Tasmalinda
Jum'at, 16 Oktober 2026 | 17:21 WIB
Kondisi kabut asap di Palembang, Sumatera Selatan [Mohamad Shabir Fikri/Suara.com]
Baca 10 detik
  • Pemerintah menguji teknologi dry ice di Palembang pada Kamis untuk mengatasi kabut asap akibat karhutla.
  • BMKG menyatakan penurunan konsentrasi PM2.5 dan berkurangnya kabut asap belum tentu disebabkan uji coba dry ice.
  • Kualitas udara di berbagai wilayah Palembang pada Jumat pagi masih berada pada tingkat yang berbahaya.

SuaraSumsel.id - Kabut asap di Kota Palembang, Sumatera Selatan, terpantau sedikit berkurang pada Jumat (16/10/2026) pagi, sehari setelah pemerintah menguji teknologi dry ice untuk membantu mengatasi pencemaran udara akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Namun, kondisi tersebut belum menjadi bukti bahwa teknologi dry ice berhasil mengatasi kabut asap. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyebut kecepatan angin turut memengaruhi persebaran asap, sedangkan efektivitas teknologi yang diuji masih membutuhkan pengamatan lebih lanjut.

Kepala Stasiun Klimatologi Kelas I Sumatera Selatan, Wandayantolis, menjelaskan konsentrasi partikel halus PM2.5 di Stasiun Klimatologi Musi II, Palembang, mulai menurun sekitar pukul 14.00 WIB pada Kamis (15/10/2026), sekitar satu jam setelah operasi dry ice berlangsung.

Sebelum penurunan tersebut, konsentrasi PM2.5 tercatat berada di kisaran 500 mikrogram per meter kubik sejak pukul 06.00 hingga 12.00 WIB. Pada pukul 14.00–18.00 WIB, angkanya turun ke kisaran 200 mikrogram per meter kubik.

Meski turun cukup tajam, angka tersebut masih menunjukkan pencemaran udara serius. BMKG juga belum dapat memastikan bahwa perubahan itu merupakan dampak langsung dari operasi dry ice.

PM2.5 turun, tetapi belum membuktikan dry ice efektif

Penurunan PM2.5 setelah operasi dry ice menjadi perkembangan yang perlu dicermati. Namun, urutan waktu—ketika penurunan terjadi setelah uji coba—belum cukup untuk membuktikan hubungan sebab-akibat.

Perubahan konsentrasi partikel di udara dapat dipengaruhi sejumlah faktor, termasuk kecepatan dan arah angin, kondisi atmosfer, serta perpindahan asap dari satu wilayah ke wilayah lain.

Wandayantolis menegaskan penerapan dry ice masih berada pada tahap uji coba dan memerlukan observasi lebih lanjut.

Baca Juga: Dry Ice Diuji untuk Atasi Kabut Asap, Mengapa Sumsel Masih Diselimuti Asap Pekat Berbahaya?

Pengukuran berkelanjutan di beberapa titik pemantauan juga diperlukan untuk mengetahui apakah penurunan hanya terjadi di sekitar stasiun pengamatan atau meluas ke wilayah lain.

Angin lebih kencang, kabut asap sedikit berkurang

Selain penurunan PM2.5 pada Kamis sore, kabut asap di Palembang pada Jumat pagi juga terpantau sedikit berkurang dibandingkan sehari sebelumnya.

Menurut Wandayantolis, kecepatan angin menjadi salah satu faktor penting yang memengaruhi perubahan kondisi tersebut. Angin yang lebih kencang dapat mengubah arah dan persebaran asap sehingga konsentrasi partikel yang terukur di suatu lokasi ikut berubah.

Kondisi ini menunjukkan bahwa berkurangnya kabut asap secara visual tidak otomatis menandakan polusi sudah terkendali. Asap bisa berpindah mengikuti pergerakan udara, sementara sumber kebakaran di daratan mungkin masih menghasilkan emisi.

Karena itu, pengamatan perlu menggabungkan data meteorologi, konsentrasi PM2.5, dan kondisi kebakaran di wilayah terdampak.

Load More