Menurutnya, di balik niat baik program tersebut, tersembunyi strategi untuk menenangkan dan mengalihkan perhatian rakyat dari persoalan-persoalan struktural yang sebenarnya mendalam.
"Makan siang gratis itu dipakai negara untuk mencuci otak agar kita lupa siapa yang bikin negeri ini rusak. Kita di sini makan sama-sama sebagai solidaritas, bukan belas kasihan," ujarnya.
Esai, dan Puisi: Suara yang Melawan
Setelah makan siang, festival berlanjut ke sesi pembacaan esai dan puisi yang penuh emosi dan pesan mendalam. Asmaran Dani membuka dengan esai yang mengungkap musibah ekologis di berbagai penjuru Indonesia, yang ia lihat sebagai akibat dari keserakahan manusia yang dilegitimasi oleh kekuasaan negara.
Selanjutnya, Bella dari Readsistance membawakan esai yang menyayat hati tentang sebuah desa yang terpaksa berkonflik dengan kawanan gajah akibat proyek korporasi, menggambarkan trauma kolektif yang dialami oleh manusia dan satwa.
Di sela itu, JJ Polong mengalunkan puisi yang mengajak komunitas untuk bersatu membangun perlawanan.
Sementara itu, puisi-puisi dari Husni dan Himapersta menyuarakan kegelisahan mendalam atas kerusakan alam yang terus diperparah oleh kerakusan manusia dan sistem yang membiarkannya berlangsung tanpa hambatan.
"Puisi itu alat untuk menyampaikan amarah tanpa harus berteriak. Kita sampaikan lewat kata-kata, semoga bisa mengetuk kesadaran," ujar Rajab Himapersta seusai membaca puisinya.
Zona Otonomi Sementara di Tengah Kota
Baca Juga: Panduan Lengkap Jadwal dan Lokasi Sholat Idul Adha di Palembang untuk Ibadah Khusyuk
Festival Bulan Juni bukan sekadar perayaan biasa. Festival ini hadir sebagai Zona Otonomi Sementara (Temporary Autonomous Zone), sebuah ruang yang bebas dari kendali negara dan pasar, konsep yang terinspirasi dari pemikiran Hakim Bey.
Dalam ruang ini, komunitas-komunitas dapat memperkuat diri, menyuarakan kritik, dan memupuk solidaritas tanpa rasa takut atau tekanan.
“Festival Bulan Juni mengajak kita untuk menciptakan ruang yang tak bisa diatur oleh negara maupun korporasi. Ini adalah ruang kita bersama,” tegas Asmaran.
Perayaan ini akan terus berlangsung sepanjang bulan dengan rangkaian acara menarik, mulai dari diskusi, pemutaran film, pertunjukan musik akustik, hingga berbagai lokakarya komunitas.
Di sore yang hangat itu, di sudut kecil kota Palembang, senyum dan suara solidaritas kembali mengisi ruang otonom yang lahir dari semangat perlawanan dan kebersamaan komunitas.
Berita Terkait
-
Panduan Lengkap Jadwal dan Lokasi Sholat Idul Adha di Palembang untuk Ibadah Khusyuk
-
Olahan Daging Kurban Praktis: Resep Malbi Khas Palembang yang Wajib Dicoba
-
Jembatan Ampera Ditutup 3 Jam Saat Salat Idul Adha, Ini Rute Alternatif dan Lokasi Parkir
-
Viral Sapi Kurban Lepas Masuk Indomaret di Palembang, Pengunjung Kocar-kacir
-
Selamat Datang Sumsel United! Sriwijaya FC Tak Lagi Sendiri di Liga 2
Terpopuler
- 3 Moisturizer Kolagen untuk Kulit Keriput Usia 45 ke Atas, Bikin Wajah Kencang Sesuai Review
- 5 Sepatu Skechers Max Cushioning yang Empuk untuk Jalan Kaki Jauh dan Olahraga
- 4 Parfum Aroma Teh di Alfamart yang Tahan Lama Sesuai Review, Harga Mulai Rp30 Ribuan
- Rekomendasi Produk Viva untuk Eksfoliasi Wajah, Mulai Rp12 Ribuan
- Apakah Pertalite Akan Naik Harga 26 September 2026? Ini Kata Bahlil
Pilihan
-
Tanpa Pengacara, WNI Didakwa Edarkan 25 Kg Heroin: Terancam Hukuman Mati di Malaysia
-
Dramatis! Ubed Persembahkan Medali Emas Asian Games 2026 untuk Indonesia
-
Massa Buruh Mulai Padati Thamrin, Andi Gani Pimpin Langsung Aksi Tuntut Keadilan RUU Ketenagakerjaan
-
Bawa Kentongan Hingga Kenakan Topi Caping, Massa Hari Tani Nasional Mulai Padati Depan Gedung DPR
-
Hukuman Lebih Ringan, Pengadilan Tinggi DKI Jakarta Vonis Nadiem Makarim 9 Tahun Penjara
Terkini
-
Pestapora 2026 Makin Meriah Bareng BRImo, Ada Cashback hingga Aktivitas Berhadiah
-
PHR dan Kejaksaan Agung Kawal Kerja Sama Produksi Sumur Minyak BUMD, Koperasi, dan UMKM
-
Dari Energi untuk Negeri, Kilang Plaju Hadirkan Harapan Dengan Donor Darah
-
Sumsel Raih 3 Penghargaan TPID dan TP2DD Awards 2026
-
Dua Pulau Baru Muncul di Dekat Anak Krakatau, Apakah Ini Pusat Erupsi Baru?