Scroll untuk membaca artikel
Tasmalinda
Sabtu, 21 November 2020 | 07:15 WIB
Biji kopi asal Sumatera Selatan (Rio/Sumsel.com)
Kopi Sumsel

Abdurahman Are, salah seorang petani kopi asal Pagaralam yang menjadi anggota Dewasekopi Basemah mengatakan dirinya sangat bangga atas keberhasilan ini.

Kopi Pagaralam sudah mampu mendapatkan pengakuan internasional, sehingga ia berharap dapat berdampak pada kesejahteraan petani karena akan semakin banyak peminat yang ingin merasakan citarasanya.

Untuk meningkatkan kesejahteraan tersebut bukan perkara mudah karena sejauh ini, hampir sebagian besar petani kopi di Pagaralam masih menerapkan pola ‘lama’ dalam memproses pasca panennya, seperti petik asalan (tidak petik merah).

Oleh karena itu harga di tingkat petani terbilang rendah yakni Rp19.000/Kg.

Baca Juga: Dedek Sempet Digorok, Sebelum Motor Dirampas dan Ditinggalkan di Kebun

Padahal, jika menerapkan pola baru dalam pasca panennya maka harga mencapai Rp34.000/Kg karena dapat menyasar pembeli kelas premium.

“Di Pagaralam itu, 90 persen penduduk adalah petani kopi. Jika ada perubahan mindset, saya yakin akan ada perubahan besar di Pagaralam karena petani kopinya semakin sejahtera,” kata dia.

Kota Pagaralam sejak lama dikenal sebagai salah satu daerah produsen biji kopi di Sumsel. Hanya saja, secara brand kurang dikenal karena umumnya kopi asal Sumsel yang lebih dikenal itu yakni Kopi Semendo, Lahat.

(ANTARA)

Baca Juga: Januari 2021, Sekolah di Sumsel Sudah Bisa Tatap Muka Asalkan...

Load More