Dengan semakin sedikit produksinya, ia mengaku jumlah peminatnya pun makin menurun. Meski kainnya langkah, juga tidak mempengaruhi harga. Banyak pembeli yang menawar kain batik dengan harga normal, padahal pembuatannya juga sama dengan batik Jawa.
”Benar-benar dibatik, bukan printing (cetak). Saya juga cukup prihatin,” ujarnya.
Ia berpendapat Pemerintah juga sebaiknya memperhatikan kelestarian batik Palembang seperti halnya jumputan, songket, dan kain tenun lainnya agar para perancang busana juga makin inovatif menjadikan kain batik Palembang lebih populer.
”Semoga dengan hari batik ini, pemerintah juga makin mengenalkan batik Palembang. Karena sangat sayang jika batik tidak dilestarikan, padahal motif-motifnya juga indah,” tutupnya.
Baca Juga:Menilik Sekolah Kopi Basemah Pagaralam di Sumsel, Bisa Sambil Ngopi