- Gubernur Herman Deru menyatakan kebakaran hutan di Sumatera Selatan menurun, namun sisa asap masih mengepung Palembang.
- Sumatera Selatan menghadapi tantangan besar mengelola 1,2 juta hektare lahan gambut rawan kebakaran di OKI dan Musi Banyuasin.
- Pemerintah daerah mengusulkan bantuan pesawat water bombing dan pembangunan lima ratus sumur bor kepada pemerintah pusat.
SuaraSumsel.id - Gubernur Sumatera Selatan Herman Deru menyebut kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di wilayahnya mulai menurun. Namun, persoalan belum sepenuhnya selesai karena asap masih terasa di Palembang, sementara sebagian besar wilayah gambut Sumsel tetap menjadi tantangan dalam penanganan karhutla.
Herman Deru mengatakan kondisi karhutla saat ini jauh lebih terkendali dibandingkan sebelumnya. Menurut dia, yang masih dirasakan masyarakat di Palembang lebih banyak berupa sisa asap yang bertahan di udara.
“Karhutla sudah menurun, sekarang tinggal asapnya. Palembang ini kan cekungan, jadi udaranya tidak cepat berkurang,” kata Herman Deru saat memberikan penjelasan dalam koordinasi penanganan karhutla bersama Presiden Prabowo Subianto di Sumatera Selatan.
Menurut Deru, jumlah hotspot di Sumsel saat ini juga sudah berada pada kisaran ratusan titik. Ia menilai kondisi tersebut menunjukkan penanganan karhutla mulai memberikan hasil, meski dampak asap masih dirasakan masyarakat.
Pernyataan tersebut menjadi gambaran lain di tengah tingginya perhatian terhadap karhutla Sumsel. Sebelumnya, data BPBD Sumsel mencatat hotspot masih mencapai ribuan titik sepanjang Agustus. Karena itu, penurunan hotspot perlu dilihat bersama dengan kondisi udara dan kebakaran di lapangan, bukan hanya dari satu indikator.
Palembang Masih Dikepung Sisa Asap
Herman mengatakan kondisi udara di Palembang tidak serta-merta membaik meski kebakaran di sejumlah wilayah mulai menurun.
Posisi geografis Palembang yang berada di wilayah cekungan disebut menjadi salah satu faktor yang membuat sisa asap bertahan lebih lama. Akibatnya, masyarakat di perkotaan masih dapat merasakan dampak kabut asap meskipun sumber kebakaran berada di daerah lain.
Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa penurunan titik panas belum otomatis berarti persoalan asap selesai. Jarak antara sumber kebakaran dengan pusat permukiman juga menjadi bagian penting dalam melihat dampak karhutla.
Baca Juga: Hotspot Sumsel Mendadak Turun Saat Prabowo Pimpin Rakor Karhutla, Benarkah Mulai Reda?
Sumsel Punya 1,2 Juta Hektare Lahan Gambut
Tantangan Sumsel semakin besar karena provinsi ini memiliki kawasan gambut yang luas. Herman Deru menyebut potensi lahan gambut di Sumsel mencapai sekitar 1,2 juta hektare. Kawasan tersebut tersebar di sejumlah wilayah, dengan konsentrasi terbesar berada di Ogan Komering Ilir (OKI) dan Musi Banyuasin (Muba).
Menurut Deru, sekitar 600 ribu hektare lahan gambut berada di OKI. Luasan tersebut disebutnya kurang lebih setara dengan luas Provinsi Bengkulu.
Sementara sekitar 600 ribu hektare lainnya berada di Musi Banyuasin.
Besarnya kawasan gambut membuat penanganan karhutla tidak cukup hanya mengandalkan pemadaman ketika api muncul. Pengelolaan air di lahan gambut menjadi persoalan penting karena kondisi gambut yang kering dapat membuat api sulit dipadamkan hingga ke lapisan bawah.
Deru juga menilai kesadaran masyarakat terhadap bahaya karhutla semakin meningkat.
Menurutnya, masyarakat kini lebih memahami risiko pembakaran lahan dan dampaknya terhadap lingkungan maupun kesehatan. Namun, pemerintah tetap membutuhkan dukungan berbagai pihak untuk mencegah kebakaran kembali meluas.
Pemprov Sumsel, kata Deru, juga telah menginstruksikan perusahaan agar bertanggung jawab terhadap kebakaran yang terjadi di wilayah konsesi masing-masing.
Artinya, penanganan karhutla tidak hanya dibebankan kepada pemerintah dan petugas pemadam. Perusahaan yang memiliki konsesi juga diminta memastikan wilayahnya tidak menjadi sumber kebakaran.
Minta Kanal hingga Sumur Bor
Salah satu persoalan yang menjadi perhatian pemerintah daerah adalah ketersediaan sumber air. Deru meminta penguatan kanal untuk menjaga kondisi lahan, khususnya kawasan gambut. Selain itu, Sumsel juga meminta dukungan peralatan pemadaman dari pemerintah pusat.
