-
Kasus bullying pelajar di Muratara diselesaikan dengan prosesi adat tepung tawar.
-
Video perundungan viral di media sosial dan membuat publik geram.
-
Banyak pihak menilai penyelesaian adat tidak memberikan efek jera bagi pelaku.
SuaraSumsel.id - Publik dibuat heran sekaligus geram. Di tengah maraknya kampanye anti-bullying di sekolah, kasus perundungan pelajar di Kabupaten Musi Rawas Utara (Muratara) justru diselesaikan dengan prosesi adat tepung tawar.
Langkah ini langsung menuai sorotan setelah video perundungan berdurasi empat menit tersebar luas di media sosial dan memperlihatkan korban menangis ketakutan sementara pelaku justru tertawa.
Peristiwa yang terjadi di SMP Negeri Karang Jaya itu semula diselesaikan secara kekeluargaan oleh pihak sekolah dan keluarga kedua siswa. Namun, keputusan berdamai lewat ritual adat membuat banyak pihak mempertanyakan: apakah keadilan bisa ditegakkan hanya dengan simbol tepung.
Kini, Dinas Pendidikan Muratara memastikan akan meninjau ulang prosedur penyelesaian kasus kekerasan di sekolah agar tradisi dan hukum bisa berjalan seimbang tanpa mengorbankan rasa keadilan bagi korban.
Peristiwa itu terjadi pada Rabu, 15 Oktober 2025, di SMP Negeri Karang Jaya.
Korban berinisial CR (15), siswa kelas IX.4 asal Desa Embacang Baru Ilir, menjadi korban perundungan oleh HR (14), siswa kelas VIII.5 dari Karang Jaya.
Korban tanpa sengaja mengirimkan stiker ke pelaku lalu menghapusnya. Pelaku tersinggung, lalu keesokan harinya mengajak korban pulang bersama dan berhenti di jalan. Saat itulah terjadi aksi pemukulan dan perundungan yang direkam oleh teman pelaku.
Video tersebut kemudian viral di TikTok dan Facebook pada Kamis malam, 16 Oktober 2025, dengan tagar #KeadilanUntukCR.
Warganet mengecam tindakan pelaku dan mempertanyakan sikap sekolah.
Sehari setelah kejadian, pihak sekolah memanggil kedua keluarga — korban dan pelaku — untuk melakukan mediasi di sekolah. Pertemuan itu berakhir dengan prosesi adat tepung tawar, sebuah ritual tradisional di Sumatera Selatan yang biasanya digunakan untuk mendamaikan pihak-pihak yang berselisih.
Kedua keluarga sepakat berdamai, dan pelaku meminta maaf kepada korban di hadapan guru serta tokoh masyarakat.
Baca Juga: Tangis Korban Belum Kering, Kasus Bullying di Muratara Justru Diselesaikan dengan Tepung Tawar
Namun, publik justru geram dan menilai penyelesaian seperti itu tidak menimbulkan efek jera.
“Bullying bukan perkara salah paham biasa. Ada korban yang trauma, jadi harusnya ditangani secara serius,” tulis salah satu pengguna TikTok di kolom komentar.
Tepung tawar adalah tradisi lama masyarakat Melayu dan Sumatera Selatan yang berfungsi sebagai simbol penyucian, pembersihan hati, dan penolak bala.
Biasanya, prosesi ini dilakukan dalam acara pernikahan, syukuran, hingga perdamaian sosial antarwarga.
Dalam praktiknya, orang yang ingin “didamaikan” akan diperciki air beras (tepung tawar) sambil dibacakan doa oleh tokoh adat.
Tujuannya adalah untuk menenangkan hati, menghapus dendam, dan memperkuat tali silaturahmi.
“Adat tepung tawar itu filosofi luhur, tapi konteksnya harus tepat. Kalau dipakai untuk kekerasan di sekolah, itu bisa disalahartikan,” ujar Dr. Rini Yustika, antropolog dari Universitas Sriwijaya.
Bagi banyak warga, menyelesaikan kasus bullying dengan ritual adat dianggap kurang tepat karena menyangkut aspek hukum dan perlindungan anak.
Mereka khawatir penyelesaian seperti ini justru menormalisasi kekerasan di lingkungan sekolah.
“Kalau setiap kasus kekerasan diselesaikan dengan tepung tawar, pelaku tidak akan belajar bahwa tindakannya salah secara hukum,” kata Sinta Dewi, aktivis pendidikan Muratara.
Selain itu, penyelesaian semacam ini bisa membuat korban merasa tidak mendapat keadilan.
Meski permintaan maaf dilakukan secara adat, trauma psikis korban tetap melekat.
Berita Terkait
-
Tangis Korban Belum Kering, Kasus Bullying di Muratara Justru Diselesaikan dengan Tepung Tawar
-
Gara-Gara Salah Kirim Stiker WhatsApp, Siswa SMP di Muratara Dirundung Teman Sekelas
-
Ketika Tawa Menjadi Luka: Kisah di Balik Video Bullying Siswi SMP di Muratara yang Viral
-
Viral Mahasiswa UNSRI Lecehkan Pacar Teman Sendiri dengan Alasan Antar Galon ke Kos
-
Viral Ekspresi Ketua Komisi III DPRD Gorut: Bukan Cibir, Aku Cuma Salah Paham
Terpopuler
- 5 Moisturizer yang Cocok untuk Kulit Kering dan Kusam di Usia 40 Tahun ke Atas
- 4 HP Kamera 200 MP Under Rp5 Juta untuk Foto dan Video Kualitas Tinggi
- 5 Lipstik Wardah yang Tahan Lama Saat Hujan dan Tidak Mudah Luntur Saat Makan
- 3 Sepatu Lari Lokal untuk Full Marathon, Ini Spesifikasi dan Harganya
- Sering Dijual Lebih Murah, Apakah Sepatu di Sports Station Ori?
Pilihan
-
Resmi, MA Putuskan Suket Penyetaraan Ijazah Gibran Tidak Sah
-
Kembangkan AURA, Suara.com Raih AMSI Awards 2026 di Bidang Inovasi Produk dan Pemanfaatan AI
-
Salib Merah Besar ala Film 'Pesta Babi' Hiasi Demo Mahasiswa di Dukuh Atas, Ini Maknanya
-
Tertahan di Gedung UOB, Ketegangan Pecah Saat Mahasiswa Ngotot Tembus Bundaran HI
-
Lepas Jaket Almamater, Mahasiswa Melebur dalam Aksi di Bundaran HI
Terkini
-
Mantan Ketua DPR RI Marzuki Alie Minta Dialog soal Tunggakan PBB IGM Rp2,33 Miliar
-
Sumsel United Kalah 0-1 dari Semen Padang, Gol Menit Akhir Buyarkan Asa Laskar Juaro Raih Poin
-
Kasus Polisi Diduga Bunuh Ibu Kandung di Siak, Riwayat Skizofrenia Terungkap, Kompolnas Turun Tangan
-
22,4 Juta Batang Rokok Ilegal Disita di Sumsel dan Sekitarnya, Mengapa Peredaran Sulit Diberantas?
-
Dua Kali Kebakaran di Konsesi Sawit OKI, Ini Profil PT Ricky Agrindo Sejahtera yang Disidik Polisi