Tasmalinda
Minggu, 18 Oktober 2026 | 17:10 WIB
Pesawat komersial Airbus A320-216 milik maskapai penerbangan Pelita Air mendarat di Bandara Internasional Sultan Mahmud Badaruddin (SMB) II Palembang, Sumatera Selatan, Kamis (17/9/2026). Udara Palembang kembali berbahaya, PM2.5 tembus 627,8 setelah penyemaian Dry Ice [ANTARA FOTO/Nova Wahyudi/YU]
Baca 10 detik
  • Kualitas udara di Kota Palembang memburuk dan masuk kategori berbahaya akibat PM2.5 mencapai 627,8 mikrogram per meter kubik pada 18 Oktober 2026.
  • Pemerintah melanjutkan operasi modifikasi cuaca menggunakan dry ice dari 16 hingga 25 Oktober 2026 untuk mengurangi kabut asap karhutla.
  • Kepala Stasiun Klimatologi Sumatera Selatan mengimbau masyarakat untuk memakai masker dan mewaspadai risiko kesehatan akibat tingginya polusi udara.

Pada pelaksanaan sebelumnya, pemerintah melaporkan adanya perbaikan jarak pandang di Palembang setelah penyemaian dry ice. Namun, pemantauan kualitas udara pada Minggu kembali menunjukkan konsentrasi PM2.5 yang tinggi.

Perbedaan tersebut perlu dibaca secara hati-hati. Jarak pandang dan konsentrasi PM2.5 merupakan dua indikator yang berbeda. Jarak pandang yang membaik tidak otomatis berarti konsentrasi partikel halus sudah berada pada tingkat aman.

Karena itu, perkembangan kualitas udara perlu dinilai melalui data pengukuran yang berkelanjutan, bukan hanya dari perubahan visual kabut asap atau jarak pandang.

Kebakaran Masih Berlangsung, Sumber Asap Perlu Dikendalikan

Wandayantolis menyebut kebakaran yang masih terjadi di sejumlah wilayah menjadi salah satu faktor yang menyebabkan kualitas udara Palembang belum membaik.

Kondisi ini menunjukkan bahwa upaya mengurangi asap yang terperangkap di atmosfer perlu berjalan bersamaan dengan penanganan sumber kebakaran di lapangan.

Operasi modifikasi cuaca dapat menjadi bagian dari upaya penanganan kondisi atmosfer, tetapi pengendalian karhutla tetap membutuhkan pemadaman titik api, pencegahan kebakaran baru, serta penegakan hukum terhadap pihak yang terbukti melakukan pelanggaran.

Tanpa pengendalian sumber asap, konsentrasi polutan dapat kembali meningkat ketika kondisi atmosfer mendukung penumpukan asap di dekat permukaan.

Pemerintah juga perlu menyampaikan hasil evaluasi operasi dry ice secara terbuka, termasuk perubahan konsentrasi PM2.5 sebelum dan sesudah penyemaian, kondisi meteorologis saat operasi, serta seberapa lama dampak perbaikan bertahan.

Baca Juga: Dua Tersangka Pengeroyokan Wartawan di Mapolda Sumsel, Ini Dugaan Peran Masing-masing

Di tengah fluktuasi kualitas udara, masyarakat diimbau membatasi aktivitas fisik berat di luar ruangan ketika polusi berada pada tingkat sangat tidak sehat atau berbahaya.

Penggunaan masker yang sesuai untuk menyaring partikel halus, seperti respirator N95 atau KN95 yang terpasang rapat, dapat membantu mengurangi paparan. Masyarakat juga perlu mengikuti informasi kualitas udara dari sumber resmi dan memperhatikan gejala seperti sesak napas, batuk yang memburuk, atau iritasi mata.

Anak-anak, lansia, ibu hamil, serta orang dengan penyakit jantung atau gangguan pernapasan perlu mendapat perhatian khusus karena lebih rentan terhadap dampak polusi udara.

Kualitas udara Palembang yang kembali memburuk menjadi pengingat bahwa penanganan kabut asap tidak hanya menyangkut jarak pandang dan aktivitas transportasi, tetapi juga perlindungan kesehatan masyarakat.

Load More