- Kelompok Wanita Tani Srikandi di Desa Ganesha Mukti memanfaatkan pekarangan rumah untuk membudidayakan sayuran guna mengatasi kesulitan pangan keluarga.
- KWT Srikandi mengolah hasil pertanian lokal menjadi produk keripik bernilai jual serta mengantongi izin Pangan Industri Rumah Tangga.
- Kegiatan budidaya dan usaha produktif tersebut mendapat dukungan pendampingan dari ICRAF, perbankan, serta mitra usaha untuk memperluas pemasaran.
SuaraSumsel.id - Di Desa Ganesha Mukti, Kecamatan Muara Sugihan, Kabupaten Banyuasin, Sumatera Selatan, pekarangan rumah perlahan mendapat peran lebih dari sekadar ruang kosong di sekitar tempat tinggal.
Lahan kecil itu dimanfaatkan untuk menanam berbagai jenis sayuran yang bisa dikonsumsi keluarga, sekaligus menjadi bagian dari upaya membangun kemandirian pangan masyarakat.
Perubahan tersebut tidak lepas dari keterlibatan kelompok perempuan tani. Melalui Kelompok Wanita Tani (KWT) Srikandi, warga mulai mengembangkan kebun pangan rumah tangga, mengelola hasil panen, hingga mengolah sebagian produk pertanian menjadi makanan ringan bernilai jual.
Bagi masyarakat desa yang sebagian wilayahnya merupakan lahan gambut, ketersediaan pangan menjadi persoalan yang tidak selalu sederhana. Sekitar 20 persen rumah tangga di Ganesha Mukti pernah mengalami kesulitan memperoleh pangan, terutama pada periode Juni hingga September. Kondisi tersebut mendorong perlunya sumber pangan yang lebih dekat dengan rumah tangga.
KWT Srikandi menjadi salah satu kelompok yang mengambil peran dalam upaya tersebut. Dipimpin Siti Sari, kelompok ini memiliki 38 anggota yang terlibat dalam kegiatan pengembangan pangan dan usaha produktif perempuan.
Salah satu kegiatan yang dikembangkan adalah pemanfaatan pekarangan untuk menanam sayuran.
“Kangkung, bayam, kemangi, dan terong menjadi beberapa jenis tanaman yang dibudidayakan. Kebun-kebun kecil tersebut telah menghasilkan lebih dari sepuluh kali panen,” ujarnya belum lama ini.
Hasilnya tidak hanya dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan dapur keluarga. Sebagian sayuran juga dipasarkan melalui kegiatan Bank Sayur. Dengan cara ini, pekarangan rumah dapat menjadi sumber bahan pangan sekaligus membuka peluang tambahan penghasilan.
Perubahan tersebut membawa pendekatan baru dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari. Keluarga memiliki akses lebih dekat terhadap sayuran segar, sementara hasil kebun yang berlebih dapat dimanfaatkan untuk kegiatan ekonomi kelompok.
Baca Juga: IIPK Bank Sumsel dan TP PKK Sumsel Babel Perkuat Peran Perempuan dan Ketahanan Keluarga
Dari hasil kebun menjadi produk olahan
Upaya KWT Srikandi tidak berhenti pada kegiatan menanam dan memanen. Kelompok ini juga mengembangkan usaha pengolahan pangan melalui unit usaha Nyanding Keripik.
Berbagai bahan pangan lokal, seperti umbi-umbian, pisang, dan talas, diolah menjadi produk makanan ringan. Pengolahan tersebut menjadi salah satu cara memperpanjang pemanfaatan hasil pertanian sekaligus memberikan nilai tambah pada bahan pangan yang tersedia di desa.
Pengembangan usaha ini turut didukung peningkatan kapasitas kelompok. “KWT Srikandi telah memiliki izin Pangan Industri Rumah Tangga (PIRT), yang menjadi salah satu bekal untuk mengembangkan produksi pangan olahan,” ujarnya.
Kelompok ini juga memperoleh dukungan dari Bank Sumsel Babel dan Kibo Alliance, termasuk bantuan mesin pengolah tepung umbi. Selain itu, terdapat kemitraan dengan Koperasi Setia Kawan serta akses pemasaran melalui gerai makanan ringan di Palembang.
Dukungan tersebut membuka kesempatan bagi produk olahan warga untuk menjangkau pasar yang lebih luas. Bahan pangan yang sebelumnya lebih banyak dimanfaatkan untuk konsumsi rumah tangga kini memiliki peluang untuk dikembangkan menjadi produk usaha.
Tag
Berita Terkait
-
IIPK Bank Sumsel dan TP PKK Sumsel Babel Perkuat Peran Perempuan dan Ketahanan Keluarga
-
Dari Pekarangan ke Merah Putih: Ketika Ketahanan Pangan Tak Lagi Cukup Sekadar Menanam
-
Hari Kartini 2026, BRI Dorong Perempuan Berdaya Lewat Srikandi Pertiwi
-
Perkuat Peran Perempuan, BRI Hadirkan Kepemimpinan Inklusif dan Akses UMKM Lebih Luas
-
Panen Padi Kalium Humat Jadi Bukti Hilirisasi Batubara Menguatkan Ketahanan Pangan
Terpopuler
- Panitia Batalkan Undang Raffi Ahmad di GSI Youth Fest Hero Summit
- Sejumlah Jenderal Polri Dikabarkan Diamankan, Satu 'Bintang Empat' Sudah Dilepas
- Prestasi Kinclong Netty Rosdiana Siagian: Mundur dari Polri, Tak Sejalan dengan Hati Nurani
- Kenapa Raffi Ahmad Diboikot? Ini Kronologi Acara Sumpah Pemuda sampai Rans Carnival Sepi
- Margarito Kamis Jelaskan Isi Putusan MA, RI Tak Lagi Punya Wakil Presiden yang Sah?
Pilihan
-
Jenderal Listyo Sigit Prabowo Ditetapkan Tersangka Penyadapan Presiden Prabowo
-
Tak Perlu Bongkar Kitab, Muhammadiyah Bikin AI Khusus ChatHPT untuk Jawab Persoalan Agama
-
Sejumlah Jenderal Polri Dikabarkan Diamankan, Satu 'Bintang Empat' Sudah Dilepas
-
Gempa M 5,5 Guncang Laut Barat Laut Tanimbar, Getaran Terasa hingga Saumlaki
-
Resmi, MA Putuskan Suket Penyetaraan Ijazah Gibran Tidak Sah
Terkini
-
Mutasi 264 Perwira Polri, Kombes Heru Agung Gantikan Sonny Sebagai Kapolrestabes Palembang
-
OJK Tutup BPR Agritrans Batumarta di OKU, Ini Penyebab dan Nasib Simpanan Nasabah
-
Promo 11.11 Gadget Day Blibli Histeria, Kenali iPhone 18 Pro Max dengan Fitur Premium!
-
Dari Pekarangan ke Pasar, Perempuan Ganesha Mukti Membangun Kemandirian Pangan
-
Belum Ada Konferensi Pers Penangkapan Pelaku, Koalisi Pers Sumsel Siapkan Aksi 11 November