- Pantau Gambut mencatat 15.067 titik panas terjadi pada Juli 2026 di berbagai wilayah Indonesia.
- Paparan asap kebakaran hutan memicu gangguan kesehatan pernapasan serta menghambat aktivitas belajar anak-anak.
- Perempuan menanggung beban rumah tangga yang semakin berat akibat terbatasnya akses air dan pangan.
SuaraSumsel.id - Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) tidak hanya meninggalkan lahan terbakar dan kabut asap. Di balik krisis ekologis tersebut, anak-anak dan perempuan menghadapi dampak yang lebih panjang, mulai dari risiko gangguan pernapasan hingga bertambahnya beban keluarga ketika kualitas udara memburuk.
Temuan Pantau Gambut menunjukkan 15.067 titik panas terdeteksi pada Juli 2026 atau melonjak 549 persen dibandingkan bulan sebelumnya. Kenaikan tersebut terjadi di sejumlah wilayah, dengan Kalimantan Barat mencatat 4.874 titik dan Papua Selatan 4.220 titik.
Perwakilan warga Merauke, Beatrix Gebze, mengatakan paparan asap berkepanjangan telah menjadi ancaman serius bagi anak-anak dan perempuan di wilayah terdampak. Kondisi tersebut diperburuk dengan sulitnya akses terhadap fasilitas kesehatan, air bersih dan pangan. “Karhutla di Papua Selatan bukan lagi sekadar krisis ekologis, melainkan ancaman langsung bagi keselamatan perempuan dan anak,” tegas Beatrix.
Menurut dia, paparan asap berkepanjangan dapat memicu ISPA pada anak-anak. Di sisi lain, keluarga harus menghadapi keterbatasan kebutuhan dasar ketika sumber daya alam yang menjadi penopang kehidupan ikut terdampak.
Anak menjadi kelompok rentan
Anak-anak menjadi salah satu kelompok yang paling rentan ketika kabut asap menyelimuti permukiman. Sistem pernapasan mereka yang masih berkembang membuat paparan udara tercemar menjadi persoalan yang perlu mendapat perhatian.
Krisis karhutla juga dapat mengganggu aktivitas anak. Ketika kualitas udara memburuk, kegiatan di luar rumah perlu dibatasi. Aktivitas sekolah, bermain dan kegiatan sosial anak pun dapat ikut terdampak.
Persoalan kesehatan tersebut kemudian berimbas kepada keluarga. Orang tua harus memberikan perhatian lebih ketika anak mengalami gangguan pernapasan, sementara akses terhadap layanan kesehatan tidak selalu mudah bagi masyarakat yang tinggal di wilayah terdampak.
Perempuan menghadapi beban berlapis
Baca Juga: Sumsel Makin Membara, 449 Hotspot Karhutla Mengintai Kesehatan Pernapasan Warga
Dampak karhutla juga dirasakan berbeda oleh perempuan. Ketika anggota keluarga mengalami gangguan kesehatan, perempuan kerap berada di posisi yang harus memastikan kebutuhan rumah tangga tetap berjalan. Dalam situasi ketika air bersih, pangan atau akses layanan kesehatan terbatas, beban tersebut dapat semakin berat.
Ketua Badan Eksekutif Komunitas Solidaritas Perempuan Mamut Menteng, Irene Natalia Lambung, menilai perempuan adat belum ditempatkan sebagai subjek yang setara dalam upaya mitigasi krisis iklim.
“Solusi yang ada sekadar cuci tangan dan membiarkan perempuan menanggung dampak krisis secara mandiri,” kata Irene.
Ia juga menyoroti belum adanya iktikad politik pemerintah untuk mengeksekusi putusan Citizen Law Suit (CLS) Gerakan Anti Asap (GAAS) yang telah dimenangkan warga sejak 2019.
Sumsel ikut menghadapi tekanan karhutla
Dampak karhutla terhadap perempuan dan anak juga relevan dengan kondisi Sumatera Selatan yang kini memasuki periode rawan kebakaran. Data BPBD Sumsel menunjukkan 449 hotspot terdeteksi pada 20 Agustus 2026. Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) menjadi wilayah dengan jumlah hotspot terbanyak, yakni 133 titik.
Tag
Berita Terkait
-
Sumsel Makin Membara, 449 Hotspot Karhutla Mengintai Kesehatan Pernapasan Warga
-
Musim Kemarau Ekstrem, Kilang Plaju Salurkan Bantuan Logistik untuk Petugas BPBD Sumsel
-
Rudiansyah Jadi 'Superman' Lawan Karhutla, Mengapa Kebakaran Hutan dan Lahan Terus Berulang?
-
Karhutla Sumsel Pecahkan Rekor 8 Tahun, Luas Terbakar Tembus 1.926 Hektare
-
Karhutla Sumsel Makin Sulit Dikendalikan, Hujan Buatan Terkendala Awan
Terpopuler
- 4 Bedak Tabur Waterproof yang Tidak Mudah Luntur Saat Hujan
- 3 Cara Cek BPJS Ketenagakerjaan Aktif atau Tidak Lewat HP, Tak Perlu ke Kantor
- Link Download Tema dan Logo HUT TNI 2026 Resmi dari Mabes TNI
- 3 Rekomendasi Sepatu Lokal Sol Empuk Aman untuk Hujan-hujanan, Anti Licin
- Bagaimana Cara Mengetahui Feng Shui Kita? Kenali Kua Number dan Cara Menghitungnya
Pilihan
-
Satgas PKH Pamer Tumpukan Duit Rp13 Triliun Hasil Penyelamataan Keuangan Negara di Hadapan Prabowo
-
Nama Puan Disebut Jadi Pengganti Gibran, Begini Respons Ketua DPR
-
Disaksikan Andi Gani dan Perwakilan Buruh, DPR Resmi Sahkan RUU Perlindungan Ketenagakerjaan Jadi UU
-
Kalapas Cibinong Dipecat dari ASN, Buntut Klaster Mewah dalam Penjara
-
Resmi, Syahganda Nainggolan Jadi Kepala Bakom RI Gantikan Muhammad Qodari
Terkini
-
Dari Subuh hingga Sore, Begini Perubahan Udara Palembang yang Masih Dikepung Asap
-
Gugatan Ijazah Gibran Segera Diputus MK, Prabowo Pilih Tak Ikut Campur
-
5 Pemain Sudah Cetak Gol, Sumsel United Incar Lini Depan Lebih Tajam Lawan Persiku
-
'Enjoy' di Tengah Kabut Asap, Pernyataan Ratu Dewa Bikin Publik Palembang Bereaksi
-
Agen BRILink Ria Irawan Topang Roda Ekonomi Berkat Aktif Jemput Bola Transaksi Warga