Tasmalinda
Minggu, 04 Oktober 2026 | 20:15 WIB
Kabut asap Palembang, pesawat dari Malaysia gagal mendarat hingga penumpang rekam momen putar balik
Baca 10 detik
  • Kabut asap pekat menyebabkan pesawat gagal mendarat dan berputar balik di Bandara SMB II Palembang pada Minggu, 4 Oktober 2026.
  • BMKG melaporkan kualitas udara Palembang masuk kategori sangat berbahaya akibat konsentrasi PM2.5 yang mencapai 903,6 mikrogram per meter kubik.
  • Wali Kota Palembang menginstruksikan pembelajaran jarak jauh dan dokter mencatat peningkatan signifikan pasien dengan keluhan gangguan pernapasan.

Gangguan penerbangan karena jarak pandang rendah telah terjadi beberapa kali selama kabut asap menyelimuti Palembang. Pada Kamis (1/10), sebanyak 12 penerbangan terdampak kondisi jarak pandang di bawah batas minimum. Sepuluh penerbangan mengalami keterlambatan, sementara dua pesawat gagal mendarat.

Salah satunya adalah pesawat Citilink QG980 dari Jakarta yang harus kembali ke bandara asal karena jarak pandang di Bandara SMB II hanya sekitar 500 meter.

Sehari setelahnya, kondisi kembali mengganggu penerbangan. Pada Sabtu (3/10), delapan penerbangan ditunda karena jarak pandang berada di bawah standar minimum penerbangan.

Kini, pada Minggu (4/10), persoalan yang sama kembali muncul.

Video penumpang yang beredar di media sosial memberikan gambaran lain dari gangguan tersebut: bukan hanya jadwal penerbangan yang berubah, tetapi penumpang juga harus menghadapi ketidakpastian ketika pesawat sudah berada di udara dan tujuan pendaratan tidak dapat dilakukan.

Gangguan di bandara menjadi salah satu dampak yang paling mudah terlihat ketika kualitas udara memburuk. Sebelumnya, kabut asap juga mulai berdampak pada aktivitas masyarakat Palembang, termasuk sekolah dan kesehatan.

Pada Minggu (4/10), Wali Kota Palembang Ratu Dewa bahkan menginstruksikan sekolah kembali menerapkan pembelajaran jarak jauh seiring pekatnya kabut asap yang menyelimuti kota.

Di sisi kesehatan, kondisi udara yang memburuk juga terjadi ketika dokter di Palembang melaporkan peningkatan pasien dengan keluhan pernapasan. Dokter Ghea Duandiza sebelumnya mengungkap pasien dengan keluhan ISPA di tempat praktiknya meningkat signifikan selama periode asap, dari kisaran 10–20 persen pada kondisi normal menjadi lebih dari separuh pasien harian.

Kondisi itu memperlihatkan bahwa kabut asap tidak berhenti sebagai persoalan jarak pandang. Ketika asap menebal, dampaknya menjalar dari ruang udara ke landasan bandara, dari jadwal penerbangan ke aktivitas sekolah, hingga ke ruang praktik dokter.

Baca Juga: Asap Karhutla Mengepung Palembang, Dokter Melihat Keluhan Pernapasan Makin Berat

Dan bagi penumpang yang berada di dalam pesawat, satu hal menjadi nyata: ketika jarak pandang tidak memenuhi batas keselamatan, perjalanan yang seharusnya berakhir di Palembang bisa saja harus berputar kembali.

Load More