Pada medio Agustus, titik panas sempat membara di Kabupaten Ogan Ilir, Sumatera Selatan namun Camat Tulung Selapan, Jemi menceritakan kebakaran lebih banyak pada lahan tidak produktif.
Kebakaran 2019 dengan musim kemarau lebih panjang menjadi pengalaman di Tulung Selapan.
“Sekarang ini, justru pada lahan-lahan yang tidak produktif. Tidak diusahakan, tidak terpantau aktif tapi di tahun ini jauh berkurang dibandingkan tahun-tahun lalu,” ungkapnya.
Berdasarkan data HaKI Sumatera Selatan pada tahun ini, terjadi titik panas yang tidak begitu signifikan.
Sejumlah perusahaan juga menyulut api kebakaran hutan dan lahan seperti tahun-tahun sebelumnya hanya saja tingkat kepercayaan titik panas kurang dari 75%, atau membutuhkan analisis lebih lanjut mengenai kebakaran tersebut.
Kondisi ini sangat berbeda dibandingkan tahun 2019, di mana titik api kembali muncul di lahan konsensi yang pada tahun 2015 juga terbakar.
Berdasarkan data HaKI sampai dengan 5 November 2019, PT. BMH kembali menjadi penyumbang titik panas
dengan luasan yang terbakar terluas pada tahun 2019.
“Lima dari 10 peringkat perusahaan yang terbakar tahun 2019, ialah Hutan Tanaman Industri yang berafiliasi dengan Asia Pulp and Paper (APP) – Sinar Mas berlokasi di Ogan Komering Ilir dan Musi Banyuasin, dengan luasan yang terbakar 32.991 ha,” ungkap Direktur Eksekutif HaKI, Aidil Fitri dalam keterangan persnya akhir tahun lalu.
Baca Juga: Jejak Penyulut Api Karhutla di Sumsel, Siapa Bertanggungjawab? (1)
Menurut Aidil, kebakaran pada tahun 2019 seperti mengulang kebakaran di tahun 2015, di tahun 2014 dan di tahun 1997, yakni paling luas terjadi di lahan gambut.
Pada tahun 2015, luas gambut terbakar mencapai 410.962 hektare atau 50% lebih dari total luas kebakaran hutan dan lahan yang terjadi pada IUPHHK- Izin Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu yang mencapai seluas 214.444 hektar.
“Pada tahun 2016, BMH didenda sebesar Rp 78 miliar. Lahan perusahaan berulang terjadi yakni BMH seluas 22.311 ha, BAP 1.216 ha, SBA 3.876 ha dan RHM 3.540 ha dengan 40,07% dari luas terbakar tersebut terindikasi sebagai gambut,” ungkap Aidil.
Sementara Greenpeace membeberkan data jika PT. BMH dari tahun 2015 hingga 2019 mengalami kebakaran pada 87.600 hektar lahannya yang seluas 40.400 ha terjadi pada tahun 2109.
Dengan kata lain, pada tahun lalu, mencapai hampir 46% areal terbakar itu terulang dari tahun 2015. Luasan areal yang terbakar ini lebih luas dari negara Singapura.
Greenpeace pun menyebut terdapat dua sanksi pada perusahaan ini, di antaranya yakni pembekuan sanksi sementara pada tahun 2015.
Berita Terkait
Terpopuler
- Profil dan Pekerjaan Jhon LBF, Siap Bantu Ruben Onsu Bayar Kerugian Rp3,5 M
- 3 Shio yang Menarik Keberuntungan Sepanjang September 2026, Hoki Sebulan Penuh
- Cara Membersihkan Bunga Es Tanpa Mematikan Kulkas, Aman dan Mudah Dilakukan
- 4 Tips Merebus Telur agar Mudah Dikupas, Hasil Mulus Sempurna
- 3 HP Infinix Mirip iPhone 17 Pro Max, Tampil Mewah ala Flagship
Pilihan
-
Terbuang dari Klub Orang Indonesia, Emil Audero Selangkah Lagi ke Rayo Vallecano
-
Sempat Serukan Serang Hercules! Admin Akun Pemukiman Setan Ditangkap Polisi karena Molotov
-
Pidato Pertama Sebagai Ketua Umum PBNU, Gus Kikin Berseloroh: Baru Dua Jam Saja
-
Jalani Ritual di Danau Sunter, WNA Aljazair Dievakuasi Setelah Dirayu 3 Jam
-
Diseret dari Gang ke Jalan! Kronologi Pedagang Cermin Tewas Dikeroyok Saat Demo Ricuh
Terkini
-
Sengketa Lahan Bertahun-tahun, Warga Banjarsari Bermalam di Kantor Bupati Lahat
-
Dari Menganggur hingga Panen Telur, Amat Rasakan Manfaat Program Ayam Petelur PTBA
-
Belanja Makin Mahal? Emas hingga Harga Ayam Dorong Inflasi Sumsel Naik
-
Gerak Cepat, Respons Tepat: Kilang Plaju Perkuat Kesiapan Fire Brigade Hadapi Kondisi Darurat
-
Polemik Universitas PGRI Palembang Makin Meluas, Ijazah Mahasiswa Kini Ikut Dipertanyakan