“Sengaja ke sini (Kambang Iwak). Dahulu, sepedanya masih sewa, sekarang sudah punya. Karena tertarik dan akhirnya beli sepeda listrik. Selain untuk anak-anak, juga pakai sendiri,” aku Ica.
Dia membeli sepeda listrik secara online di marketplace ternama. Awalnya, ia pun mengaku bertanya pada mereka yang sudah membeli lebih dahulu, termasuk pemilik jasa penyewaan sepeda listrik. Ica berusaha membandingkan jika memiliki sepeda listrik dan motor berbahan bakar fosil.
“Bagi ibu-ibu rumah tangga seperti saya ini, yang penting jangan pakai ribet saja. Jika punya motor kan mesti isi bensin, dan sekarang sudah makin lama di SPBU. Jika pakai sepeda listrik, cukup isi di rumah saat malam hari lalu besok pagi sudah bisa dipakai,” aku Ica.
Dia pun saat kekinian menggunakan sepeda listrik dalam kehidupan sehari-hari. Mulai pagi hari mengantarkan salah satu anaknya ke sekolah, setelah itu ke pasar tradisional. Setelah selesai membeli kebutuhan di pasar, ia juga kembali ke sekolah menjemput anak.
Pada sore hari, Ica juga sering mengantarkan dan menjemput anak mengaji ke masjid yang tidak jauh dari komplek perumahannya. “Sepeda listrik sudah cukup memenuhi kebutuhan ibu-ibu seperti saya. Bisa dipergunakan dengan sumber energi yang tersedia di rumah. Tidak susah harus cari bensin,” ungkap Ica.
Ica yang juga berprofesi sebagai pegawai perbankan ini mengaku makin tetarik menggunakan peralatan berbahan bakar bersumber listrik. Dia pun sudah membeli kompor listrik karena makin tertarik setelah mendatangi pameran yang diselenggarakan PLN WS2JB di kantornya. “Setelah mengetahui banyak informasi, saya mencoba membeli. Seingat saya, semasa mahasiswa, saya juga mengandalkan kompor listrik sebagai kompor di kosan,” aku Ica.
Kemeriahan malam Palembang itu, menjadi bagian bagaimana electrifying lifestyle makin menyapa Wong Sumsel. Kepala Dinas ESDM Sumsel, Hendriansyah mengatakan geliat sepeda dan skuter listrik ialah bagian ekosistem kendaraan bermotor listrik berbasis baterai (KBLBB). Pengenalan ekosistem kendaran bermotor listrik tidak hanya terjadi di Palembang, sejumlah kota dan kabupaten di Sumsel lainnya juga membentuk ekosistem yang sama.
"Sumsel pun mendorong dengan menerbitkan Peraturan Gubernur nomor 25 tahun 2022 mengenai Kendaraan Bermotor Listrik Berbasis Baterai (KBLBB). Di Sekayu, ibu kota Kabupaten Musi Banyuasin misalnya, pelajar pakai sepeda listrik ke sekolah. Pihak sekolah juga sudah menyediakan tempat khusus menyediakan pengisian listriknya," kata Hendriansyah.
Electrifying lifestyle telah menyapa wong Sumsel baik di perkotaan sampai kabupaten. “Penggunaan sepeda listrik, skuter lalu motor dan kompor memang lebih cepat dikenal di Sumsel, baru disusul mobil listrik. Salah satu penyebabnya karena sepeda dan skuter listrik diperkenalkan generasi muda juga kalangan emak-emak,” terang ia kepada Suara.com saat momen Sumsel Energi Festival yang juga dipusatkan di kawasan Kambang Iwak Park Palembang.
Baca Juga: BMKG: Waspada, Hujan Lebat di Siang Sampai Malam Hari di Sumsel
Di momen yang sama, Manajer PLN UP III Palembang, Triyono mengungkapkan Palembang menjadi kota dengan pengenal electrifying lifestyle tergolong lebih cepat. Selain peralatan kompor, motor dan mobil, anak muda di Palembang menjadi bagian yang mengenalkan peralatan listrik lebih populer (booming), yakni dengan sepeda dan skuter listrik.
“Gaya hidup mengenal peralatan listrik, electrifying lifestyle ternyata lebih cepat pada generasi muda. Hal ini tidak bisa dipungkiri, mereka sebagai pengguna mengajak yang lain,” ujarnya.
PLN pun terus berupaya menyediakan fasilitas pendukung wujud electrifying lifestyle makin dikenal. Pada tahun 2023, Palembang bakal menambah 6 unit stasiun pengisian kendaraan listrik umum (SPKLU).
“Penggunaan kendaraan listrik sudah terbukti berbiaya lebih murah dibandingkan kendaraan berbahan bakar fosil. Biayanya bisa sepertiga dari biaya bahan bakar minyak saat ini,” ujar GM PLN IUW S2JB Saleh Siswanto menjelaskan perkembangan program Electrifying Lifestyle PLN di Sumsel belum lama ini.
Tag
Berita Terkait
-
Akhir Tahun 2022, Operasi Pasar Beras Rp5.000 Per Kilogram Digelar di Palembang
-
BMKG: Waspada, Hujan Lebat di Siang Sampai Malam Hari di Sumsel
-
5 Rute Angkutan Feeder LRT Sumsel Digratiskan Sampai Tahun Baru 2023
-
Dihantam Gelombang Laut Tinggi, Kapal Crane Bass Ark Shiloh Karam di Perairan Babel
-
LRT Sumsel Kenalkan Kartu KRISS, Transaksi Transportasi Nontunai
Terpopuler
- Febrie Adriansyah Minta Emas 74 Kg dan Uang Ratusan Miliar Segera Dikembalikan
- 4 Perbedaan Rice Cooker Keramik vs Stainless Steel untuk Memasak Nasi, Mana yang Lebih Sehat?
- 3 Sepatu Jalan untuk Lansia Paling Nyaman, Hands Free Tak Perlu Membungkuk
- Spanduk Polwan saat Adang Aksi BEMI UI Kena Rujak Netizen: Bu Polwan Salah Bawa Spanduk?
- Kulkas Sharp 2 Pintu Berapa Harganya? Ini 3 Pilihan yang Dingin dan Hemat Listrik Sesuai Review
Pilihan
-
Geger Sekaten Solo: Keributan Pecah, Adu Dorong hingga Ada yang Dipukul di Bangsal Pagongan
-
Terputus Komunikasi Pasca Gempa, Mahasiswa NTT di Jogja Bergantung Bantuan Warga untuk Bertahan
-
Polwan Ditarik Mundur, Aksi BEM UI di Menara UOB Berujung Saling Dorong dengan Aparat
-
Gaji Manajer Kopdes Merah Putih Rp7,8 Juta per Bulan Viral, Benarkah Batal Rp16 Juta?
-
Dihadang Polisi di UOB Plaza, Massa UI: Ini Bukti Kita Belum Merdeka!
Terkini
-
42 Amplop Muncul Saat Pencairan Dana BOS di Lubuk Linggau, 3 Pegawai Dibebastugaskan
-
Rudiansyah Jadi 'Superman' Lawan Karhutla, Mengapa Kebakaran Hutan dan Lahan Terus Berulang?
-
51 Saksi Sudah Diperiksa, Mengapa Belum Ada Tersangka di Kasus Lampu Jalan Palembang?
-
Bank Sumsel Babel Muaradua Apresiasi Kajari OKU Selatan atas Penyelesaian Kredit Bermasalah
-
Sinergi Strategis Kilang Plaju dan BRIN Selamatkan Ikan Belida sebagai Warisan Hayati Nusantara