- Gubernur Sumatera Selatan Herman Deru menyatakan sisa kebakaran hutan dan lahan seluas 6,9 hektare pada 12 Oktober 2026.
- Direktur Lingkar Hijau Hadi Jatmiko menemukan fakta berbeda berupa api masih menyala di empat lokasi seluas 3.800 hektare.
- Pusdalops BPBD Sumsel mencatat 1.917 titik panas serta total luas lahan terdampak mencapai 278,75 hektare.
Laporan yang sama menyebut total luas lahan terdampak mencapai 278,75 hektare. Angka ini merupakan data dengan cakupan dan indikator tertentu sehingga perlu diperiksa lebih lanjut sebelum dibandingkan dengan angka 6,9 hektare ataupun sekitar 3.800 hektare yang disoroti dalam persoalan ini.
Perbedaan angka tersebut menunjukkan pentingnya transparansi data dalam penanganan karhutla. Publik perlu mengetahui bukan hanya berapa luas kebakaran yang berhasil dipadamkan, tetapi juga berapa titik api yang masih aktif, bagaimana perkembangan pemadaman, serta wilayah mana yang masih menghadapi ancaman kebakaran.
Penanganan Karhutla Perlu Diukur dari Kondisi Lapangan
Penanganan karhutla tidak berhenti ketika luas kebakaran dilaporkan menurun. Pemantauan titik api, pemadaman di lapangan, pencegahan kebakaran berulang, dan penanganan dampak asap tetap diperlukan.
Pemerintah Provinsi Sumsel sebelumnya menyatakan bahwa titik panas dan titik api telah berkurang, tetapi asap masih dirasakan masyarakat. Pemerintah juga menyebut upaya penanganan dilakukan melalui operasi modifikasi cuaca dan dukungan pemadaman, dengan pelaksanaan operasi udara mempertimbangkan kondisi jarak pandang.
Dalam situasi tersebut, data yang terbuka dan dapat dibandingkan menjadi penting untuk menilai perkembangan penanganan karhutla. Pemerintah perlu menjelaskan indikator yang digunakan, sementara temuan organisasi lingkungan juga perlu disertai informasi mengenai lokasi, waktu pengamatan, dan metode penghitungan.
Di tengah kabut asap yang belum sepenuhnya reda, pertanyaan utama bagi masyarakat tetap sama: berapa luas lahan yang masih terbakar, di mana saja titik api aktif berada, dan kapan dampak kebakaran benar-benar dapat dikendalikan?
Berita Terkait
-
Kabut Asap Palembang Makin Parah, Jarak Pandang 50 Meter Picu Pembatalan Penerbangan
-
Sumsel Jadi Proyek Percontohan Teknologi Dry Ice, Benarkah Bisa Mengatasi Kabut Asap?
-
Kabut Asap Belum Usai, 6 Penerbangan Bandara SMB II Palembang Kembali Terganggu
-
Demo Karhutla Berujung Pengeroyokan 2 Wartawan, Polisi Tangkap Terduga Provokator dan Sita 2 Sajam
-
AJI Palembang Desak Pelaku Pengeroyokan Wartawan di Polda Sumsel Ditangkap
Terpopuler
- Presiden RI Minta Maaf ke Malaysia - Singapura Akibat Asap, Tapi Itu SBY...
- Rudy Masud Senyum Semringah Bersama Istri di Singapura, Media Asing: Rakyatnya Sesak Nafas
- Wapres RI Mundur Saat Ekonomi Bergejolak, Hubungan Dengan Presiden Memburuk
- Urutan Skincare Pagi Viva untuk Usia 50 Tahun ke Atas, Wajah Kencang dan Awet Muda
- Rudal Houthi Ancam Piala Asia 2027 di Arab Saudi: AFC Bungkam, Jepang Resmi Mundur dari Turnamen
Pilihan
-
Maruli Simanjuntak Disebut Dilantik Prabowo Jadi Wakil Panglima TNI, Kamis Sore Ini
-
Kompak Berpakaian Dinas Lengkap Sambangi Istana, Perwira Tinggi TNI Siap Dilantik Prabowo
-
Belajar Hadapi Kekeringan dari Romo Kirjito, Mamanen Air Hujan yang Jatuh dari Langit
-
Krisis! Kelangkaan BBM Meluas Tak Hanya Bali, Antrean Berjam-jam
-
Gubernur Kaltim Rudy Mas'ud Bungkam usai Viral Sarapan di Singapura
Terkini
-
Herman Deru Sebut Karhutla Sumsel Tersisa 6,9 Hektar, Bagaimana dengan 3.800 Hektar Lahan Terbakar
-
Kabut Asap Palembang Makin Parah, Jarak Pandang 50 Meter Picu Pembatalan Penerbangan
-
Melalui Koperasi Desa dan BRILink Agen, BRI Perluas Akses Keuangan Masyarakat
-
Sumsel Jadi Proyek Percontohan Teknologi Dry Ice, Benarkah Bisa Mengatasi Kabut Asap?
-
Kabut Asap Belum Usai, 6 Penerbangan Bandara SMB II Palembang Kembali Terganggu