- Kota Palembang diselimuti kabut asap parah akibat kebakaran hutan dan lahan pada Selasa, 6 Oktober 2026.
- Aplikasi IQAir dan BMKG mencatat kualitas udara di sejumlah wilayah Palembang mencapai kategori sangat tidak sehat hingga berbahaya.
- Masyarakat diimbau waspada serta mengurangi aktivitas luar ruangan karena konsentrasi partikulat dapat berubah sepanjang hari.
SuaraSumsel.id - Kabut asap masih menyelimuti Kota Palembang, Sumatera Selatan, Selasa (6/10/2026). Setelah kualitas udara sempat berada pada level sangat buruk sejak dini hari, sejumlah wilayah kembali masuk kategori berbahaya pada Selasa sore.
Berdasarkan pantauan terbaru aplikasi IQAir, tiga wilayah Palembang tercatat berada dalam kategori berbahaya. Ketiganya yakni Demang dengan indeks 322, Universitas Sriwijaya Bukit Kecil 350, dan GP PLM 352.
Sementara itu, kualitas udara di Sukarami dengan indeks 286 dan Musi 2 Palembang sebesar 250 berada dalam kategori sangat tidak sehat. Angka tersebut menunjukkan kualitas udara belum stabil sepanjang hari. Masyarakat, terutama yang beraktivitas di luar ruangan, masih perlu mewaspadai paparan partikulat.
Kualitas udara Palembang bahkan sempat mencapai level berbahaya sejak dini hari. Data BMKG mencatat konsentrasi PM2.5 di Stasiun Musi 2 mencapai 815 mikrogram per meter kubik (µg/m³) pada pukul 05.00 WIB. Di Stasiun Talang Betutu, angkanya mencapai 765,8 µg/m³ pada pukul 03.00 WIB.
Baca Juga:353 Personel Masih Berjibaku Padamkan Karhutla Muara Medak, 345 Sorti Water Bombing
Di Musi 2, konsentrasi PM2.5 tercatat 307,2 µg/m³ pada pukul 01.00 WIB dan terus meningkat hingga mencapai 815 µg/m³ empat jam kemudian.
Angka itu kemudian menurun pada pagi hari. Namun, penurunan tersebut tidak berarti seluruh wilayah Palembang terbebas dari paparan asap.
Asap karhutla masih menyelimuti Palembang
Kabut asap yang terlihat di Palembang berkaitan dengan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terjadi di sejumlah wilayah Sumatera Selatan. Asap dapat terbawa angin menuju kawasan perkotaan dan membuat konsentrasi partikulat meningkat.
BMKG Sumatera Selatan sebelumnya menyebut sebagian besar wilayah Sumatera Selatan masih berada dalam periode musim kemarau. Pada dasarian pertama Oktober 2026, sebagian besar wilayah diprediksi mengalami curah hujan rendah.
Baca Juga:'Enjoy' di Tengah Kabut Asap, Pernyataan Ratu Dewa Bikin Publik Palembang Bereaksi
Situasi itu membuat asap karhutla masih berpotensi bertahan, terutama ketika kondisi atmosfer dan arah angin mendukung pergerakannya menuju Palembang.
Perubahan angka sepanjang Selasa menunjukkan kualitas udara Palembang tidak selalu sama dari pagi hingga sore. Konsentrasi PM2.5 dapat berubah mengikuti pergerakan asap, arah angin dan kondisi atmosfer.
Karena itu, angka kualitas udara yang tercatat pada satu waktu tidak otomatis menggambarkan kondisi seluruh wilayah Palembang sepanjang hari.
Masyarakat disarankan mengurangi aktivitas fisik di luar ruangan ketika konsentrasi partikulat tinggi. Jika harus keluar rumah, penggunaan masker yang sesuai juga dianjurkan untuk mengurangi paparan partikulat.
Kabut asap pun masih menjadi persoalan yang perlu diwaspadai warga Palembang, terutama karena kualitas udara dapat kembali memburuk setelah sempat menurun pada pagi atau siang hari.