- Festival Bidar Palembang adalah warisan budaya Kesultanan Palembang di Sungai Musi, kini jadi agenda HUT RI.
- Ciri khas lomba perahu kayu panjang ini adalah kekompakan pendayung melambangkan gotong royong masyarakat.
- Festival ini diadakan di Sungai Musi, menarik ribuan penonton, serta menjadi ikon pariwisata unggulan Palembang.
SuaraSumsel.id - Festival Bidar Palembang merupakan tradisi lomba perahu khas Sumatera Selatan yang digelar di Sungai Musi. Lebih dari sekadar ajang adu cepat perahu panjang, Festival Bidar Palembang adalah warisan budaya yang hidup sejak masa Kesultanan Palembang Darussalam dan terus bertahan hingga kini.
Setiap perhelatan digelar, ribuan warga memadati bantaran Sungai Musi untuk menyaksikan perahu-perahu bidar melaju selaras, menyatu dengan denyut sejarah kota tertua di Indonesia ini.
Festival Bidar Palembang adalah perlombaan perahu tradisional yang menggunakan perahu bidar, yakni perahu kayu panjang yang bisa diisi belasan hingga puluhan pendayung. Lomba ini biasanya digelar untuk memeriahkan peringatan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia, sekaligus menjadi agenda budaya dan pariwisata unggulan Kota Palembang.
Ciri khas Festival Bidar terletak pada kekompakan para pendayung. Irama kayuhan harus serasi, karena sedikit saja kehilangan tempo bisa membuat perahu melenceng atau kehilangan kecepatan. Inilah yang membuat lomba bidar bukan hanya soal tenaga, tetapi juga kerja sama dan disiplin.
Jejak sejarah perahu bidar dapat ditelusuri hingga masa Kesultanan Palembang Darussalam. Pada masa itu, perahu bidar bukan sekadar alat transportasi sungai, melainkan bagian dari armada pertahanan kesultanan di Sungai Musi.
Dalam berbagai catatan sejarah Palembang, perahu bidar digunakan untuk patroli sungai dan pengawalan tamu-tamu penting kesultanan. Perahu panjang dan ramping ini digunakan untuk patroli serta pengawalan tamu-tamu penting.
Seiring berjalannya waktu dan berubahnya fungsi militer, perahu bidar kemudian beralih menjadi sarana perlombaan rakyat. Tradisi adu cepat ini diwariskan turun-temurun, hingga akhirnya dikenal luas sebagai Festival Bidar Palembang yang rutin digelar setiap tahun.
Di balik kemeriahan Festival Bidar Palembang, tersimpan nilai filosofis yang kuat. Sejumlah budayawan Palembang menyebut Festival Bidar sebagai simbol gotong royong dan disiplin kolektif masyarakat sungai. Kekompakan pendayung melambangkan semangat gotong royong masyarakat Palembang. Tidak ada satu pendayung pun yang bisa mengalahkan tim lain sendirian; kemenangan hanya bisa diraih melalui kebersamaan.
Selain itu, Festival Bidar juga mencerminkan hubungan erat masyarakat Palembang dengan Sungai Musi. Sungai ini bukan sekadar aliran air, melainkan urat nadi kehidupan, pusat perdagangan, budaya, dan sejarah.
Baca Juga: Mengulik Alasan PLN Masih Mengangkut Batu Bara Lewat Jalan Darat di Sumsel
Perahu bidar dibuat dari kayu pilihan dengan panjang yang bisa mencapai puluhan meter. Bagian haluan biasanya dihiasi ornamen khas, sementara buritan menjadi tempat pengatur tempo atau juru mudi. Dalam satu perahu, terdapat pendayung, pengatur irama, dan pengendali arah.
Keunikan lain dari perahu bidar adalah proses pembuatannya yang masih mempertahankan cara tradisional. Para perajin perahu mengandalkan keahlian turun-temurun, menjadikan setiap perahu bidar memiliki karakter tersendiri.
Festival Bidar Palembang umumnya digelar di Sungai Musi, dengan latar ikonik Jembatan Ampera. Berdasarkan keterangan Pemerintah Kota Palembang dalam berbagai publikasi budaya, kawasan Sungai Musi dipilih karena memiliki nilai historis dan identitas kuat bagi masyarakat Palembang. Lokasi ini memberikan daya tarik visual yang kuat, baik bagi penonton langsung maupun wisatawan yang menyaksikan melalui foto dan video.
Saat festival berlangsung, suasana Sungai Musi berubah menjadi lautan manusia. Sorak-sorai penonton berpadu dengan dentuman genderang dan aba-aba pendayung, menciptakan atmosfer yang khas dan sulit ditemukan di tempat lain.
Dalam beberapa tahun terakhir, Festival Bidar Palembang semakin diposisikan sebagai ikon wisata budaya. Pemerintah daerah dan pelaku pariwisata melihat potensi besar festival ini untuk menarik wisatawan domestik maupun mancanegara.
Melalui Festival Bidar, Palembang tidak hanya menawarkan tontonan, tetapi juga pengalaman budaya yang autentik. Wisatawan dapat mengenal sejarah Sungai Musi, tradisi masyarakatnya, hingga kuliner khas yang dijajakan di sekitar lokasi festival.
Tag
Berita Terkait
-
7 Fakta Tragis Lansia di Palembang Jadi Korban Perampokan, Jasad Ditemukan Membusuk
-
Ziarah Kubro Palembang 2026: Jadwal Lengkap, Rangkaian Acara, dan Maknanya
-
5 Fakta Narkoba Etomidate Berkedok Vape yang Beredar di Palembang
-
3 Hotel Bintang 5 di Palembang, Lokasi Strategis Kamar Super Nyaman!
-
Kasus Crazy Rich Haji Halim di Ujung Jalan, PN Palembang Siapkan Sidang Gugur Perkara
Terpopuler
- Mengapa Pertalite Mau Dihapus?
- Tak Ikut Aksi Bareng Mahasiswa di Bundaran HI Hari Ini, Said Iqbal Ungkap Alasan Buruh
- Kaki Masih Pegal Setelah Lari? Ini 5 Sepatu Recovery Run Lokal dengan Review Terbaik
- Apa Itu Sepatu Hybrid? Ini 5 Rekomendasi Buatan Lokal Terbaik dan Serbaguna
- Neymar Dipastikan Absen di Piala Dunia 2026, Kesalahan Pertama Ancelotti
Pilihan
-
Aliansi Rakyat Memanggil Kritik Sederet Program Pemerintah, Tuntut Prabowo-Gibran Lengser
-
Hasil Piala Dunia 2026: Hajar Paraguay, Start Sempurna Amerika Serikat
-
Neymar Dipastikan Absen di Piala Dunia 2026, Kesalahan Pertama Ancelotti
-
Thamrin Lumpuh Total, Massa Aksi Mengular hingga Dukuh Atas Hingga Jumat Malam
-
Ngotot Mau Demo di Bundaran HI Meski Dihadang Aparat, Mahasiswa: Istana dan DPR Tak Mendengar Kami!
Terkini
-
Car Free Day di Ampera Resmi Dimulai, Mampukah Bertahan atau Sekadar Seremonial?
-
Begal Bersenjata Kembali Hantui Palembang, Perempuan Pulang Kerja Jadi Korban, Motor Raib
-
Setelah Jakarta, Aksi 'Menuju Indonesia Bangkrut' Bakal Digelar di Palembang Senin Besok
-
Ternyata Budaya Kopi Palembang Dipengaruhi Arab, India, Persia dan Tiongkok
-
Jejak Karier Bambang Ismawan, Eks Kasum TNI yang Kini Pimpin PTBA