Dalam koordinasi bersama Presiden Prabowo, Sumsel mengusulkan dukungan water bombing untuk memperkuat pemadaman dari udara.
Menurut Deru, Sumsel biasanya mendapatkan dukungan hingga sembilan pesawat untuk penanganan karhutla. Dukungan tambahan dari pemerintah pusat dinilai diperlukan apabila kondisi kebakaran kembali meningkat.
Tidak hanya armada udara, Pemprov Sumsel juga mengusulkan pembangunan 500 sumur bor berikut mesin pendukungnya.
Kebutuhan tersebut berkaitan langsung dengan karakter lahan gambut. Ketika sumber air di permukaan terbatas, sumur bor dapat menjadi salah satu alternatif untuk mendukung pemadaman sekaligus menjaga kelembapan lahan.
Deru juga menyampaikan apresiasi terhadap kerja keras BNPB dalam membantu penanganan karhutla di Sumsel.
Menurut dia, dukungan pemerintah pusat melalui BNPB sudah maksimal. Namun, tantangan di lapangan tetap membutuhkan penguatan, terutama untuk wilayah dengan kawasan gambut luas.
Karena itu, permintaan terhadap water bombing, kanal, hingga sumur bor tidak hanya berkaitan dengan pemadaman kebakaran yang sedang berlangsung. Infrastruktur tersebut dibutuhkan untuk menghadapi potensi kebakaran berulang di kawasan gambut.
Dengan sekitar 1,2 juta hektare lahan gambut yang disebut menjadi potensi kawasan rawan, penanganan karhutla Sumsel tidak bisa hanya dilakukan ketika api sudah muncul.
Kanal, sumur bor, armada water bombing, pengawasan perusahaan, hingga kesadaran masyarakat menjadi bagian dari pekerjaan yang harus berjalan bersamaan.
Sebab, jika hotspot kembali meningkat sementara infrastruktur pengendalian air belum memadai, klaim bahwa karhutla telah menurun bisa saja hanya menjadi jeda sebelum persoalan kembali membesar.
Untuk saat ini, asap yang masih bertahan di Palembang menjadi pengingat bahwa turunnya hotspot belum otomatis berarti krisis karhutla benar-benar berakhir.
Tag
Berita Terkait
-
Hotspot Sumsel Mendadak Turun Saat Prabowo Pimpin Rakor Karhutla, Benarkah Mulai Reda?
-
Viral, Kawasan Lereng Gunung Jempol Lahat Terbakar
-
Prabowo ke Sumsel Cek Karhutla, Akankah Kembali Tanpa Masker di Tengah Kabut Asap?
-
Dear Mom, Kabut Asap Makin Pekat, Ini Tanda Anak Mulai Terdampak
-
Kabut Asap Palembang Makin Pekat, Kapan Sekolah Mulai Belajar dari Rumah?
Terpopuler
- Total Dana Korban Penipuan Tembus Rp811,1 Miliar, Sebanyak 702.833 Rekening Diblokir
- Media Inggris: FIFA ASEAN Cup Akal-akalan Infantino Pertahankan Posisi, Prabowo Kena Prank
- Arti Mimpi Ketemu Orang yang Sudah Meninggal tapi Tidak Bicara Menurut Primbon Jawa
- Aliran Minyak di Selat Hormuz Sudah Normal, Mengapa Harga BBM Masih Mahal?
- Selamat Tinggal Kevin Diks, Cabut Lebih Cepat dari Skuad Timnas Indonesia Usai Juara
Pilihan
-
Polri Gerebek Sarang Narkoba Kampung Boncos dan Ambon! Operasi Masih Berlangsung
-
Prabowo Mau Ganti Panglima TNI dan Jaksa Agung Pekan Ini, Tapi...
-
Polisi Dalami Dugaan Pemalsuan Suket Pendidikan Gibran
-
PDI Perjuangan: Gibran Lebih Baik Mundur dari Wapres
-
Satgas PKH Pamer Tumpukan Duit Rp13 Triliun Hasil Penyelamataan Keuangan Negara di Hadapan Prabowo
Terkini
-
Kabut Asap Palembang Ganggu Penerbangan, 15 Pesawat Terdampak saat Jarak Pandang 400 Meter
-
Wamen LH Minta Perusahaan Bangun Infrastruktur Air untuk Cegah Karhutla Sumsel
-
Wisuda ke-8 USS, 109 Lulusan Ditantang Bawa Dampak bagi Masyarakat dan Dunia Kerja
-
12 Perusahaan di Sumsel Disegel KLH Terkait Karhutla, Sampel Diuji untuk Tentukan Sanksi
-
Pemprov Sumsel Janji Pulihkan Lahan Bekas Karhutla dengan Bibit, Bagaimana Mekanismenya?