Tasmalinda
Kamis, 15 Oktober 2026 | 20:57 WIB
Herman Deru sebut karhutla Sumsel tersisa 6,9 Hektar, bagaimana dengan 3.800 hektar lahan terbakar
Baca 10 detik
  • Gubernur Sumatera Selatan Herman Deru menyatakan sisa kebakaran hutan dan lahan seluas 6,9 hektare pada 12 Oktober 2026.
  • Direktur Lingkar Hijau Hadi Jatmiko menemukan fakta berbeda berupa api masih menyala di empat lokasi seluas 3.800 hektare.
  • Pusdalops BPBD Sumsel mencatat 1.917 titik panas serta total luas lahan terdampak mencapai 278,75 hektare.

SuaraSumsel.id - Pernyataan Gubernur Sumatera Selatan Herman Deru yang menyebut luas kebakaran hutan dan lahan (karhutla) tersisa 6,9 hektare menjadi sorotan di tengah kabut asap yang masih menyelimuti sejumlah wilayah. Direktur Lingkar Hijau, Hadi Jatmiko, menyoroti kondisi kebakaran di lapangan yang menurutnya masih terjadi di empat lokasi dengan luasan sekitar 3.800 hektar.

Perbedaan angka tersebut memunculkan pertanyaan mengenai kondisi terkini karhutla di Sumatera Selatan (Sumsel). Apalagi, asap masih dirasakan masyarakat meskipun pemerintah menyampaikan bahwa luasan kebakaran yang tersisa telah jauh berkurang.

"Saat Deru ngomong karhutla di Sumsel tinggal 6 hektar, di waktu yang sama api masih menyala di 4 lokasi dengan luas kurang lebih 3800 hektar," ujarnya kepada Suara.com.

Persoalan ini tidak cukup dilihat dari satu angka saja. Perlu kejelasan mengenai periode pendataan, lokasi kebakaran, serta apakah angka yang disampaikan merujuk pada luas api yang masih aktif, luas lahan yang terdampak, atau akumulasi lahan yang telah terbakar.

Herman Deru Sebut Karhutla Sumsel Tersisa 6,9 Hektar

Gubernur Sumatera Selatan Herman Deru menyampaikan bahwa luas karhutla di Sumsel tersisa 6,9 hektar. Informasi tersebut disampaikan dalam rapat koordinasi penanganan karhutla bersama Presiden Prabowo Subianto pada Senin (12/10/2026).

Deru menyebut sisa kebakaran berada di sejumlah wilayah, termasuk lahan gambut di Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), Pulau Beruang, dan Muara Medak di Kabupaten Musi Banyuasin (Muba).

Deru juga menyampaikan bahwa upaya pemadaman masih dilakukan oleh satuan tugas di lapangan. Ia berharap sisa kebakaran dapat segera dituntaskan sehingga persoalan asap juga dapat diatasi.

Pemerintah membedakan antara luasan karhutla yang masih tersisa dan persoalan asap yang masih mengepul. Pemisahan tersebut penting untuk memahami kondisi penanganan kebakaran, tetapi tetap membutuhkan penjelasan data yang dapat menggambarkan situasi lapangan secara utuh.

Baca Juga: Kabut Asap Palembang Makin Parah, Jarak Pandang 50 Meter Picu Pembatalan Penerbangan

Di tengah klaim penurunan luas karhutla tersebut, Direktur Lingkar Hijau Hadi Jatmiko menyoroti informasi mengenai api yang masih menyala di empat lokasi dengan luasan sekitar 3.800 hektar.

Informasi tersebut menjadi penting untuk ditelusuri lebih lanjut, terutama untuk memastikan apakah angka itu menunjukkan luas lahan yang masih terbakar aktif atau merupakan akumulasi lahan terdampak dalam periode tertentu.

Jika kedua angka tersebut merujuk pada indikator yang berbeda, perbandingan langsung dapat menimbulkan kesalahpahaman. Karena itu, data dari pemerintah dan temuan di lapangan perlu diperiksa berdasarkan lokasi, waktu pengukuran, serta metode pendataan yang digunakan.

Kabut Asap Masih Tebal, Apa yang Sebenarnya Terjadi?

Persoalan karhutla di Sumsel tidak hanya berkaitan dengan luas lahan yang masih terbakar. Kabut asap yang bertahan di sejumlah wilayah juga menjadi persoalan tersendiri karena dapat mengganggu aktivitas warga, mengurangi jarak pandang, dan memperburuk kualitas udara.

Dalam laporan yang diterbitkan LingkariNews pada 13 Oktober 2026, data Pusdalops BPBD Sumsel mencatat 1.917 titik panas per 12 Oktober 2026. Kabupaten OKI menjadi wilayah dengan jumlah titik panas terbanyak, yakni 1.271 titik, disusul Muba sebanyak 218 titik dan Banyuasin 181 titik.

Load More