Scroll untuk membaca artikel
Tasmalinda
Selasa, 27 Februari 2024 | 21:34 WIB
Kepala BI Perwakilan Sumsel, Ricky P saat memberikan sambutan saat capacity building jurnalis

Sementara Sumsel dengan berbagai kekuatan wisata, pun akan mampu memnberikan sumber ekonomi baru lainnya.

Sumsel terutama Palembang dikenal memiliki kekuatan kuliner seperti halnya pempek, pindang, yang tidak hanya olahan ikan, namun juga kuliner-kuliner khas sehingga munculnya kampung-kampung kuliner di sejumlah daerah.

Selain itu, Sumsel juga punya kekuatan dari sektor alam seperti halnya Sungai Musi, dan keberagaman budaya masyarakat, baik Melayu, Islam dan Tionghoa.

"Sumsel ini teramat kaya budaya, kuliner, semuanya itu modal wisata yang akan terus bisa dikembangkan," ucapnya menjelaskan.

Baca Juga: Perahu Terbalik di Sungai Sugihan, Ayah Hilang, Ibu Meninggal, Bocah 5 Tahun Selamat

Perwujudan pariwisata diakui membutuhkan dukungan banyak pihak baik pemerintah, unsur ekonomi lainnya, masyarakat dan jurnalis.

"Karena itu dalam kesempatan ini kita mengunjungi objek wisata Floating Market dan kesenian Bang Udje yang memperlihatkan bagaimana wisata dikemas dengan apik dari segala unsur. Ada yang mengoptimalkan budaya dan kesenian angklung, ada yang mengoptimalkan UMKM setempat agar menjadi kawasan wisata," ucapnya.

Ekonomi Sumsel 2024

Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sumatera Selatan M. Latif  dalam paparannya mengungkapkan apa yang menjadi pendorong ekonomi Sumsel saat ini.

Terdapat enam faktor pendorong ekonomi Sumsel saat ini yakni penyelesaian pembangunan PSN jelang berakhirnya masa kepemimpinan Presiden Jokowi, terutama proyek bendungan dan irigasi, Pemilu, Optimalisasi lahan tabama dan penangkaran benih berkualitas, cuaca yang relatif lebih terkendali,  proyek pengembangan angkutan batubara Tanjung Enim - Kramasan oleh PTBA serta pembangunan pabrik tissue di OKI.

Baca Juga: Terapkan Sistem Antrean, Berikut Cara Dapatkan Tiket Kereta Untuk Mudik Lebaran

Sedangkan prediksi penahan ekonomi Sumsel pada tahun 2024, yakni peningkatan tensi geopolitik berdampak pada volatilitas harga dan nilai tukar, krisis real estate di Tiongkok, oversupply minyak global,  Penurunan target produksi batu bara tahun 2024 dari realisasi 2023, ekspansi EBT oleh industri mendukung Net Zero Emission (NZE) serta adanya resiko Pemilu.

Load More