- WALHI Sumsel mendesak pemerintah membuka evaluasi dan biaya penyemaian dry ice pada 21 Oktober 2026.
- Data IQAir menunjukkan konsentrasi PM2.5 di Palembang masih sangat berbahaya meski jarak pandang membaik.
- WALHI menyatakan dry ice bukan pemadam karhutla sehingga pemerintah harus menghentikan sumber kebakaran hutan.
"Menurut WALHI, penanganan karhutla tidak boleh hanya berfokus pada respons darurat ketika asap telah menyebar. Selama sumber kebakaran masih aktif, potensi terbentuknya asap tetap ada. Pemerintah hendaknya memperkuat penanganan titik api, perlindungan kawasan gambut, pengawasan wilayah rawan kebakaran, serta penegakan hukum terhadap pihak yang terbukti bertanggung jawab," ucapnya.
Pendekatan itu menyoroti perbedaan antara menangani dampak asap dan menghentikan sumber kebakaran. Upaya mengurangi atau memengaruhi keberadaan asap di atmosfer tidak dengan sendirinya memadamkan api atau mencegah kebakaran baru.
Karena itu, WALHI mengingatkan agar penggunaan teknologi untuk penanganan kabut asap tidak mengalihkan perhatian dari langkah pencegahan dan penegakan hukum.
Pemerintah diminta membuka biaya dan hasil operasi
Desakan WALHI Sumsel juga menyentuh aspek transparansi kebijakan. Organisasi tersebut meminta pemerintah menjelaskan berapa biaya yang dikeluarkan untuk penyemaian dry ice, bagaimana keberhasilan operasi diukur, serta berapa lama dampaknya dapat bertahan.
Data sebelum dan sesudah operasi menjadi salah satu informasi penting yang perlu dipublikasikan. Perbandingan tersebut harus mempertimbangkan perubahan cuaca dan kondisi atmosfer agar dampak penyemaian tidak langsung disimpulkan sebagai penyebab tunggal membaiknya kualitas udara.
Selain itu, hasil evaluasi perlu menjelaskan apakah konsentrasi PM2.5 benar-benar turun, berapa lama penurunan berlangsung, dan bagaimana kondisi udara di wilayah yang terdampak asap.
Evaluasi penyemaian dry ice menjadi salah satu bagian dari upaya memastikan kebijakan penanganan kabut asap dapat dipertanggungjawabkan. Namun, pengendalian karhutla tetap membutuhkan penanganan sumber kebakaran, perlindungan ekosistem, dan penegakan hukum.
Pada akhirnya, keberhasilan penanganan kabut asap tidak cukup diukur dari langit yang terlihat lebih cerah. Pemerintah perlu menunjukkan data yang dapat diuji, menjelaskan penggunaan anggaran, serta memastikan sumber kebakaran ditangani.
Baca Juga: Langit Palembang Sempat Cerah, Kabut Asap Kembali Pekat, BMKG Ungkap Faktor Pemicu
Sebab, yang dibutuhkan masyarakat bukan hanya berkurangnya asap dari pandangan, melainkan udara yang benar-benar lebih bersih dan perlindungan dari risiko pencemaran.
Tag
Berita Terkait
-
Langit Palembang Sempat Cerah, Kabut Asap Kembali Pekat, BMKG Ungkap Faktor Pemicu
-
Dry Ice untuk Atasi Kabut Asap Sumsel hingga 24 Oktober, Seberapa Efektif?
-
BNPB Evaluasi Teknologi Dry Ice, Berpeluang Diterapkan di Daerah Terdampak Karhutla
-
Bukan Sekadar Asap Kiriman, 452 Hektare Lahan Palembang Terbakar di Tengah Ekspansi Properti
-
Rangkuman Kericuhan Demo Karhutla Sumsel: Ormas Berbaju Hitam, 2 Jurnalis Dianiaya, 2 Tersangka
Terpopuler
- Mudah, Ini Cara Menghentikan Spam Call di HP Android dan iPhone
- Pengamat Nilai Manuver KSP Listyo Bongkar Hambatan Birokrasi Jadi Investasi Jangka Panjang
- Pengacara Kamaruddin Simanjuntak Sakit Apa? Meninggal Dunia di Usia 52 Tahun
- 5 Rekomendasi Sepatu untuk Jalan Kaki 20 Ribu Langkah, Empuk dan Tidak Cepat Pegal
- Cara Menggunakan Minyak Zaitun Mustika Ratu untuk Wajah dan Rambut
Pilihan
-
Prabowo Tak Takut Ancaman MSCI, OJK: Kita Tetap Usaha Jadi Emerging Market
-
Pasar Bergejolak, Kapan Waktunya Beli, Tahan, atau Jual Saham?
-
Aktivis Greenpeace: Kalau Rakyat Menanggung Semua Krisis Sendiri, Apa Kerja Pemerintah?
-
Polisi Bunuh Polisi karena Bully, Bharatu Valdo 4 Kali Didor dan Digorok Junior
-
Kamaruddin Simanjuntak Pengacara Brigadir J Meninggal Dunia di RS Pelni
Terkini
-
Sumsel Bidik Perdagangan Karbon di Tengah Krisis Karhutla, Sejauh Mana Kesiapannya?
-
WALHI Sumsel Soroti Dry Ice di Palembang, Minta Biaya dan Hasil Evaluasi Dibuka ke Publik
-
Kembali Mahasiswa Demo Tuntut Herman Deru Mundur karena Gagal Atasi Karhutla
-
Viral Mobil Damkar Tertahan Portal di Banyuasin, Petugas Sempat Adu Argumen hingga Membongkarnya
-
Karhutla Sumsel Tak Kunjung Usai, Ekoteologi Ditawarkan untuk Mengubah Perilaku terhadap Alam