- Pantau Gambut mencatat 15.067 titik panas terjadi pada Juli 2026 di berbagai wilayah Indonesia.
- Paparan asap kebakaran hutan memicu gangguan kesehatan pernapasan serta menghambat aktivitas belajar anak-anak.
- Perempuan menanggung beban rumah tangga yang semakin berat akibat terbatasnya akses air dan pangan.
Pada saat yang sama, kualitas udara Palembang sempat berada dalam kategori tidak sehat. ISPU Palembang tercatat mencapai 123 pada 21 Agustus 2026.
Asap dari karhutla di wilayah sekitar dapat terbawa angin menuju wilayah perkotaan. Kondisi ini membuat dampak kebakaran tidak hanya dirasakan masyarakat yang tinggal dekat lokasi kebakaran.
Dinas Kesehatan Sumsel juga mencatat 259.297 kasus ISPA sepanjang Januari-Juni 2026. Meski angka tersebut tidak dapat secara langsung dikaitkan seluruhnya dengan karhutla, peningkatan risiko gangguan pernapasan menjadi perhatian ketika kualitas udara memburuk.
Krisis yang tidak berhenti ketika api padam
Dari Sumatera Selatan, Juru Kampanye Perkumpulan Rawang, Kartika Lestari, menilai krisis karhutla telah memperdalam ketidakadilan sosial dan gender. “Karhutla di Sumatera Selatan telah memperdalam ketidakadilan sosial dan gender,” ujar Kartika.
Perkumpulan Rawang mendesak pemerintah mengambil langkah cepat dengan memberikan perlindungan khusus, layanan kesehatan serta pemulihan ekonomi bagi perempuan dan anak di wilayah terdampak.
Sorotan tersebut menunjukkan bahwa penanganan karhutla tidak cukup hanya berfokus pada pemadaman api. Ada persoalan lain yang harus ditangani setelah kebakaran, yakni kesehatan masyarakat, keberlangsungan pendidikan anak, akses kebutuhan dasar dan pemulihan ekonomi keluarga.
Hotspot melonjak 549 persen
Pantau Gambut mencatat eskalasi titik panas pada Juli 2026 terjadi secara signifikan. Selain Kalimantan Barat dan Papua Selatan, Kalimantan Tengah mengalami lonjakan tajam.
Baca Juga: Sumsel Makin Membara, 449 Hotspot Karhutla Mengintai Kesehatan Pernapasan Warga
Wilayah tersebut sebelumnya relatif stabil di kisaran 200 titik panas per bulan sejak Januari 2026. Namun pada Juli, jumlahnya melonjak menjadi 2.821 titik panas.
Pantau Gambut menilai kondisi tersebut menunjukkan persoalan pengelolaan lahan dan perlindungan masyarakat yang belum terselesaikan. Organisasi tersebut juga mendesak pemerintah mengevaluasi izin konversi lahan gambut oleh korporasi skala besar.
Juru Kampanye Pantau Gambut Putra Saptian mengatakan perlindungan ekosistem gambut tidak seharusnya dikompromikan atas nama pembangunan. “Selama perlindungan gambut terus dinegosiasikan, krisis ini akan terus memakan korban,” ujarnya.
Bagi perempuan dan anak yang tinggal di wilayah terdampak, krisis karhutla bukan hanya persoalan ketika api terlihat. Dampaknya dapat berlanjut ketika asap masuk ke rumah, aktivitas anak terganggu dan perempuan harus menghadapi tambahan tanggung jawab untuk menjaga keluarga.
Karena itu, penanganan karhutla tidak hanya menyangkut seberapa cepat api dipadamkan, tetapi juga seberapa serius negara melindungi mereka yang paling rentan ketika bencana terjadi.
Tag
Berita Terkait
-
Sumsel Makin Membara, 449 Hotspot Karhutla Mengintai Kesehatan Pernapasan Warga
-
Musim Kemarau Ekstrem, Kilang Plaju Salurkan Bantuan Logistik untuk Petugas BPBD Sumsel
-
Rudiansyah Jadi 'Superman' Lawan Karhutla, Mengapa Kebakaran Hutan dan Lahan Terus Berulang?
-
Karhutla Sumsel Pecahkan Rekor 8 Tahun, Luas Terbakar Tembus 1.926 Hektare
-
Karhutla Sumsel Makin Sulit Dikendalikan, Hujan Buatan Terkendala Awan
Terpopuler
- Kinerja Tim Komunikasi Buruk, Prabowo Diingatkan Segera Reshuffle Seskab Teddy hingga Kapolri
- Ruben Onsu Jadi Tersangka Kasus Dugaan Penipuan, Bakal Dipanggil Polisi Minggu Depan
- 20 Kode Redeem FF Aktif 20 Agustus 2026: Klaim Item Langka dan Bundle Spesial
- Harga Serum Penghilang Flek Hitam yang Efektif dan Aman, Ini 5 Rekomendasi Produknya
- Warga Jogja Protes Desil Naik, Status Miskin Masuk Desil 9, Pemda DIY Minta BPS Klarifikasi
Pilihan
-
KPK Tangkap Rektor Unsoed Akhmad Sodiq Terkait Dugaan Suap Penerimaan Mahasiswa Baru
-
Geger Sekaten Solo: Keributan Pecah, Adu Dorong hingga Ada yang Dipukul di Bangsal Pagongan
-
Terputus Komunikasi Pasca Gempa, Mahasiswa NTT di Jogja Bergantung Bantuan Warga untuk Bertahan
-
Polwan Ditarik Mundur, Aksi BEM UI di Menara UOB Berujung Saling Dorong dengan Aparat
-
Gaji Manajer Kopdes Merah Putih Rp7,8 Juta per Bulan Viral, Benarkah Batal Rp16 Juta?
Terkini
-
Dari Panggung KKI 2026, Belasan UMKM Sumsel Membidik Pasar Nasional hingga Ekspor
-
Karhutla Sumsel Belum Terkendali, 8 Lokasi Masih Terbakar, Air Makin Menipis
-
Bayi 3 Bulan di OKU Terbaring di ICU, 11 Hari Setelah Diduga Dianiaya Ayah Kandung
-
Jangan Takut Gagal, Kisah Reski Menembus Pendidikan Tinggi Lewat BIDIKSIBA PTBA
-
Wajah Lain Krisis Karhutla: Anak Terpapar Asap, Perempuan Lebih Berat Merasakan Beban