- Diskusi lingkungan di Masjid Baiturrahman Palembang membahas krisis karhutla Sumatera Selatan pada tahun ini.
- Para tokoh mendorong pendekatan ekoteologi agar nilai agama menjadi landasan moral pelestarian alam.
- Pendekatan nonstruktural melalui kesadaran perilaku masyarakat diharapkan mampu mencegah kerusakan lingkungan jangka panjang.
Taufik menilai persoalannya bukan semata-mata ketiadaan ajaran tentang menjaga alam, melainkan bagaimana pengetahuan tersebut diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
“Mungkin yang pernah didorong persoalan konsep. Saat ini sedang didorong konsep ekoteologi, baik di ranah mahasiswa, dosen dan lainnya,” kata Taufik dalam forum tersebut.
Gagasan itu mendapat respons dari Najib Asmani yang menyatakan bahwa pendekatan serupa telah masuk dalam pembahasan di tingkat tapak.
“Di tingkat tapak sudah masuk,” ujar Najib.
Pembahasan tersebut membuka peluang untuk menghubungkan nilai agama dengan tindakan nyata, mulai dari kebiasaan tidak membakar lahan, menjaga kawasan rawa dan gambut, hingga melibatkan komunitas keagamaan dalam pendidikan lingkungan.
Namun, menjadikan ekoteologi sebagai gerakan moral juga memerlukan langkah yang lebih konkret. Kesadaran perlu diterjemahkan menjadi kebiasaan, kegiatan komunitas, dan dukungan terhadap upaya perlindungan lingkungan.
Taufik Wijaya soroti ironi agama dan kerusakan lingkungan
Taufik menyoroti kesenjangan antara ajaran agama dan praktik kehidupan masyarakat. Ia mencontohkan ajaran Islam mengenai kebersihan, larangan membuat kerusakan, dan anjuran menanam pohon sebagai nilai yang dapat dihubungkan dengan upaya menjaga lingkungan. “Problem kita sekarang, adalah pengetahuan. Di dalam Islam kebersihan yang paling utama,” ujar Taufik.
Ia kemudian mengkritik ironi ketika masyarakat yang memiliki tradisi keagamaan kuat masih menghadapi persoalan kebakaran lahan dan banjir. “Ironinya negara kita banyak muslim, tapi di sini sering terjadi kebakaran dan banjir. Artinya kita baru Islam belum Muslim,” tuturnya.
Baca Juga: PM2.5 Palembang Tembus 1.054, WALHI Sumsel Desak Pemerintah Buka Evaluasi Dry Ice
Pernyataan tersebut menjadi kritik reflektif mengenai jarak antara keyakinan dan tindakan. Dalam kerangka ekoteologi yang dibicarakan di forum itu, nilai agama tidak berhenti pada ritual, tetapi juga perlu tercermin dalam tanggung jawab terhadap lingkungan.
Taufik juga memandang masjid dapat menjadi pusat gerakan lingkungan di tingkat masyarakat. Dengan jaringan jamaah dan aktivitas sosial yang telah terbentuk, masjid berpotensi menjadi ruang pendidikan, diskusi, serta pengorganisasian kegiatan yang berkaitan dengan kebersihan dan pelestarian lingkungan.
“Saya berharap ini (konsep ekoteologi), dapat menjadi pijakan kita untuk masuk ke dalam paradigma masyarakat. Saya memahami masjid sebagai pusat, bahwa ada gerakan lingkungan di tempat ini,” kata penulis novel Juaro tersebut.
Guru Besar Unsri: perlu membangun arus baru gerakan lingkungan
Gagasan ekoteologi itu mendapat dukungan dari Guru Besar Fakultas Pertanian Universitas Sriwijaya, Momon Sodik Imanudin, yang memiliki bidang keahlian irigasi dan drainase pertanian.
Momon sependapat bahwa nilai agama dapat menjadi salah satu landasan untuk memperkuat kesadaran menjaga alam. “Saya sepakat dengan apa yang dikatakan Pak Taufik tadi. Di dalam Islam, menebang pohon itu berpeluang mendapatkan hukuman yang pedih, apalagi membakar,” ujar Momon.
Tag
Berita Terkait
-
PM2.5 Palembang Tembus 1.054, WALHI Sumsel Desak Pemerintah Buka Evaluasi Dry Ice
-
Langit Palembang Sempat Cerah, Kabut Asap Kembali Pekat, BMKG Ungkap Faktor Pemicu
-
BNPB Evaluasi Teknologi Dry Ice, Berpeluang Diterapkan di Daerah Terdampak Karhutla
-
Bukan Sekadar Asap Kiriman, 452 Hektare Lahan Palembang Terbakar di Tengah Ekspansi Properti
-
794 Titik Panas Terdeteksi di Sumsel, 473 Berada di OKI, Udara Palembang Masih Berbahaya
Terpopuler
- Mudah, Ini Cara Menghentikan Spam Call di HP Android dan iPhone
- Pengamat Nilai Manuver KSP Listyo Bongkar Hambatan Birokrasi Jadi Investasi Jangka Panjang
- Pengacara Kamaruddin Simanjuntak Sakit Apa? Meninggal Dunia di Usia 52 Tahun
- 5 Rekomendasi Sepatu untuk Jalan Kaki 20 Ribu Langkah, Empuk dan Tidak Cepat Pegal
- Cara Menggunakan Minyak Zaitun Mustika Ratu untuk Wajah dan Rambut
Pilihan
-
Prabowo Tak Takut Ancaman MSCI, OJK: Kita Tetap Usaha Jadi Emerging Market
-
Pasar Bergejolak, Kapan Waktunya Beli, Tahan, atau Jual Saham?
-
Aktivis Greenpeace: Kalau Rakyat Menanggung Semua Krisis Sendiri, Apa Kerja Pemerintah?
-
Polisi Bunuh Polisi karena Bully, Bharatu Valdo 4 Kali Didor dan Digorok Junior
-
Kamaruddin Simanjuntak Pengacara Brigadir J Meninggal Dunia di RS Pelni
Terkini
-
Sumsel Bidik Perdagangan Karbon di Tengah Krisis Karhutla, Sejauh Mana Kesiapannya?
-
WALHI Sumsel Soroti Dry Ice di Palembang, Minta Biaya dan Hasil Evaluasi Dibuka ke Publik
-
Kembali Mahasiswa Demo Tuntut Herman Deru Mundur karena Gagal Atasi Karhutla
-
Viral Mobil Damkar Tertahan Portal di Banyuasin, Petugas Sempat Adu Argumen hingga Membongkarnya
-
Karhutla Sumsel Tak Kunjung Usai, Ekoteologi Ditawarkan untuk Mengubah Perilaku terhadap Alam