alexametrics

Pilihan Terpopuler News Lifestyle Indeks

Video Pembubaran Aksi Menolak Omnibus Law di Palembang Beredar

Tasmalinda Selasa, 06 Oktober 2020 | 14:12 WIB

Video Pembubaran Aksi Menolak Omnibus Law di Palembang Beredar
Ilustrasi demo (Shutterstock).

Aksi menolak UU Omnibus Law terekam dan beredar di masyarakat Palembang.

SuaraSumsel.id - Beberapa jam setelah ditetapkannya Undang – Undang Cipta Kerja oleh kalangan DPR RI, Senin (5/10/2020) malam, masyarakat sipil di Palembang Sumatera Selatan meresponnya dengan aksi massa.

Aksi perwakilan petani dan mahasiswa yang berlangsung pada pukul 20.00 wib sampai dengan 01.00 wib pada Selasa (6/10/2020) mengalami pembubaran oleh pihak kepolisian.

Video  dengan berbagai durasi pembubaran itu pun beredar di group Whats App masyarakat di Palembang.

Informasi yang dihimpun, aksi yang berlangsung spontan itu diikuti sekitar 45 peserta  yang datang dengan menggunakan motor.

Setelah tiba di simpang lima DPRD Sumatera Selatan, mereka menggelar mimbar bebas dengan berorasi. Setelah itu sempat juga membakar ban sebagai bentuk kekecawaan terhadap pemerintah sekaligus kalangan dewan yang mengesahkan undang-undang cipta karya.

“Iya betul, semalam kami aksi massa, spontan. Kami dari serikat tani dan dewan mahasiswa UIN Palembang sangat kecewa dengan sikap legislatif dan pemerintah. Kami menolak Undang-Undang tersebut,” ujar Seketaris Jendral (Sekjend) Wilayah Serikat Tani Nasional di Sumsel, Ki Edi Susilo dihubungi SuaraSumsel.id.

Dikatakan ia, dua massa aksi juga sempat mengalami kekerasan dari aparat polisi saat pembubaran seperti ditendang dan ditarik-tarik.

Aksi menolak UU Omnibus Law di Palembang, Sumsel (jepretan video)
Aksi menolak UU Omnibus Law di Palembang, Sumsel (jepretan video)

“Tapi sampai siang ini, motor-motor kami yang ditahan polisi masih belum bisa diurus. Delapan motor kami dibawa ke kantor Polrestabes Palembang,” sambung ia.

Ia mengungkapkan masyarakat tani dan mahasiswa ialah kalangan yang dirugikan atas undang-undang tersebut.

Karena itu, sampai dengan telah dibubarkan polisi maka masyarakat tani dan mahasiswa masih akan menggandeng kekuatan guna melaksanakan aksi massa penolakan undang-undang tersebut.

Baca Juga

Komentar

Berita Terkait