SuaraSumsel.id - Tempoyak merupakan salah satu jenis makanan khas Palembang, Sumatera Selatan. Kuliner asli Palembang ini berasal dari ikan yang kemudian dicampur daging buah durian yang difermentasikan.
Makanan ini biasanya dijadikan campuran saat memasak, seperti memasak ayam, pindang ikan patin ataupun brengkes atau pepes ikan khas Palembang.
Namun apa jadinya bila makanan khas Palembang ini dimakan oleh orang asing atau yang kita kenal dengan sebutan bule? Seperti dalam potongan video yang diunggah oleh akun @instapalembanggram pada, Minggu (05/05/2022) dua orang bule mencoba mencicipi brengkes tempoyak khas Palembang.
Seorang bule mengundang dua orang teman bulenya untuk mencicipi makanan dari Indonesia. Dia meletakkan brengkes tempoyak ke hadapan temannya agar dapat mereka cicipi. Dia pun merekam reaksi dari kedua temannya saat mencicipi brengkes tempoyak.
Salah satu temannya mengatakan “aku tidak berpikir satu orang di philadelphia akan makan ini” ucapnya diakhiri tawa.
Bule pertama awalnya menolak tempoyak tersebut.
“Jika kamu memberi saya ini secara normal dan saya tidak di acara ini, saya tidak akann pernah makan ini, saya akan mengatakan tidak” ucap temannya yang lain yang diketahui bernama Kyle
Kedua bule pun kemudian mulai melihat-lihat makanan tersebut sambil mengatakan makanan tersebut terlihat pedas dan menebak makanan tersebut berbahan ikan. Tanpa ragu-ragu mereka pun mulai mencicipi brengkes tempoyak tersebut dan mulai mengunyahnya dengan mulut.
“Ini ikan, tapi ada yang aneh seperti jeli, apa pun dengan jeli saya tidak bisa makan” ucap Kyle menolak tempoyak.
“Jadi kamu tidak bisa makan ikan?” tanya perekam
Baca Juga: Sumsel Sepekan, Atraksi Tong Setan Melukai 12 Anak hingga 4 Berita Menarik Lainnya
“aku suka ikan, tapi aku gsk suka yang jeli” jawab Kyle
Dia pun mengatakan pada temannya bahwa sebenarnya makanan tersebut merupakan ikan yang dimasak dengan menggunakan olahan buah durian. Setelah memakan beberapa sendok, tak disangka kedua teman bule memberikan respon yang bagus dan mengatakan makanan tersebut enak.
Dia pun akhirnya menyuruh teman-temannya untuk menilai brengkes tempoyak tersebut dari angka 1 sampai 10. Hasil penilaiannya juga bikin kaget, karena kedua bule tersebut nilai 9 dari 10.
Bule itupun pun mengatakan kata ‘Enak’ dalam bahasa Indonesia di akhir video.
Aksi kocak dua bule ini kemudian ramai dikomentari netizen.
Kontributor: Resty Rosy Muna
Berita Terkait
-
Sumsel Sepekan, Atraksi Tong Setan Melukai 12 Anak hingga 4 Berita Menarik Lainnya
-
Fakta-Fakta Atraksi Tong Setan di Sumsel Makan Korban, 12 Anak Dilarikan ke RS
-
Prakiraan Cuaca Sumsel 6 Juni 2022: 6 Wilayah Ini Bakal Dilanda Hujan Petir pada Siang Hari
-
Pemprov Sumsel Respons Positif Rencana PT KAI Kembangkan Jalur Kereta Api Batu Bara
-
Sudah Jualan 20 Tahun, Pempek Pinggir Jalan Ini Bisa Jual Lebih dari 100 Porsi per Hari
Terpopuler
- Kecil tapi Lega: Hatchback Bermesin Avanza Kini Cuma 50 Jutaan, Makin Layak Dilirik?
- Promo JCO Mei 2026, Paket Hemat Donat dan Kopi yang Sayang Dilewatkan
- 5 Rekomendasi Bedak Wardah Colorfit yang Warnanya Auto Menyatu di Kulit
- 4 Rekomendasi Parfum Lokal Wangi Tidak Lebay dan Tahan Lama untuk Perempuan
- 6 Rekomendasi Sepatu Lokal Rp 200 Ribuan, Kualitas Bintang Lima
Pilihan
-
16 Korban Tewas Bus ALS Terbakar di Muratara Berhasil Dievakuasi, Jalinsum Masih Mencekam
-
'Celana Saya Juga Hancur', Cerita Saksi yang Kena Sisa Air Keras Saat Bantu Andrie Yunus
-
Kala Harga Kebutuhan Meroket, Menulis Jadi Andalan Saya untuk Nambal Dompet
-
Hakim Gemas Anggota BAIS Siram Air Keras ke Andrie Yunus: Amatir Banget, Malu-maluin!
-
10 WNI Diamankan di Arab Saudi Terkait Haji Ilegal, Kemenhaj Pastikan Tak Akan Intervensi
Terkini
-
Identitas Korban Bus ALS di Muratara Mulai Terungkap, Ini Daftar Nama yang Sudah Teridentifikasi
-
Bus ALS yang Terbakar di Muratara Ternyata Bawa Motor dan Tabung Gas Elpiji
-
Perjalanan Pasutri asal Pati Berubah Mencekam saat Bus ALS Terbakar di Muratara
-
Kesaksian Korban Selamat Ungkap Bus ALS Sempat Bermasalah pada Radiator Sebelum Terbakar
-
Siapa Pendiri PO ALS? Kisah Bus Legendaris Sumatera di Balik Tragedi Muratara