Tasmalinda
Senin, 06 Oktober 2025 | 16:58 WIB
parfum Genderless.
Baca 10 detik
  • Dunia parfum kini memasuki era baru di mana aroma tidak lagi dibatasi oleh label pria atau wanita.

  • Pergeseran menuju parfum genderless dipicu oleh cara pandang Gen Z, kejenuhan terhadap stereotip, dan kekuatan komunitas digital.

  • Parfum genderless menggabungkan aroma maskulin dan feminin menjadi wangi yang netral dan personal.

SuaraSumsel.id - Coba perhatikan lorong parfum di department store mana pun. Selama puluhan tahun, pemandangannya selalu sama yakni satu sisi dihiasi botol-botol ramping berwarna pink dengan aroma bunga dan buah, diberi label 'For Her'.

Sisi lainnya dipenuhi botol-botol gelap berbentuk tegas dengan aroma kayu dan rempah, diberi label 'For Him'. Sebuah pemisahan yang kaku, seolah tak bisa diganggu gugat. Tapi kini, tembok pemisah itu mulai retak dan runtuh.

Mereka tidak lagi bertanya, "Apakah ini parfum untuk pria atau wanita?". Mereka bertanya, "Apakah aku suka wangi ini?". Selamat datang di era parfum genderless. Ini bukan lagi sekadar tren *niche*, melainkan sebuah pergeseran fundamental dalam cara kita memandang identitas dan aroma.

Batasan yang dulu jelas kini menjadi kabur. Tapi, mengapa?

Ilustrasi parfum wanita yang cocok dipakai kencan bareng pacar. [google ai studio]

Di Balik Kaburnya Batasan: 4 Pilar Revolusi Wangi

Runtuhnya stereotip gender dalam parfum bukanlah kebetulan. Ini didorong oleh empat kekuatan budaya yang kuat.

1. Fluiditas Identitas Gen Z

Penyebab utamanya adalah cara Gen Z memandang dunia. Bagi mereka, gender bukanlah sebuah kotak biner yang kaku, melainkan sebuah spektrum yang cair. Mereka merayakan ekspresi diri yang otentik di atas segalanya. Jika mereka bisa memakai pakaian *oversized* yang *gender-fluid*, mengapa parfum mereka harus terikat pada aturan usang? Parfum kini menjadi perpanjangan dari identitas personal, bukan penanda gender.

2. Bangkitnya Seni Parfum 'Niche'

Baca Juga: Wangi Pelukan! 5 Parfum Hangat Ini Bikin Nyaman Saat Musim Hujan

Rumah parfum *niche* (seperti Le Labo, Byredo, atau Diptyque) telah menjadi pemain utama dalam perubahan ini. Tidak seperti merek desainer massal, mereka tidak menjual parfum berdasarkan target pasar pria/wanita.

Mereka menjual **seni, cerita, dan pengalaman olfaktori**. Fokusnya adalah pada keunikan bahan baku dan visi sang *perfumer*. Mereka merilis aroma "Oud & Rose" atau "Santal & Cardamom" dan membiarkan konsumen yang memutuskan siapa yang pantas memakainya.

3. Kejenuhan Terhadap Marketing Stereotip** Audiens modern, terutama Gen Z, sangat cerdas dan kritis terhadap iklan. Mereka lelah dengan marketing yang mengatakan "wanita harus wangi bunga agar feminin" atau "pria harus wangi kayu agar maskulin".

Stereotip ini terasa kuno dan tidak relevan. Mereka lebih menghargai merek yang jujur, transparan, dan fokus pada kualitas produknya, bukan pada label gender yang dipaksakan.

4. Kekuatan Komunitas Digital

Platform seperti TikTok, YouTube, dan forum Fragrantica telah menjadi ruang di mana batasan ini dihancurkan setiap hari. Kamu bisa menemukan pria yang dengan antusias me-review parfum mawar, atau wanita yang menjadikan parfum aroma tembakau sebagai *signature scent*-nya.

Komunitas digital menormalisasi ide bahwa semua aroma adalah netral. Yang terpenting adalah bagaimana aroma itu bereaksi di kulitmu dan bagaimana perasaanmu saat memakainya.

Seperti Apa Sebenarnya Aroma Parfum 'Genderless'?

Parfum *genderless* biasanya bermain di "zona abu-abu" yang menarik, menggabungkan elemen yang secara tradisional dianggap maskulin dan feminin.

Ilustrasi parfum Indomaret. (Pexels)

Ciri khasnya antara lain:

Aroma Citrus yang Kompleks:Bukan sekadar lemon, tapi *bergamot* yang pahit atau *yuzu* yang tajam.

Nuansa Hijau (Green Notes): Aroma daun ara (*fig*), teh, atau rumput basah yang segar dan *earthy*.

Kayu yang Lembut: Bukan kayu yang berat dan menusuk, melainkan *sandalwood* yang *creamy* atau *cedarwood* yang bersih.

Bunga yang Tak Terduga: Bukan buket bunga yang manis, tapi bunga yang 'kotor' seperti iris, atau bunga putih seperti melati yang dipadukan dengan rempah.

Aroma Bersih (Clean Notes): Seperti *musk* yang lembut atau *ambroxan* yang hangat, menciptakan wangi "kulit alami yang lebih baik".

Contoh Ikonik: Calvin Klein CK One (sang pelopor), Le Labo Santal 33, Jo Malone Wood Sage & Sea Salt, HMNS Ambrette of The Spirits (lokal).

Wangi Adalah Pilihan, Bukan Label

Kaburnya batasan gender dalam dunia parfum adalah cerminan dari pergeseran sosial yang lebih besar. Ini adalah kemenangan ekspresi diri di atas ekspektasi sosial.

Momen di mana kita berhenti membiarkan botol mendikte identitas kita, dan sebaliknya, kita menggunakan aroma untuk menceritakan siapa diri kita sebenarnya.

Jadi, lain kali kamu berada di konter parfum, lupakan label 'For Him' atau 'For Her'. Ikuti hidungmu, dan temukan aroma yang membuatmu merasa paling otentik.

Load More