Tasmalinda
Rabu, 07 Januari 2026 | 11:10 WIB
ilustradi dokter PPDS Universitas Sriwijaya (Unsri)
Baca 10 detik
  • Dugaan praktik *bullying* senior kepada junior PPDS Universitas Sriwijaya muncul akibat tekanan psikologis serius.
  • Tekanan dialami junior diduga mencakup aspek verbal, psikologis, serta permintaan tanggung jawab finansial tidak relevan.
  • Kasus ini memicu desakan publik terhadap kampus untuk investigasi independen dan pernyataan resmi segera.

SuaraSumsel.id - Dugaan praktik bullying senior ke junior kembali mencuat di lingkungan Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) Universitas Sriwijaya. Kasus ini menyita perhatian publik setelah beredar informasi bahwa seorang residen junior diduga mengalami tekanan psikologis berat hingga sempat muncul niat untuk mengakhiri hidupnya.

Informasi tersebut beredar luas di media sosial. Narasi yang berkembang menyebutkan, perundungan diduga terjadi di salah satu program spesialis, dengan pola relasi senior dan junior yang timpang dan menekan.

Dugaan ini memantik reaksi keras karena menyentuh aspek kesehatan mental di dunia pendidikan kedokteran yang dikenal memiliki beban akademik dan kerja tinggi.

Sejumlah sumber menyebutkan, tekanan yang dialami junior PPDS bukan hanya bersifat verbal, tetapi juga psikologis dan finansial. Dalam beberapa pengakuan yang beredar, junior diduga diminta menanggung berbagai kebutuhan yang tidak berkaitan langsung dengan proses pendidikan, sehingga memperberat kondisi mental dan ekonomi mereka.

Dugaan perundungan ini disebut berdampak serius. Salah satu junior PPDS dikabarkan mengalami krisis psikologis hingga muncul pikiran untuk mengakhiri hidup. Informasi tersebut disampaikan sebagai laporan dari pihak terkait dan pengakuan yang beredar, dan hingga kini belum ada pernyataan resmi dari institusi yang memastikan detail kasus secara menyeluruh.

Kasus ini juga memicu reaksi luas dari warganet. Sorotan menguat setelah akun media sosial resmi salah satu program PPDS di Unsri disebut menutup kolom komentar, yang dinilai publik sebagai langkah tidak transparan di tengah tuntutan klarifikasi. Sejumlah pihak mendesak agar kampus membuka ruang dialog dan memberikan penjelasan resmi.

Dari sisi masyarakat sipil, desakan agar dilakukan investigasi independen terus menguat. Publik meminta agar dugaan bullying di lingkungan pendidikan dokter spesialis ditangani secara serius, transparan, dan berkeadilan—baik untuk melindungi korban maupun memastikan lingkungan akademik yang sehat.

Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi dari pihak Universitas Sriwijaya terkait dugaan perundungan tersebut. Publik menanti sikap institusi untuk melakukan penelusuran internal, memberikan pendampingan psikologis bagi pihak yang terdampak, serta memastikan bahwa proses pendidikan kedokteran berlangsung tanpa intimidasi.

Kasus ini menjadi pengingat bahwa budaya senioritas yang tidak sehat dapat membawa dampak serius, bahkan mengancam keselamatan mental peserta didik. Transparansi, pengawasan, dan keberpihakan pada keselamatan mahasiswa menjadi kunci agar dunia pendidikan—terutama di bidang kesehatan—tetap menjunjung nilai kemanusiaan dan profesionalisme.

Baca Juga: Inflasi Sumsel Naik Jelang 2026, Ini 8 Fakta yang Perlu Diwaspadai Warga

Catatan Redaksi: Jika Anda atau orang di sekitar mengalami tekanan psikologis berat, segera cari bantuan profesional atau hubungi layanan kesehatan terdekat. Anda tidak sendirian.

Load More