facebook

Pilihan Terpopuler News Lifestyle Indeks

Tak Ingin Masyarakat Terbelah seperti Pilpres 2019, Zulkifli Hasan Berharap Pasangan Capres-Cawapres Lebih dari 2

Wakos Reza Gautama Sabtu, 21 Mei 2022 | 10:39 WIB

Tak Ingin Masyarakat Terbelah seperti Pilpres 2019, Zulkifli Hasan Berharap Pasangan Capres-Cawapres Lebih dari 2
Ketum Partai Golkar Airlangga Hartarto, Ketum PAN Zulkifli Hasan dan Ketum PPP Suharso Monoarfa gelar pertemuan bahas kerja sama dan kemungkinan koalisi pada Pilpres 2024 mendatang di Rumah Heritage Jakarta pada Kamis (12/5/2022) malam. Zulkifli Hasan berharap pasangan capres-cawapres di pilpres 2024 lebih dari dua. [Suara.com/Bagaskara]

Dengan pasangan capres-cawapres lebih dari dua, harapan Zulkifli Hasan

SuaraSumsel.id - Ketua Umum Partai Amanat Nasional (PAN) Zulkifli Hasan berharap pasangan calon presiden dan wakil presiden pada Pemilu 2024 lebih dari dua pasang.

Dengan pasangan capres-cawapres lebih dari dua, harapan Zulkifli Hasan agar suara rakyat bisa terbagi merata di seluruh Indonesia.

Seperti diketahui menjelang pemilu 2024, PAN tergabung dalam Koalisi Indonesia Bersatu (KIB) yang digagas Golkar, PAN dan PPP.

"Kalau bisa, namanya juga usaha. Apalagi, kami partai nomor delapan. Akan tetapi, kami mencoba agar pilpres jangan dua (paslon) lagi, kalau bisa tiga atau empat. Tiga lebih bagus," kata Zulkifli saat menghadiri halalbihalal keluarga besar PAN di Makassar, Sulawesi Selatan, Jumat (20/5/2022) malam.

Baca Juga: Singgung Ridwan Kamil Soal Pilpres 2024, Politisi PDI P: Gubernur Fokus Dulu Urus Jabar

Pada saat Pilpres 2019, pihaknya telah berjuang untuk syarat ambang batas pencalonan. Namun, waktu itu PPP masih koalisi dengan PAN. Akan tetapi, belakangan berubah sehingga kalah dan syarat tetap 20 persen.

"Oleh karena itu, kami coba karena ini 20 persen supaya menghindari dua (paslon). Nanti kami coba dulu supaya ada tiga. Nah, kalau ada tiga 'kan seru," katanya.

Kendati demikian, bercermin dari pengalaman Pilpres 2019 saat PAN ikut mengusung Prabowo Subianto berpasangan Sandiaga Salahuddin Uno (Prabowo-Sandi), tapi kalah karena beberapa kekuatan besar ikut mendukung rivalnya, Joko Widodo-Ma'ruf Amin.

"Kalau pilpres, secara rasional Pak Prabowo kalah. Kenapa? Pak Prabowo media tidak ada mendukung, kedua pengusaha logistik tidak ada mendukung, ketiga operasional tidak mendukung, keempat ada sejarahnya, dan kelima berkali-kali calon kalah, jadi tidak menang," kata Zulhas.

Di sisi lain, rivalnya, Joko Widodo, punya banyak pendukung, mulai pengusaha, media, hingga beberapa pendukung lainnya. Walaupun secara hitungan nasional Jokowi menang, di beberapa daerah Prabowo juga menang tetapi bukan keluar sebagai pemenang.

Baca Juga: Terpopuler di Bekaci: Anies Baswedan Bisa Menang Pilpres 2024, Miyabi Gelar Acara di Tempat Privat

Agar tidak mengulang kesalahan yang sama, di Pilpres 2024 pihaknya langsung merespons tawaran parpol untuk menjadi bagian dari Koalisi Indonesia Bersatu sebab pada setiap pemilu parpol memiliki politik kekuasaan.

Baca Juga

Komentar

Berita Terkait