Tasmalinda
Minggu, 05 April 2026 | 14:27 WIB
Proses pengangkutan batu bara PT Bukit Asam Tbk
Baca 10 detik
  • Sepanjang 2025, PT Bukit Asam mencatatkan produksi batu bara 47,2 juta ton dan volume penjualan 45,4 juta ton.
  • Perusahaan mencetak laba bersih Rp2,93 triliun melalui efisiensi operasional dan perluasan pasar ekspor ke wilayah Eropa.
  • PTBA menargetkan peningkatan produksi dan penjualan sebesar 49,5 juta ton pada tahun 2026 melalui strategi efisiensi.

SuaraSumsel.id - Di tengah tekanan harga batu bara global yang terus melemah, PT Bukit Asam (Persero) Tbk (PTBA) justru menunjukkan daya tahan bisnis yang kuat. Sepanjang 2025, perusahaan anggota Grup MIND ID ini berhasil mencatatkan pertumbuhan produksi dan penjualan yang solid.

PTBA membukukan produksi batu bara sebesar 47,2 juta ton, naik 9% dibanding tahun sebelumnya. Sementara itu, volume penjualan turut meningkat 6% menjadi 45,4 juta ton, menegaskan permintaan yang tetap terjaga di tengah volatilitas pasar energi global.

Tak hanya itu, kinerja logistik juga ikut terdongkrak. Volume angkutan batu bara meningkat 6% menjadi 40,4 juta ton, dari sebelumnya 38,2 juta ton. Capaian ini menunjukkan konsistensi perusahaan dalam menjaga rantai pasok dari hulu hingga hilir.

Keberhasilan ini menjadi bukti strategi adaptif PTBA dalam menjaga keberlanjutan pasokan energi, baik untuk kebutuhan dalam negeri maupun pasar ekspor.

PTBA tetap menjadi tulang punggung ketahanan energi nasional dengan 54% penjualan dialokasikan ke pasar domestik. Di sisi lain, ekspansi global terus diperkuat dengan kontribusi ekspor mencapai 46%.

Selain mempertahankan pasar utama di Asia seperti Bangladesh, India, Vietnam, Korea Selatan, dan Filipina, PTBA juga sukses menembus pasar baru di Eropa, termasuk Spanyol dan Rumania—langkah strategis yang memperluas jangkauan bisnis di tengah kompetisi global.

Direktur Utama PTBA, Arsal Ismail, menegaskan bahwa tahun 2025 menjadi ujian sekaligus pembuktian ketahanan operasional perusahaan.

“Tahun 2025 adalah pembuktian resiliensi kami. Meski harga jual rata-rata terkoreksi akibat penurunan indeks Newcastle sebesar 22%, PTBA tetap mampu tumbuh melalui efisiensi operasional dan ekspansi pasar global,” ujarnya.

Di tengah tekanan harga, kinerja keuangan PTBA tetap terjaga. Perusahaan mencatatkan laba bersih Rp2,93 triliun dengan EBITDA Rp6,08 triliun.

Baca Juga: Harga Batu Bara Anjlok 22 Persen, PTBA Malah Tancap Gas, Ini Rahasia di Baliknya

Yang menarik, arus kas operasi justru melonjak signifikan sebesar 24% menjadi Rp6,26 triliun, menandakan fundamental bisnis yang tetap sehat dan kuat.

Total aset perusahaan juga meningkat menjadi Rp43,92 triliun, didorong oleh investasi strategis. Sepanjang 2025, PTBA merealisasikan belanja modal (CapEx) sebesar Rp4,55 triliun, yang difokuskan pada pengembangan infrastruktur jangka panjang, termasuk proyek angkutan batu bara Tanjung Enim–Kramasan.

Bidik 49,5 Juta Ton di 2026

Memasuki 2026, PTBA semakin optimistis setelah Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) disetujui tanpa pemangkasan volume produksi.

Perusahaan menargetkan produksi dan penjualan sebesar 49,5 juta ton pada tahun ini.

Strategi utama tetap bertumpu pada efisiensi melalui cost leadership, termasuk penerapan selective mining dan optimalisasi rantai pasok.

Load More