Tasmalinda
Senin, 05 Oktober 2026 | 16:53 WIB
Ditagih tanggung jawab soal karhutla, Herman Deru duduk lesehan bersama mahasiswa
Baca 10 detik
  • Mahasiswa Unsri dan UIN Raden Fatah menggelar aksi demonstrasi menuntut penanganan karhutla di Kantor Gubernur Sumsel.
  • Gubernur Herman Deru menemui massa secara langsung untuk berdialog dan menyampaikan permintaan maaf secara terbuka kepada masyarakat.
  • Mahasiswa menuntut audit wilayah gambut, transparansi dana bantuan, serta menyiapkan langkah lanjutan jika tuntutan tidak dipenuhi.

SuaraSumsel.id - Aksi mahasiswa yang mengusung tajuk “Sumsel Sesak” di Kantor Gubernur Sumatera Selatan berubah menjadi dialog terbuka. Gubernur Sumsel Herman Deru turun menemui massa dan memilih duduk lesehan bersama mahasiswa di halaman kantor gubernur.

Aksi tersebut digelar gabungan mahasiswa Universitas Sriwijaya (Unsri) dan Universitas Islam Negeri (UIN) Raden Fatah. Mereka datang menyuarakan kondisi warga yang terdampak kabut asap sekaligus menagih tanggung jawab pemerintah dalam penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Suasana yang semula berupa aksi unjuk rasa kemudian berubah menjadi ruang diskusi. Herman Deru bersama mahasiswa duduk di halaman depan Kantor Gubernur untuk mendengarkan langsung aspirasi yang disampaikan perwakilan massa.

Dalam dialog tersebut, mahasiswa menyoroti langkah mitigasi karhutla yang dinilai belum cukup dilakukan sejak awal tahun. Mereka mempertanyakan kesiapan infrastruktur di wilayah hulu meski status siaga karhutla telah digaungkan sejak dini.

Salah satu persoalan yang disoroti berada di Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI). Mahasiswa menilai tim pemadam di lapangan masih menghadapi keterbatasan sumber air dan sulitnya akses menuju kawasan gambut yang terbakar.

Mahasiswa minta Gubernur minta maaf

Di tengah dialog, mahasiswa juga membawa persoalan tersebut ke ranah pertanggungjawaban moral.

Mereka mengingatkan bahwa karhutla bukan persoalan yang baru terjadi tahun ini. Salah seorang mahasiswa menyinggung kejadian serupa pada 2023 ketika dirinya masih menjadi mahasiswa baru.

“Tahun sebelumnya terjadi, tahun 2023 ketika saya masih maba, itu juga terjadi kebakaran hutan. Dan hari ini masih terjadi lagi,” kata mahasiswa tersebut di hadapan Gubernur.
Mahasiswa kemudian meminta Herman Deru menyampaikan permintaan maaf kepada masyarakat yang terdampak.

Baca Juga: Kabut Asap Palembang Makin Pekat, 31 Penerbangan di SMB II Terganggu hingga Kuala Lumpur

“Kami minta Bapak selaku pemimpin tertinggi meminta maaf kepada kami semua. Tentu itu bukan sebagai tujuan akhir, tapi itu adalah tujuan moral,” ujar perwakilan mahasiswa.
Permintaan tersebut kemudian dijawab Herman Deru. Dialog di halaman Kantor Gubernur itu ditutup dengan permintaan maaf dari Gubernur Sumsel kepada mahasiswa.

Bukan sekadar meminta maaf

Bagi mahasiswa, permintaan maaf bukan menjadi tujuan akhir aksi. Mereka menyodorkan sejumlah tuntutan yang berkaitan dengan penanganan karhutla dan dampaknya terhadap masyarakat.

Salah satunya adalah audit dan pemulihan wilayah gambut serta kawasan yang berulang kali terbakar. Mahasiswa juga menuntut transparansi penggunaan dana bantuan Presiden dan seluruh anggaran penanggulangan karhutla agar dapat diketahui publik.

Selain itu, mereka meminta pemenuhan hak kesehatan bagi masyarakat terdampak asap, penindakan hukum yang dipublikasikan secara jelas terhadap korporasi yang terlibat, serta evaluasi mengenai kemungkinan peningkatan status bencana menjadi tanggap darurat.

Menanggapi kritik mahasiswa, Herman Deru mengatakan pemerintah bersama TNI, Polri dan unsur masyarakat terus melakukan upaya pemadaman dan pencegahan karhutla.

Load More