- Si Pahit Lidah, bernama Serunting Sakti dari Sumatera Selatan, dikenal karena kesaktian ucapannya yang dapat mengubah perkataan menjadi kenyataan.
- Dalam beberapa versi, ia bertindak sebagai pahlawan pembela keadilan yang mengutuk pelaku kejahatan menjadi wujud batu.
- Legenda ini menyoroti ambiguitas antara kepahlawanan dan penggunaan kekuatan berlebihan yang kurang terkontrol oleh emosi.
SuaraSumsel.id - Legenda Si Pahit Lidah telah lama menjadi bagian penting dari cerita rakyat Sumatera Selatan. Sosok bernama Serunting Sakti ini digambarkan memiliki kesaktian luar biasa yakni setiap kata yang diucapkannya dapat berubah menjadi kenyataan. Karena kekuatan lidahnya yang begitu dahsyat, masyarakat memberi julukan “Si Pahit Lidah”.
Namun kisah tentang Si Pahit Lidah tidak pernah tunggal. Dalam sebagian versi, ia dikenal sebagai pahlawan sakti yang berjuang melindungi rakyat kecil dari penindasan dan kejahatan.
Kesaktiannya dianggap sebagai alat untuk menegakkan keadilan. Ia mengutuk orang-orang licik, pengkhianat, dan pelaku kejahatan hingga berubah menjadi batu. Banyak warga percaya bahwa batu-batu besar yang tersebar di beberapa wilayah Sumatera Selatan merupakan sisa kutukannya.
Batu Gajah, Batu Lesung, Batu Timbangan, dan berbagai lanskap batu lainnya sampai hari ini masih disebut sebagai jejak tindakan Si Pahit Lidah menghukum mereka yang bertindak semena-mena.
Di sisi lain, legenda ini juga menyimpan gambaran kelam. Dalam beberapa cerita rakyat, Si Pahit Lidah disebut sebagai sosok yang mudah tersinggung dan emosional. Hanya karena kesal atau dipancing provokasi, kata-katanya bisa menjatuhkan kutukan besar. Hal ini memunculkan pertanyaan hingga kini, yakni apakah ia pahlawan yang menegakkan kebenaran, atau seorang sakti yang kehilangan kendali atas kekuatannya sendiri?
Kisah Si Pahit Lidah semakin menarik karena dikaitkan dengan tokoh lain bernama Si Mata Empat, yang digambarkan sebagai saudaranya sekaligus lawan terberat. Pertarungan antara keduanya menjadi bagian dramatis dari perjalanan legenda Sumsel.
Si Pahit Lidah bertarung dengan kekuatan ucapan yang mengutuk, sementara Si Mata Empat menggunakan kepekaan batin untuk melihat hal-hal yang tidak terlihat manusia biasa. Banyak lokasi di Sumsel dipercaya menjadi bekas medan pertempuran keduanya, sehingga legenda ini melekat kuat pada lanskap wilayah dan sejarah lisan masyarakat.
Keberadaan legenda ini tidak hanya berfungsi sebagai cerita hiburan, tetapi juga sebagai pengingat nilai moral yang disampaikan masyarakat masa lalu. Kisah ini menekankan bahwa kekuatan besar harus digunakan secara bijak. Ucapan dapat menjadi penyelamat, tetapi juga dapat menjadi bencana bila tidak dikendalikan dengan baik. Kesaktian yang tidak diimbangi pengelolaan emosi dapat merusak kehidupan diri sendiri maupun lingkungan.
Hingga hari ini, legenda Si Pahit Lidah masih hidup dan terus diceritakan. Banyak sekolah, sanggar budaya, komunitas wisata, hingga pemandu daerah menjadikan kisah ini sebagai bagian dari edukasi dan pelestarian budaya. Lokasi-lokasi yang dipercaya berkaitan dengan kisahnya terus menarik perhatian wisatawan lokal maupun luar daerah, khususnya mereka yang tertarik dengan cerita rakyat dan sejarah tradisional Sumsel.
Baca Juga: 5 Dampak Positif Kantor Baru Bank Sumsel Babel Muara Rupit untuk Pelaku Usaha dan Warga
Pertanyaan besarnya tetap menggantung hingga kini: Si Pahit Lidah, apakah ia pahlawan sakti yang menjaga kebenaran atau penyebar kutukan yang tidak mampu mengendalikan kekuatannya?
Jawabannya tergantung dari sudut pandang mana masyarakat melihatnya. Legenda ini bertahan selama ratusan tahun justru karena ia menyimpan ambiguitas, misteri, dan pesan moral yang tidak lekang oleh waktu.
Tag
Berita Terkait
-
5 Dampak Positif Kantor Baru Bank Sumsel Babel Muara Rupit untuk Pelaku Usaha dan Warga
-
Bank Sumsel Babel Resmikan Kantor Baru Muara Rupit, Dorong Ekonomi Muratara
-
Viral Murid SD di Palembang Kuras Banjir di Dalam Kelas Demi Bisa Belajar, Publik Ikut Prihatin
-
Cuaca Sumsel Hari Ini: Sore Diguyur Hujan, Malam Berpotensi Petir di Palembang dan Sekitarnya
-
5 Kontribusi Strategis Bank Sumsel Babel dalam Memperkuat UMKM di Kabupaten PALI
Terpopuler
- 7 HP Midrange Serasa Flagship 2026: Spesifikasi Premium dan Performa Juara
- 3 HP Android dengan Kualitas Kamera Selevel iPhone 17 Pro Max, Cocok untuk Bikin Konten
- 4 Sepatu Nike Tanpa Tali Serbaguna: Nyaman untuk Olahraga, Praktis buat Jalan Santai
- Danantara Sumberdaya Indonesia Batal Beroperasi Penuh, Pemerintah Mundurkan Skema Ekspor SDA di 2027
- Gugurkan Klaim Santriwati 'Hamil Tanpa Hubungan Badan', Polisi Tangkap Kiai di Pekalongan
Pilihan
-
Bos Nvidia Serobot Antrean Jagung Bakar dengan Traktir Semua Pembeli, Egois atau Dermawan?
-
BREAKING NEWS! Persija Resmi Tidak Perpanjang Kontrak Mauricio Souza
-
Eks Wamenaker Noel Ebenezer: Hukum Mati Saja Saya!
-
Staf Ahli Gubernur Kaltim Bawa-Bawa Status 'Cucu Nabi' demi Redam Demo Massa
-
Cara Buka Tabungan Pesirah Bank Sumsel Babel dari HP, Tak Perlu Antre di Bank
Terkini
-
Dekat Pabrik Pusri, Petani di Palembang Justru Mengeluh Pupuk Subsidi Sulit Didapat
-
Detik-detik Polisi di OKU Ditusuk saat Gerebek Bandar Narkoba, Operasi Berubah Mencekam
-
Sumsel Siapkan Lompatan Ekonomi Baru lewat Task Force Investasi
-
Bukan Sekadar Kurban, Kilang Pertamina Plaju Hadirkan Kepedulian dan Kebersamaan untuk Warga
-
Batas Waktu Takbiran Idul Adha 2026, Sampai Kapan Takbir Masih Disunnahkan?