- Wali Kota Palembang Ratu Dewa menargetkan penurunan kemacetan sebesar 40 persen dalam waktu 90 hari.
- Kepala Dishub Palembang Sariansyah Ismail menghadapi tantangan besar untuk membuktikan target tersebut melalui data terukur.
- Keberhasilan kebijakan ini memerlukan indikator jelas seperti waktu tempuh dan kecepatan rata-rata kendaraan di jalan.
SuaraSumsel.id - Wali Kota Palembang Ratu Dewa memasang target cukup tinggi untuk mengatasi persoalan kemacetan di Kota Palembang. Pemerintah Kota Palembang menargetkan kemacetan dapat ditekan hingga 40 persen dalam waktu 90 hari.
Target itu menjadi pekerjaan rumah baru bagi Sariansyah Ismail, yang resmi menjabat Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Palembang. Tantangannya sederhana di atas kertas, tetapi tidak mudah ketika berhadapan dengan kepadatan kendaraan di jalan.
Pertanyaannya, mungkinkah kemacetan Palembang benar-benar berkurang 40 persen hanya dalam 90 hari?
Target tersebut tidak hanya membutuhkan perubahan di lapangan, tetapi juga ukuran yang jelas mengenai apa yang dimaksud dengan penurunan kemacetan 40 persen.
Bukan Sekadar Mengatur Lampu Lalu Lintas
Kemacetan di Palembang tidak hanya berkaitan dengan banyaknya kendaraan. Persoalannya juga menyangkut perilaku pengguna jalan, titik persimpangan, parkir di badan jalan, aktivitas angkutan barang, hingga efektivitas rekayasa lalu lintas.
Karena itu, pekerjaan Sariansyah sebagai Kadishub baru tidak cukup hanya mengatur petugas di persimpangan atau mengubah waktu lampu lalu lintas.
Dishub harus mampu menentukan di mana kemacetan paling parah, kapan terjadi, apa penyebabnya, dan intervensi apa yang benar-benar mampu mengurangi waktu tempuh kendaraan.
Tanpa ukuran tersebut, angka 40 persen akan sulit diuji.
Baca Juga: Herman Deru Klaim Karhutla Sumsel Menurun, Tapi Kabut Asap Masih Bertahan di Palembang
90 Hari Jadi Waktu Pembuktian
Target 90 hari yang diberikan Ratu Dewa membuat kebijakan ini memiliki batas waktu yang jelas. Artinya, masyarakat tidak hanya menunggu janji penanganan kemacetan, tetapi dapat melihat apakah perubahan benar-benar terjadi dalam tiga bulan ke depan.
Jika target tersebut tercapai, Pemkot Palembang memiliki bukti bahwa kebijakan rekayasa lalu lintas yang diterapkan efektif.
Sebaliknya, jika kemacetan hanya berpindah dari satu ruas ke ruas lain, angka penurunan 40 persen perlu dipertanyakan kembali.
Sebab, jalan yang lebih lancar di satu titik belum tentu berarti kemacetan Palembang secara keseluruhan berkurang.
Target 40 Persen Harus Punya Ukuran
Tag
Berita Terkait
-
Herman Deru Klaim Karhutla Sumsel Menurun, Tapi Kabut Asap Masih Bertahan di Palembang
-
Hotspot Sumsel Mendadak Turun Saat Prabowo Pimpin Rakor Karhutla, Benarkah Mulai Reda?
-
Kabut Asap Palembang Makin Pekat, Kapan Sekolah Mulai Belajar dari Rumah?
-
Tak Perlu Transit, Citilink Kini Terbang Langsung Palembang-Yogyakarta Setiap Hari
-
Kabut Asap Karhutla Ganggu Bandara SMB II Palembang, 6 Penerbangan Harus Tertunda
Terpopuler
- Survei: 55 Persen Pemilih Prabowo Tidak Akan Memilihnya Kembali pada Pilpres 2029
- Selundupkan 1.689 Burung Liar ke Jakarta, Bus Sinar Jaya Dicegat di Pelabuhan Bakauheni
- KPU Bisa Tindaklanjuti Putusan MK dengan Menyatakan Syarat Pendidikan Gibran di Pilpres 2024 Tak Sah
- Rekonsiliasi Politik, Anies Baswedan Jadi Menteri Prabowo?
- Rapor Prabowo-Gibran dan Para Menteri Anjlok, Purbaya yang Dicopot Justru Jadi Menteri Terbaik
Pilihan
-
Inilah 5 Menteri yang Kinerjanya Paling Buruk Menurut Survei CELIOS
-
Polri Gerebek Sarang Narkoba Kampung Boncos dan Ambon! Operasi Masih Berlangsung
-
Prabowo Mau Ganti Panglima TNI dan Jaksa Agung Pekan Ini, Tapi...
-
Polisi Dalami Dugaan Pemalsuan Suket Pendidikan Gibran
-
PDI Perjuangan: Gibran Lebih Baik Mundur dari Wapres
Terkini
-
Asap Tebal Hambat Pemadaman Karhutla, 3 Helikopter Malaysia Masih Menunggu Respons RI
-
Terekam CCTV, Pencuri Motor di Parkiran Alfamart Prabumulih Ditangkap di Ogan Ilir
-
Sumsel Dikepung 1.917 Titik Panas, Kualitas Udara Palembang Masuk Kategori Berbahaya
-
ISPA di Sumsel Tembus 52.483 Kasus, September Jadi yang Terburuk dan Kian Mengkhawatirkan
-
Indeks Udara Palembang Masih Berbahaya, Ribuan Titik Panas Masih Terdeteksi di Sumsel