SuaraSumsel.id - Pandemi COVID-19 memberi dampak besar bagi kehidupan masyarakat. Pembatasan pertemuan membuat banyak aktivitas ekonomi menjadi terganggu.
Tak terkecuali kehidupan kalangan yang bergelut bisnis pekerja seks komersil atau PSK. Bagi Pekerja Seks Perempuan (PSP) menjalani kondisi pendemi bukan hal yang mudah.
Pengakuannya, banyak akhirnya PSP yang memilih menurunkan harga pasaran jasanya. Banting harga karena jumlah pelanggan yang berkurang, bahkan tradisi menawar sudah makin lumrah saat ini.
Sebut saja Bunga, sosok pendamping PSP yang kerap menemui PSP Palembang dalam menjalani aktivitas “bisnisnya”. Menurut ia, pada saat ini, harga yang ditawarkan sangat miris. Jika sebelum pandemi, tarif jasa di sebuah SPA bisa di atas harga Rp 300 ribu namun sekarang kadang hanya Rp 80.000.
“Banyak obral sekarang, pelanggan sepi,” ujarnya kepada Suarasumsel.id, belum lama ini.
Bahkan di kalangan “pengasuh” pun sudah turut ikutan obral. Sang pengendali bagi PSP ini pun mengakui tradisi turun harga rata-rata terjadi semakin sering terjadi.
“PSP nya sebenarnya tidak mau, harganya murah. Tapi Mami nya maksa juga, dikasih juga harga segitu. Susah lah pokoknya sekarang, banting harganya parah,” sambung Bunga.
Dalam keterbatasan itu, PSP diakui Bunga pun mengubah metode kerjannya. PSP beralih ke dunia maya dengan sistem kerja yang sama. Munculnya banyak ruang untuk bertemu calon pembeli makin meleluasakan praktek ini. Meski tarif yang didapat juga tidak lebih baik atau lebih banyak.
“Klo online, misalnya aplikasi Chat Me, Tantan, pesan FB, sampai media sosial lainnya tidak tinggi juga. Asal dapat pelanggan aja lah, pokoknya sekarang,”sambung ia.
Namun sistem online atau menggunakan aplikasi ini tidak sepenuhnya menguntungkan PSP atau PSK. Dengan sistem media sosial, yang setiap orang juga punya trik dan modus untuk menipu, PSP pun sering menjadi korban.
Misalnya sudah memberikan jasa yang diinginkan, tiba-tiba pelanggan itu menghilang, atau malah pakai akun palsu. “Di online itu tidak juga mudah. Sering kena tipu juga,” sambung ia.
Diakui Bunga sebelum beralih menjadi pendamping PSP karena berada di lembaga pendampingan, ia pernah bergelut di dunia PSP. Pengalaman tidak mendapatkan pelanggan hingga dibayar murah ialah lika liku berbisnis di dunia tersebut.
Direktur Eksekutif Daerah Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) Sumsel Nindi pun mengungkapkan kehidupan sulit pandemi memang dirasa oleh kalangan rentan tersebut.
Bahkan, jika ditelusuri, sebagian besar mereka tidak mendapatkan bantuan pemerintah. Melalui lembaga PKBI, ia menyuarakan bantuan bagi kalangan khusus ini. Karena selama pandemi COVID 19 ini, bantuan yang khusus bagi kalangan ini belum pernah diperoleh.
“Kami harap Pemerintah memberikan perhatian khusus pada kelompok ini. Selain bagi keperluan hidup, juga bisa dialihkan menjadi modal kerja,” ujarnya.
Berita Terkait
-
Status Tanah Masjid Raya Sriwijaya Palembang Bermasalah Sejak Awal Pembangunan
-
Mimpi Palembang agar Matahari Menyengat Sepanjang Waktu
-
Kabar Baik, 6 September Siswa PAUD hingga SMP di Palembang Belajar Tatap Muka
-
Evaluasi PPKM Level 4 Palembang, Airlangga: Mobilitas Warga Naik
-
Sultan Palembang Minta Dukungan untuk Kelola Benteng Kuto Besak
Terpopuler
- Masuk Red Notice Interpol, Erick Soedjasa Ditangkap Bareskrim di Bandara Juanda
- Skandal Biksu Thailand Viral: Dana Kuil Rp46 M Raib, Emas 16 Kg Disita hingga Rekaman Tak Senonoh
- Arti Weton Bumi Kapetak Menurut Primbon Jawa: Karakter Tangguh dan Tahan Banting Menuju Sukses
- Berapa Harga Oven Mini? Cek 9 Rekomendasi Merek Berkualitas dan Kisarannya
- 8 Cara Mudah Membersihkan Panci Gosong dan Berkerak agar Kembali Kinclong
Pilihan
-
Cucu Diduga Bunuh Nenek di Palembang, Pelarian Pelaku Hanya Bertahan 50 Menit
-
Pakar UNS Soroti Pemangkasan Anggaran Kebencanaan: Negara Kita Suka Kejadian Dulu Baru Dikaji!
-
Catat! Jadwal Resmi Timnas Indonesia di FIFA ASEAN Cup 2026: Lawan Malaysia di SUGBK
-
Rp11 Triliun Disiapkan untuk Isi Rekening Massal, Seorang Dapat Berapa?
-
Harusnya Bisa Kenyang dan Sehat, 230 Siswa di Pati Malah Keracunan Usai Santap MBG
Terkini
-
Cucu Diduga Bunuh Nenek di Palembang, Pelarian Pelaku Hanya Bertahan 50 Menit
-
Taksi Listrik Hadir di Palembang, Solusi Transportasi atau Sekadar Tren Baru?
-
Derby Sumatera Dimulai! Sumsel United Bidik Balas Kekalahan dari PSMS di Laga Perdana
-
60 Hari Tak Diguyur Hujan, Karhutla Padang Sugihan Picu Kekhawatiran Habitat Gajah
-
Udara Palembang Terus Memburuk, Sampai Kapan Warga Harus Menghirup Asap?