Tasmalinda
Senin, 05 Oktober 2026 | 17:33 WIB
Karhutla belum reda, 18 penerbangan Palembang kembali terganggu hingga Kuala Lumpur
Baca 10 detik
  • Kabut asap akibat karhutla menyebabkan penundaan delapan belas penerbangan domestik dan internasional di Bandara SMB II Palembang pada Senin.
  • Jarak pandang yang berada di bawah batas minimal menjadi pertimbangan utama pengelola bandara demi keselamatan penumpang dan kru.
  • Gangguan operasional penerbangan akibat jarak pandang terbatas tersebut telah terjadi secara beruntun dalam beberapa hari terakhir.

SuaraSumsel.id - Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali mengganggu aktivitas penerbangan di Bandara Internasional Sultan Mahmud Badaruddin II (SMB II) Palembang, Sumatera Selatan, Senin (5/10/2026).

Tak hanya penerbangan domestik, gangguan kali ini juga menyentuh rute internasional Palembang-Kuala Lumpur. Jarak pandang di sekitar bandara yang berada di bawah batas minimal membuat sejumlah penerbangan harus mengalami penundaan maupun penyesuaian operasional.

General Manager Bandara Internasional Sultan Mahmud Badaruddin II mengatakan kondisi jarak pandang menjadi pertimbangan utama dalam operasional penerbangan demi keselamatan penumpang dan kru pesawat. “Penundaan keberangkatan yang disebabkan oleh terbatasnya jarak pandang akibat kabut asap ini dilakukan guna menjaga keselamatan baik penumpang maupun kru pesawat,” demikian keterangan General Manager Bandara Internasional Sultan Mahmud Badaruddin II, Senin (5/10/2026).

Berdasarkan data pengelola bandara, terdapat 18 penerbangan yang terdampak pada Senin, terdiri atas 11 penerbangan keberangkatan dan tujuh penerbangan kedatangan.

Pada sisi keberangkatan, penerbangan yang masuk daftar terdampak antara lain IU921 rute Palembang-Jakarta, QG989 Palembang-Batam, IU302 Palembang-Pangkalpinang, JT246 Palembang-Batam, IU964 Palembang-Kualanamu, GA107 Palembang-Jakarta, QG981 Palembang-Jakarta, QG987 Palembang-Jakarta, IU923 Palembang-Jakarta dan QG985 Palembang-Jakarta.

Satu penerbangan internasional juga masuk dalam daftar tersebut, yakni AK461 rute Palembang-Kuala Lumpur.

Sementara pada sisi kedatangan, tujuh penerbangan yang terdampak yakni IU933 dari Yogyakarta, GA102 dari Jakarta, QG980 dari Jakarta, QG9962 dari Jakarta, AK462 dari Kuala Lumpur, IU924 dari Jakarta dan QG984 dari Jakarta.

Dengan demikian, gangguan akibat kabut asap pada Senin tidak hanya berdampak terhadap konektivitas Palembang dengan sejumlah kota di Indonesia, tetapi juga menyentuh penerbangan internasional.

Kembali terjadi setelah 31 penerbangan terdampak

Baca Juga: Karhutla Sumsel Tak Kunjung Reda, Mahasiswa Tagih Tanggung Jawab Herman Deru

Gangguan penerbangan pada Senin ini terjadi setelah sehari sebelumnya kondisi serupa berdampak lebih luas terhadap operasional Bandara SMB II.

Pada Minggu (4/10/2026), sebanyak 31 penerbangan tercatat terdampak akibat jarak pandang di bawah batas minimal. Data tersebut terdiri atas 15 penerbangan keberangkatan dan 16 penerbangan kedatangan. Artinya, gangguan penerbangan akibat kondisi jarak pandang kembali terjadi di Bandara SMB II dalam dua hari berturut-turut.

Kondisi tersebut juga bukan pertama kalinya terjadi dalam beberapa hari terakhir. Pada Sabtu (3/10/2026), delapan penerbangan di Bandara SMB II terdampak karena jarak pandang berada di bawah standar minimal penerbangan. Salah satunya, penerbangan QG980 rute Jakarta-Palembang, mengalami return to base (RTB).

Kabut asap membuat jarak pandang menjadi faktor penting dalam menentukan apakah penerbangan dapat berangkat maupun mendarat. Pengelola Bandara SMB II sebelumnya juga menjelaskan bahwa visibility menjadi salah satu dasar bagi bandara dan maskapai dalam menentukan operasional lepas landas serta pendaratan.

Pada Senin, kondisi jarak pandang bahkan sempat turun hingga sekitar 200 meter, berdasarkan laporan ANTARA. Sebanyak 16 penerbangan domestik dan dua penerbangan internasional tercatat mengalami keterlambatan akibat kondisi tersebut.

Meski sejumlah penerbangan terdampak, pengelola Bandara SMB II menyatakan kondisi bandara secara umum masih kondusif. Penyesuaian operasional dilakukan dengan mempertimbangkan kondisi jarak pandang dan aspek keselamatan penerbangan.

Load More