SuaraSumsel.id - Sungai Musi yang mengaliri kota Palembang sangat dekat dalam kehidupan sehari-hari masyarakat, terutama kalangan perempuan.
Dalam sejarahnya, sungai dengan panjang hingga 750 kilometer ini sudah sangat terkenal dalam perdagangan dunia.
Berbagai literasi menyebutkan, Sungai Musi ialah pusat pemerintahan Kedatuan Sriwijaya yang merupakan kerajaan bahari yang selama lima abad menjaga Nusantara.
Sayangnya, eksistensi Sungai Musi kini terancam akibat pembangunan dan aktifitas ekonomi yang tidak berkelanjutan.
“Bukan hanya dampak ekologi, seperti kehilangan sumber air bersih, kekeringan atau banjir, juga kita kehilangan identitas bersama peradabannya sebagai bangsa bahari,” kata Sonia Anisah Utami, Koreografer tari “Rahim Sungai Musi” yang akan dipertunjukan secara live streaming melalui Youtube, channel Rumah Sriksetra, pada Selasa [13/10/2020] pukul 14.00 WIB.
Pertunjukan “Rahim Sungai Musi” yang didukung Kemendikbud serta berbagai komunitas lainnya seperti Yayasan Malaya.
“Ini kerja kolaborasi antara dunia nyata, maya [internet], dan spiritual,” katanya.
Para perempuan memiliki peran penting dalam membangun hubungan antar komunitas masyarakat dengan Sungai Musi, beserta delapan anak sungai besarnya. Seperti Komering, Ogan, Lematang, Semangus, Batanghari Leko, Rawas, Lakitan, dan Kelingi.
Ini dikarenakan perempuan setiap saat membutuhkan air dan pangan dari Sungai Musi untuk mengurus dan membesarkan anak-anaknya. Berbagai produk budaya merupakan pembauran antar budaya, seperti kerajinan dan kuliner yang masih bertahan di Sumatera Selatan yang sebagian besar dihasilkan atau diproduksi para perempuan.
Baca Juga: Mirip Jokowi, Pemkot Palembang Juga Bakal Pindah Kantor
Misalnya kerajinan kain [songket, jemputan, batik, dan lainnya], kuliner seperti pempek dan pindang ikan.
“Jika Sungai Musi mengalami kerusakan atau perubahan, tentu saja kelompok perempuan yang kali pertama menerima atau merasakan dampaknya. Mulai dari bencana banjir, kekeringan, kesehatan, dan ekonomi,” ungkap ia.
Selain itu dalam pertunjukkan tersebut juga kembali mengingatkan peradaban bahari itu yakni menjunjung nilai-nilai kebhinekaan.
“Sejak berabad-abad lalu Sungai Musi dikunjungi berbagai suku bangsa di dunia. Mereka membaur menjadi masyarakat melayu. Hybrid. Nah, hingga hari ini tercatat tidak pernah terjadi konflik antar suku atau etnis yang menetap di Sungai Musi, meskipun ada perbedaan bahasa, kepercayaan, dan lainnya,” kata Sonia.
Kesemuanya disatukan dengan tradisi yang berajak pada kearifan Sungai Musi, misalnya tata cara mandi, mencuci, mencari ikan, dan berperahu, termasuk pula tata cara berbahasa dan berinteraksi seperti berdagang.
“Semua komunitas mengenal sedekah sungai,” tutup Sonia.
Berita Terkait
Terpopuler
- Deretan Tokoh Top Bakal Turun Gunung ke UGM Besok, Bahas Nasib Bangsa Lewat Konferensi Republik
- Prabowo Disebut Habiskan Rp5,8 Miliar untuk Hotel di Paris, Sandhy Sondoro: Asoy Geboy Gemoy
- Budget Rp2 Juta Dapat HP Samsung Apa? Ini 3 Pilihan dengan RAM 8 GB, Kamera OIS, Layar AMOLED
- Terpopuler: Lipstik Tahan Lama untuk Bibir Hitam, Sepatu New Balance Tanpa Tali untuk Jalan Jauh
- Pandji Pragiwaksono Soroti 'Pengakuan Terbuka' Prabowo Soal Keterlibatan Partai dalam Tender Negara
Pilihan
-
Prabowo: Kalau Kita Lapar, Tidak Ada Bangsa Lain yang Kasihan dan Bantu
-
Prabowo Tabuh Genderang Perang: Kita Lawan Kelompok Anti Tanah Air
-
Prabowo Pidato 1 Juni 2026: Lawan Asing, Waktunya Kembali ke Ekonomi Pancasila
-
Rambah Cempaka: Perempuan yang Bersemayam di Batu Lumpang
-
Jay Idzes Tercoret! Ini Daftar Pemain Timnas Indonesia Hadapi FIFA Matchday
Terkini
-
Ryamizard Ryacudu Tutup Usia, Putra Palembang yang Menembus Puncak TNI
-
Kasus Wanita Muara Enim yang Jasadnya Dibakar Mantan Pacar: Kronologi, Motif, dan Fakta Terbaru
-
Biaya Kuliah Universitas Muhammadiyah Palembang 2026, Cek UKT Semua Jurusan dan Kedokteran
-
Pembenahan Struktur Pengawasan BUMN Dapat Dukungan Pengamat, Efisiensi Jadi Fokus Utama
-
Panduan Lengkap Bank Sumsel Babel 2026: Tabungan, BSB Mobile, KPR, KUR, dan Layanan Digital