingga legitimasi penamaan wilayah.
Pertanyaan yang terus berulang yakni mana kata yang sebenarnya benar. Belakangan penulisan kata tersebut akhirnya dibawa ke Mahkamah Konstitusi oleh para Duta Bahasa Sumatera Selatan yang juga mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Sriwijaya (Unsri).
Namun, alih-alih mendapat kepastian, perkara ini justru berhenti di pintu awal.
Mahkamah Konstitusi memutuskan tidak menerima gugatan tersebut. “Mahkamah berpendapat para pemohon tidak memiliki kedudukan hukum,” demikian disampaikan dalam sidang putusan.
Artinya, gugatan tidak masuk ke pokok perkara, sehingga tidak ada penilaian apakah “Sumatera” atau “Sumatra” yang benar.
Keputusan yang dibacakan pada pertengahan Maret itu pun tidak menghadirkan kepastian, melainkan menyisakan pertanyaan yang belum menemukan titik terang.
Bagi sebagian orang, perbedaan ini mungkin terdengar sepele, yakni sekadar tambahan satu huruf “e”. Namun bagi pegiat bahasa, persoalan ini jauh lebih dalam, menyangkut sejarah, identitas, hingga legitimasi penamaan wilayah.
Para pemohon menilai terdapat ketidaksinkronan antara penggunaan bahasa dalam kehidupan sehari-hari dengan regulasi. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), bentuk baku yang diakui adalah “Sumatra”. Sementara dalam berbagai undang-undang, termasuk penamaan provinsi, digunakan “Sumatera”.
Perbedaan ini bukan hanya membingungkan, tetapi juga dinilai dapat mengganggu upaya edukasi bahasa kepada masyarakat.
Baca Juga: Halal Bihalal Bank Sumsel Babel 2026: Perkuat Sinergi dan Bangun Budaya Kerja Positif
Namun langkah mereka kandas karena alasan mendasar. Mahkamah menilai para pemohon tidak memiliki kedudukan hukum atau legal standing, sehingga tidak dapat membuktikan adanya kerugian konstitusional secara langsung.
Dengan demikian, perkara dianggap tidak memenuhi syarat untuk diuji. Akibatnya, substansi utama guna memutuskan mana yang seharusnya digunakan, tidak pernah benar-benar dibahas.
Di satu sisi, KBBI sebagai rujukan resmi bahasa menetapkan “Sumatra” sebagai bentuk baku. Di sisi lain, dokumen hukum negara menggunakan “Sumatera”. Dua otoritas berbeda, dua penulisan yang hidup berdampingan.
Bagi masyarakat umum, perbedaan ini mungkin tak terlalu terasa. Namun dalam konteks administrasi, pendidikan, hingga komunikasi resmi, inkonsistensi tersebut dapat menjadi persoalan. Publik pun dihadapkan pada pilihan yakni haruskah mengikuti kaidah bahasa atau tunduk pada penamaan dalam undang-undang.
Perdebatan ini pada akhirnya membuka diskusi yang lebih luas bahwa bahasa bukan sekadar alat komunikasi, melainkan juga cermin identitas. Nama wilayah membawa sejarah panjang, kesepakatan sosial, dan pengakuan hukum.
Karena itu, upaya para Duta Bahasa tidak sekadar gugatan administratif. Ada dorongan untuk menghadirkan konsistensi, kejelasan, dan ketertiban dalam penggunaan bahasa Indonesia.
Tag
Berita Terkait
-
DPRD Sumsel: 7 Fakta Anggaran Rumah Dinas Pimpinan yang Bernilai Miliaran Rupiah
-
Jalintim Jambi-Palembang Lumpuh! Truk Sudah Ditahan, Macet di Muba Tak Kunjung Usai
-
5 Fakta Macet Parah di Tungkal Jaya Muba, Kendaraan Terjebak hingga Pemudik Terlantar Berjam-jam
-
Setelah Meja Biliar Disorot, Ini Sederet Anggaran Rumah Dinas Pimpinan DPRD Sumsel Berbiaya Mewah
-
Meja Biliar Rp486 Juta di Rumdin DPRD Sumsel Jadi Sorotan, Berapa Sih Harga Aslinya?
Terpopuler
- Xiaomi 17 Jadi Senjata Baru Konten Kreator, Laura Basuki Tunjukkan Hasil Foto Leica
- 5 Bedak Lokal yang Awet untuk Kondangan, Tahan Hingga Belasan Jam
- Awal Keberuntungan Baru, 4 Shio Ini Akhirnya Bebas dari Masa Sulit pada 11 Mei 2026
- 6 Rekomendasi Sepeda 1 Jutaan Terbaru yang Cocok untuk Bapak-Bapak
- 5 Bedak Tabur Translucent Lokal yang Bikin Makeup Tampak Halus dan Tahan Lama
Pilihan
-
Nyanyi Bareng Jakarta: Melodi Penenang bagi Jiwa yang Terpapar Debu Ibu Kota
-
Salah Satu Korban Dikunci dari Luar, Dengar Kiai Ashari Lakukan Aksi Bejat di Kamar Sebelah
-
Review If Wishes Could Kill: Serial Horor Korea yang Bikin Kamu Mikir Sebelum Buat Permintaan!
-
Suporter Persipura Rusuh, Momen Menegangkan Pemain Adhyaksa FC Dilempari Botol
-
Kronologi Haerul Saleh, Anggota BPK RI Eks Anggota DPR Meninggal saat Rumahnya Kebakaran
Terkini
-
PTBA Bina Karakter Siswa Ring 1, Anak-anak Disiapkan Jadi Generasi Unggul Masa Depan
-
Terkuak Dugaan Modus Korupsi KUR BSI Rp9,5 Miliar, Dana Petani Tambak Udang Diduga Tak Tepat Sasaran
-
68 Paket Sabu Ditemukan dalam Kotak Rokok dan Wadah Gatsby di Pohon Sawit
-
Rekrutmen Mitra Statistik BPS 2026 Dibuka, Fresh Graduate di Palembang Banyak Cari Info Ini
-
Setelah Balita Tewas, Banjir Muratara Kini Sisakan Warga Terisolasi dan Jembatan Putus