Tasmalinda
Jum'at, 06 Juni 2025 | 18:32 WIB
Pembukaan festival di bulan Juni Palembang

Menurutnya, di balik niat baik program tersebut, tersembunyi strategi untuk menenangkan dan mengalihkan perhatian rakyat dari persoalan-persoalan struktural yang sebenarnya mendalam.

"Makan siang gratis itu dipakai negara untuk mencuci otak agar kita lupa siapa yang bikin negeri ini rusak. Kita di sini makan sama-sama sebagai solidaritas, bukan belas kasihan," ujarnya.

Pembukaan festival di bulan Juni di Palembang

Esai, dan Puisi: Suara yang Melawan

Setelah makan siang, festival berlanjut ke sesi pembacaan esai dan puisi yang penuh emosi dan pesan mendalam. Asmaran Dani membuka dengan esai yang mengungkap musibah ekologis di berbagai penjuru Indonesia, yang ia lihat sebagai akibat dari keserakahan manusia yang dilegitimasi oleh kekuasaan negara.

Selanjutnya, Bella dari Readsistance membawakan esai yang menyayat hati tentang sebuah desa yang terpaksa berkonflik dengan kawanan gajah akibat proyek korporasi, menggambarkan trauma kolektif yang dialami oleh manusia dan satwa.

Di sela itu, JJ Polong mengalunkan puisi yang mengajak komunitas untuk bersatu membangun perlawanan.

Sementara itu, puisi-puisi dari Husni dan Himapersta menyuarakan kegelisahan mendalam atas kerusakan alam yang terus diperparah oleh kerakusan manusia dan sistem yang membiarkannya berlangsung tanpa hambatan.

"Puisi itu alat untuk menyampaikan amarah tanpa harus berteriak. Kita sampaikan lewat kata-kata, semoga bisa mengetuk kesadaran," ujar Rajab Himapersta seusai membaca puisinya.

Zona Otonomi Sementara di Tengah Kota

Baca Juga: Panduan Lengkap Jadwal dan Lokasi Sholat Idul Adha di Palembang untuk Ibadah Khusyuk

Festival Bulan Juni bukan sekadar perayaan biasa. Festival ini hadir sebagai Zona Otonomi Sementara (Temporary Autonomous Zone), sebuah ruang yang bebas dari kendali negara dan pasar, konsep yang terinspirasi dari pemikiran Hakim Bey.

Dalam ruang ini, komunitas-komunitas dapat memperkuat diri, menyuarakan kritik, dan memupuk solidaritas tanpa rasa takut atau tekanan.

“Festival Bulan Juni mengajak kita untuk menciptakan ruang yang tak bisa diatur oleh negara maupun korporasi. Ini adalah ruang kita bersama,” tegas Asmaran.

Perayaan ini akan terus berlangsung sepanjang bulan dengan rangkaian acara menarik, mulai dari diskusi, pemutaran film, pertunjukan musik akustik, hingga berbagai lokakarya komunitas.

Di sore yang hangat itu, di sudut kecil kota Palembang, senyum dan suara solidaritas kembali mengisi ruang otonom yang lahir dari semangat perlawanan dan kebersamaan komunitas.
  
 

Load More